Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #4

Bab 04 - Klub Sastra

Ruangan klub sastra terletak di lantai lima, menghadap langsung ke taman kecil di belakang gedung sekolah. Dindingnya dihiasi rak berisi buku-buku klasik, poster kutipan dari penulis legendaris, dan coretan-coretan puisi siswa yang dipajang dengan pin warna-warni. Udara di ruangan itu tenang, seperti ruang meditasi bagi para pemuja kata.

Adrian duduk di pojok ruangan, membolak-balik buku tulisnya, sembari sesekali melirik teman-teman klubnya yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Fera dan Tania tengah berdebat soal penggunaan metafora dalam puisi modern. Andi, si pendiam berkacamata, sibuk mengetik entah apa di laptopnya. Alfa dan Rezki malah ribut soal siapa yang menulis lebih banyak cerpen bulan ini. Lalu, di antara mereka, duduklah Sinta—Presiden Klub Sastra—yang dikenal karena ketegasan dan keindahan gaya penulisannya. Siswa kelas sebelas itu tengah menulis sesuatu dengan ekspresi serius, tetapi telinganya tetap waspada menyimak suara-suara sekeliling.

“Ada yang udah baca cerpennya Mahanta yang dipajang di mading minggu lalu?” tanya Rezki sambil nyengir.

Tania langsung menyambar, “Gila itu cerpen, terutama puisinya. Bikin merinding.”

“Yang soal kejujuran itu?” Alfa menimpali. “Iya sih, dalem banget. Tapi gue denger ada yang beneran jadi jujur karena baca itu.”

“Mitosnya sih gitu.” Fera ikut menimpali. “Kalau lo baca karya Mahanta sampe bener-bener nyelam maknanya, katanya bisa bikin lo berubah. Kayak kena hipnotis halus gitu.”

“Apalagi kalau kalimatnya berbau aib,” timpal Tania menambahkan. “sumpah, gue sampe mikir dua kali mau baca ulang. Gue takut tiba-tiba pengin buka-bukaan sama mantan!”

Ruangan seketika riuh dengan tawa dan komentar bercampur was-was. Andi hanya tersenyum tipis, sementara Sinta menghentikan kegiatannya dan menatap mereka.

“Kalau kalian percaya atau enggak soal ‘efek Mahanta’, itu urusan kalian. Tapi yang pasti, tulisan punya kekuatan. Kita nggak bisa sembarangan nulis, apalagi kalau niatnya ngarah ke personal orang lain. Kalian harus bisa bedakan antara provokatif dan reflektif.”

Semua terdiam sejenak.

Adrian menyimak obrolan itu sambil menghela napas pelan. Rasanya seperti dilempar pelan-pelan ke dalam cermin. Nama Mahanta memang belum ada yang tahu itu dirinya. Namun, desas-desus itu—tentang puisinya yang bisa mengubah orang—mulai terasa mengganggu. Ia bahkan sempat berpikir untuk berhenti menulis puisi semacam itu.

“Apakah semua tulisan harus punya konsekuensi?” pikirnya. “Kalau iya … sang Penulis harus bertanggung jawab, kan?”

Sejak kejadian Rini, Adrian mulai membatasi jenis karyanya. Ia mencoba menulis yang ringan-ringan. Tema puisi tentang hujan, cerpen tentang pohon tua, dan narasi filosofis yang lebih netral. Ia tidak ingin tulisannya kembali menimbulkan kegaduhan. Tidak ingin dianggap sebagai dalang dari keributan atau drama sekolah.

Akan tetapi, ada yang tidak bisa ia hindari.

Hasrat itu—keinginan untuk menyisipkan makna yang dalam, untuk menggoyahkan keyakinan pembaca—masih hidup di dalam dirinya. Seberapa keras ia mencoba menjinakkannya, jari-jarinya selalu kembali menulis dengan cara yang sama.

Mahanta tidak bisa mati. Ia hanya tidur sebentar, menunggu waktu untuk menulis kembali.

Beberapa hari setelah percakapan di ruang klub, Adrian kembali menekuni lembar-lembar tulisannya. Kali ini, ia menulis bukan untuk menggugah dengan cara mengguncang, melainkan menyentuh tanpa perlu membongkar apa yang mestinya tetap tersembunyi.

Membaca memperluas cakrawala, menajamkan daya nalar. Jika kau ingin bicara dengan lancar, mulailah dari membaca yang benar.

Kalimat itu ia tulis ketika sela-sela jam kosong di perpustakaan. Rasanya berbeda dari tulisan sebelumnya. Lebih tenang, lebih lurus, tetapi tetap memiliki denyut dalam maknanya.

Ia pun mulai bereksperimen. Satu per satu kutipan dan paragraf ia uji, membacakannya diam-diam pada teman sekelas. Kali ini bukan untuk menantang kebenaran pribadi mereka, melainkan untuk membangun cara berpikir yang sehat. Seperti pada Nugi, si Pendiam yang jarang bertanya di kelas.

Adrian menyodorkan tulisan pendek tentang keberanian bertanya. Untuk menambah rasa percaya diri pada Nugi, ia sentuh bahu dan memberi kesan bahwa keberanian bertanya itu hal yang bagus.

Lihat selengkapnya