Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #6

Bab 06 - Ujian Mid-Semester

Tidak terasa, enam bulan sudah berlalu sejak Adrian pertama kali menginjakkan kaki di Veridian High School. Semua terasa cepat, seolah-olah waktu dipacu oleh jadwal pelajaran, rapat klub, tugas-tugas yang datang silih berganti, dan tentu saja rasa penasaran yang terus menghantui pikirannya tentang tulisan-tulisannya yang ‘aneh’ itu.

Akan tetapi, untuk sementara waktu, Adrian memilih menepi sejenak dari rasa penasarannya. Kini saatnya fokus. Ujian pertengahan semester sudah di depan mata, dan meski tidak sepintar Arman, ia tidak ingin nilainya jeblok.

Sore itu, kamar 307 disulap jadi ruang belajar dadakan. Di atas meja, berserakan buku, kertas soal tahun lalu, dan dua gelas kopi instan yang tinggal setengah.

“Yan, coba liat nomor lima,” ujar Arman, menunjuk soal di bukunya. “Lu salah narik rumus di sini.”

Adrian memicingkan mata. “Yah, ribet amat sih ... ini tuh kayak jebakan. Gue kira rumusnya sama kayak soal sebelumnya.”

“Makanya, teliti. Ini soalnya ngibulin. Tapi masih satu konsep, sih.”

Adrian mengangguk, lalu merapikan tulisannya. “Untung lu ngajarin gue, Man. Gue belajar sendiri mah kayak jalan di lorong gelap.”

Arman nyengir. “Tenang, gue kan sahabat lo.”

Suasana belajar mendadak melunak ketika keduanya diam sejenak. Hanya suara angin dari ventilasi yang terdengar. Lalu, Adrian bersandar sambil menatap langit-langit.

“Eh, abis ujian kan libur seminggu ya. Lu balik ke rumah?” tanya Adrian tetapi mata dan tangan fokus pada buku latihan yang tengah dikerjakan.

“Baliklah. Tiga hari di rumah dulu, pengen ketemu bokap-nyokap di Mansoli, terus sisanya balik ke sini lagi.”

“Ngapain balik lagi ke sini?” tanya Adrian, heran.

Arman menaikkan alis. “Mau kencan lah sama Anna. Lah, masa libur-libur malah jauh-jauhan?”

Adrian tertawa kecil. “Ya, juga sih. Ciee ... cowok sayang pacar.”

“Lah, lu sendiri ngapain liburan?”

Adrian mengangkat bahu. “Pulang juga, sih. Tapi ... nggak tau deh bakal berapa hari. Tergantung mood, situasi, sama ... atmosfer alam semesta.”

Arman geleng-geleng kepala sambil tertawa. “Buset, jawaban apaan tuh. Kayak kalimat di buku lo.”

Adrian hanya tertawa kecil, kemudian kembali menatap buku di depannya. Meski ujian bikin pusing, ia tahu ... ada bagian dari dirinya yang masih menunggu waktu untuk menyelami kembali misteri tulisan-tulisan ‘ajaib’-nya. Namun, bukan sekarang karena ia cuma ingin naikin nilai ujian terlebih dahulu.

Hari ujian pun tiba.

Suasana Veridian High School berubah drastis. Koridor-koridor yang biasanya ramai oleh tawa dan canda kini sunyi, hanya diisi suara sepatu tergesa dan helaan napas panjang para murid. Di dalam kelas, ketegangan menebar bagai kabut tipis yang tak terlihat namun terasa menyesakkan.

Adrian duduk di bangkunya, menghela napas dalam. Di hadapannya, lembar soal Matematika terbuka. Pensil 2B telah diasah sempurna, penghapus pun sudah siap. Ia melirik ke kanan, melihat Arman yang duduk dua bangku jauhnya, tampak santai dan sudah mulai mengisi beberapa nomor. Bahkan tanpa alis mengernyit.

Lihat selengkapnya