Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #5

Bab 05 - Kuasa Kata

Pagi itu alarm di kamar 307 berbunyi nyaring. Namun, Adrian sudah lebih dulu terjaga. Kantuk masih menggantung di pelupuk matanya, sisa dari malam panjang yang dilalui dengan memikirkan banyak hal, tentang karya tulis, tentang kekuatan kata, dan sedikit tentang kemungkinan-kemungkinan yang tidak bisa ia jelaskan secara logis. Ditambah dengan kejahilan Arman semalam.

Biasanya, Arman yang lebih dulu bangun. Namun, hari ini berbeda. Adrian yang pertama kali melangkah ke kamar mandi, membiarkan suara air menghapus sisa-sisa kantuknya. Setelah selesai, ia keluar dengan handuk melilit leher dan menyisir rambutnya yang masih basah.

Ia menatap tempat tidur sebelah. Arman masih terlelap, berselimut hingga dada dan hanya kaos oblong tipis yang membungkus badannya. Adrian menyeringai kecil. Semalam padahal paranoid dan ketakutan, tetapi masih juga belum kapok mengusili Arman. Tanpa ragu, ia menarik selimut itu sampai lepas sepenuhnya. “Woy, bangun! Udah mau telat loh!” serunya sambil tertawa pelan.

Arman menggeram kecil, lalu membuka sebelah mata. “Gua masih ngantuk anjir!”

“Pembalasan kemarin malam!” Adrian menyeringai kecil, mimik wajahnya mengesalkan Arman karena tahu ini manusia absurd pasti niat balas dendam kemarin malam.

“Ah, sial …!” Arman bangkit, tubuhnya masih terlihat lelah tetapi tetap tegap, lalu melangkah malas ke kamar mandi sambil menggaruk kepala. “Lo duluan mandi aja tuh langka. Jangan-jangan ... punya gebetan, ya?”

“Wah gila, asal nebak lo. Yang ada juga gue susah tidur mikirin tulisan gue yang baru sama kelakuan kemaren malem lu tuh, kampret!” jawab Adrian santai, melempar handuk ke kursinya.

Arman balik menyeringai kecil. Menunjukkan ia senang karena kejahilannya semalam berhasil. “Gue mandi dulu.”

Hari itu seperti biasa mereka masuk sekolah tepat waktu. Sesekali Adrian menahan kantuk hingga jam istirahat tiba. Seperti biasa lapangan sekolah dipenuhi riuh suara siswa. Beberapa kelas sudah selesai jam pelajaran, sebagian lagi masih menunggu giliran. Di tengah lapangan, beberapa siswa bermain basket untuk habiskan sisa-sia jam istirahat.

Di tengah lapangan, Arman menjadi pusat perhatian.

Tubuhnya yang tegap dan pergerakannya yang lincah mengundang sorakan dari para siswi yang menonton. Kemeja seragamnya sudah dilipat dan digantung di pagar pinggir lapangan, menyisakan kaus dalam yang sedikit lembap oleh keringat. Namun, saat Arman mulai melepas kausnya juga—hanya mengenakan singlet basket tipis—suasana makin gemuruh.

“Heh, tuh si Arman makin gila aja. Mainnya gaya banget,” ujar salah satu siswi di sisi Adrian.

Adrian, yang duduk santai di bangku panjang dekat lapangan, hanya tersenyum tipis. Di sebelahnya, dua siswi tampak tengah asyik mengobrol. Salah satunya ia kenal bernama Anna, siswi dari kelas 10 di ruang A4.

“Eh, Marni, tau gak sih ... tuh cowok beneran tipe gue banget,” ucap Anna sambil memeluk lututnya. “Ganteng, pinter main basket, tinggi pula. Udah deh, paket lengkap.”

“Wah, berani ngedeketin gak, lo?” goda temannya, Marni.

Anna tertawa. “Liat-liat dulu. Tapi sumpah ya, kalo Arman ngajak ngobrol, bisa gue jawab ‘iya’ duluan sebelum ditanya.”

Adrian nyaris tertawa, tetapi ia hanya menghela napas pelan. Dalam hatinya, ia merasa aneh dan ingin tahu sesuatu: bisakah kata-kata menandingi pesona fisik dan bakat seperti itu? Sesuatu yang Arman punya secara alami. Apakah bisa ditandingi oleh kuasa dari sebuah tulisan?

Ia memandang lapangan sekali lagi, lalu membuka buku catatannya dan menulis pelan:

Lihat selengkapnya