Adrian berdiri di depan gerbang Veridian High School, mengenakan jaket abu-abu tipis dan membawa tas punggung hitam yang terlihat berat. Di dalamnya, selain pakaian ganti dan perlengkapan pribadi, tersimpan juga buku-buku dan catatan-catatan kecil yang selalu ia bawa ke mana pun.
Arman dan Anna berdiri di sisi kanan dan kirinya, mengiringi langkah Adrian menuju halte depan sekolah.
"Lu yakin nggak mau nunggu sampai siang? Kita bisa makan dulu, bareng," tawar Anna sambil menyentuh sedikit lengan jaket Adrian.
Adrian tersenyum tipis. "Nanti malah susah dapat bangku. Gue takut bus penuh kalau siang."
"Ya udah, titip salam buat emak lu, ya," kata Arman, menepuk punggungnya. "Kalau bisa pulang bawa tulisan baru, bukan tugas remedial."
Mereka tertawa kecil. Tidak lama kemudian, suara klakson bus antar-kota menggema. Bus menuju Sakalima berhenti dengan derak rem yang khas. Adrian menatap keduanya sejenak sebelum naik.
"Jaga sekolah ya," ucapnya sambil menyeringai. "Kalau ada yang nempel puisi Mahanta di mading, jangan langsung nyalahin gue."
"Deal," jawab Arman.
Adrian melangkah naik, dan bus perlahan meninggalkan terminal. Ia memilih duduk di dekat jendela, merapatkan jaket, lalu bersandar sambil menatap jalanan kota yang makin lama makin jauh tertinggal di belakang.
Setelah duduk, ia kembali merenung dengan persitiwa satu tahun yang lalu, ketika terjadi perdebatan antara ibu dan kakak-kakaknya perihal akan bersekolah di mana.
Hujan turun rintik-rintik di sore hari di rumah kecil milik keluarga Adrian di pinggiran Kota Sakalima. Rumah itu tidak mewah, tetapi cukup hangat untuk keluarga besar. Di ruang tengah, suara televisi menyala pelan. Ayahnya duduk diam di kursi rotan, tidak banyak bicara. Di dapur, ibunya masih sibuk dengan masakan sore.
Adrian duduk di karpet, menghadap ibunya dan ketiga kakaknya yaitu Fandi, Randy, dan Vanesha. Di antara mereka, hanya ibunya yang terlihat bersungguh-sungguh membahas masa depan sang bungsu.
“Veridian High School itu bagus, Ma,” ujar Fandi, sang kakak sulung. “Tapi itu bukan sekolah biasa. Biayanya juga gak main-main.”
Sophia, istri Fandi, duduk di sebelah suaminya, sesekali mencatat di ponsel.
“Kalau Adrian bisa lolos, kita pikirin deh bareng-bareng,” timpal Randy. “Tapi lo yakin, Yan? Mau daftar di sana?”
Adrian hanya diam, jari-jarinya meremas ujung celana training yang ia kenakan.
Vanesha menyisipkan, “Mungkin sekolah swasta di Sakalima aja dulu? Yang lebih terjangkau?”
Ibunya langsung memotong. “Enggak. Ibu mau Adrian coba yang terbaik dulu. Sekali seumur hidup, kan. Kalau gagal, ya udah ... kita cari alternatif. Tapi setidaknya, dia pernah coba.”