Hari itu cuaca cukup terik di Desa Senanjung Timur. Udara siang menyusup dari sela-sela ventilasi rumah, membawa aroma kayu dan debu jalanan. Di ruang tengah, meja makan dipenuhi tumpukan piring sisa makan siang, tapi suasana tampak tak senyaman biasanya.
“Adrian,” panggil Sophia, duduk dengan ponsel di tangan, matanya tertuju pada layar.
Adrian yang baru saja selesai mencuci tangan menoleh, “Ya, Kak?”
“Nih, pasti IPK kamu udah keluar di situs sekolah, ya?” tanyanya dengan nada setengah menekan.
Adrian mengangguk pelan. “Kayaknya sih udah, Kak.”
Sophia melambaikan tangannya, meminta ponsel Adrian. “Coba, login-in deh. Mau lihat langsung.”
Dengan agak berat hati, Adrian menyerahkan ponselnya dan mengetikkan akses masuk ke portal siswa. Beberapa detik kemudian, muncullah deretan nilai ujian tengah semester. Nilai-nilai yang membuatnya deg-degan semalaman.
Sophia membaca dalam diam. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, setidaknya di awal. Namun, saat matanya menatap angka 3.1, bibirnya mencibir kecil.
“Nilai segini?” ucapnya datar. “Ini kamu udah belajar mati-matian?”
Adrian menarik napas. “Iya, Kak. Aku udah belajar tiap malam, bareng Arman juga.”
“Tapi ini Veridian High School, Adrian,” potong Sophia cepat. “IPK tiga koma satu itu belum ada apa-apanya. Saingan kamu di sana anak-anak unggulan. Yang layak dapat beasiswa penuh itu yang IPK-nya minimal tiga koma lima atau lebih.”
Ia menatap tajam ke arah Adrian, lalu melanjutkan, “Kamu tahu nggak, buat bisa sekolah di sana itu nggak murah. Separuh biaya kamu, Kak Fandi yang bayarin. Belum lagi buku, keperluan asrama, dan lain-lain.”
Adrian menunduk. Tidak ada pembelaan yang bisa ia ucapkan. Yang tersisa hanyalah rasa malu yang mulai menyebar ke wajah dan dadanya.
“Sebenarnya Kakak nggak masalah bantu biaya,” lanjut Sophia, kali ini suaranya lebih lembut, tapi tak menghapus nada skeptisnya. “Tapi kamu sendiri harus tahu arah hidupmu. Sekarang IPK segini, nanti lulus mau ngapain? Kamu belum punya keahlian apa-apa.”
Adrian membuka mulut, ingin menjawab. Namun, kata-kata Sophia datang lebih cepat.
“Jangan bilang lagi soal nulis, ya. Kakak tahu kamu suka nulis cerpen, novel, karangan. Tapi itu nggak realistis, Adrian. Jadi sastrawan tuh nggak semudah itu. Berapa banyak penulis yang benar-benar hidup dari tulisannya?”
Diam. Rumah hening. Bahkan suara kipas tua di ruang tengah pun seolah-olah ikut berhenti. Sophia melipat tangan di dada, dan dengan nada setengah gumam, mengucapkan kata-kata yang langsung menusuk ulu hati Adrian.