Hari-hari pertama liburan berjalan pelan, tenang, dan penuh kehangatan yang tidak didapat Adrian di asrama. Meski udara di Senanjung Timur kadang lembab dan gerah, suasana rumah yang ramai oleh suara ayam dan seruputan teh membuat segalanya terasa hidup.
Pagi itu, Adrian duduk di ruang tengah sambil melipat kaki di atas tikar. Vanesha sedang menyapu lantai, sesekali melirik adiknya yang asyik menulis sesuatu di buku catatannya.
“Ngapain sih libur-libur masih aja nulis? Lu pikir libur juga ada nilai tugas?” goda Vanesha.
“Bukan tugas, Kak. Cuma catatan biasa,” jawab Adrian santai.
“Oh ya, cerita dong tentang sekolah. Lu belum banyak cerita. Ada temen deket nggak? Atau gebetan?”
Adrian mengangkat wajah. “Temen ada, satu kamar malah. Namanya Arman. Dia jago basket, pinter juga. Sekarang udah punya pacar, anak kelas kita juga namanya Anna.”
“Oalah, anak SMA sekarang mah cepet amat pacaran,” timpal Vanesha, nyengir sambil melipat sapu lidi.
“Arman doang sih. Gua mah … masih mikir, siapa juga yang mau sama gua yang minus di mana-mana.”
Vanesha terkekeh. “Nih anak. Masih muda kok udah minder. Lu punya hal yang orang lain belum tentu punya, tau? Tuh buku catetan yang lu bawa kemana-mana aja bukti lu beda.”
Adrian cuma nyengir kecil. Ia tahu kakaknya itu kadang suka nyebelin, tetapi juga selalu jadi orang pertama yang membelanya kalau dimarahin kakak-kakak lain.
Siangnya, ayahnya—Pak Hasan—mengajak Adrian memancing ke sungai belakang rumah. Sungai itu mengalir tenang di balik kebun pisang warga, penuh batu besar dan air jernih yang mengundang untuk diceburin. Adrian membawa galah bambu, sementara sang ayah menenteng ember kecil dan kail-kail sederhana.
“Masih inget caranya pasang umpan, Drian?” tanya ayahnya sambil mengikatkan benang pancing.
“Masih dong. Nih, liat.” Adrian dengan luwes memasukkan cacing ke ujung kail. Sesuatu yang dulu membuatnya menjerit geli, kini terasa seperti permainan biasa.
Mereka duduk bersebelahan di atas batu besar yang hangat oleh matahari. Suara alam jadi latar. Gemercik air, cuitan burung, dan kadang-kadang teriakan Adrian saat terpeleset dan tercebur setengah badan ke sungai.
“Yah, basah semua deh,” gerutunya sambil bangkit. Ayahnya hanya tertawa terbahak.
“Dari kecil memang suka nggak bisa diem,” ucap Pak Hasan. “Udah besar pun tetap aja kayak anak-anak.”
Sorenya, saat mereka pulang dengan baju setengah kering dan ember berisi dua ekor ikan kecil, sang ibu langsung cemberut begitu melihat penampilan anak bungsunya.
“Ya ampun, Ian! Udah gede juga masih aja diajak main air begituan, Pak! Kalau pilek gimana?!”
Adrian hanya menunduk sambil menyembunyikan tawa. Pak Hasan mengangkat bahu seolah-olah tak bersalah.
“Namanya juga bonding anak-bapak, Bu.”
Vanesha yang sedang menyiram tanaman di depan rumah ikut menyahut, “Udahlah, Bu. Biarkan aja. Adrian udah gede. Jangan kayak waktu kecil terus.”