Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #10

Bab 10 - Antara Pelarian dan Batas Mimpi

Langit desa Senanjung Timur kembali mendung sejak pagi, seolah-olah menyerap semangat Adrian yang tidak kunjung pulih sejak pertengkaran batin dengan Kak Sophia kemarin. Padahal, liburan masih panjang. Namun, di dalam kamarnya yang sempit dan sederhana, Adrian duduk termenung sambil menatap jendela berembun.

Suara ayam, desir angin, dan langkah kaki orang-orang kampung di kejauhan tidak mampu menenangkan pikirannya yang mulai terasa berat. Ia merasa seperti orang yang salah tempat. Rasanya benar-benar tidak cocok di rumah, tetapi juga belum merasa punya posisi di luar sana.

“Besok gue ke asrama aja kali, ya?” gumamnya lirih.

Dalam benaknya, ia membayangkan si Arman pasti sudah kembali ke asrama lebih awal karena Anna pasti juga sudah balik ke asrama. Setidaknya ada tempat kembali yang terasa lebih netral daripada rumah.

Akan tetapi, malam itu … sesuatu dalam dirinya seperti menolak untuk hanya diam dan menerima keadaan. Ia mengambil buku catatannya yang bergaris tipis dan mulai mencoret-coret halaman kosong dengan pensil mekanik.

Beberapa kalimat lahir begitu saja. Ia menuliskan:

Seorang anak dari keluarga biasa. Diremehkan, dicibir, dianggap tak punya arah. Namun di tengah badai ketidakpastian, muncullah mereka … para Ksatria dari Utara. Mereka mendatanginya diam-diam di malam hari. Satu membawa pedang panjang berukir batu safir. Yang lain mengenakan jubah perak dan bersikap seperti bangsawan.

Mereka membungkuk hormat. “Kau yang kami cari,” kata salah satu dari mereka. “Engkau adalah ksatria terakhir. Yang paling kami nantikan.”

Saat pedang itu disentuhkan ke tangan si anak, pakaian lamanya berubah menjadi jubah hijau emerald dengan emblem berbentuk pena bersayap di dada. Matanya menyala hijau keemasan. Tubuhnya tampak lebih tinggi, lebih kuat, lebih agung dari sebelumnya. Seolah-olah semua caci-maki di masa lalu meleleh begitu saja di hadapan kenyataan yang baru: ia adalah pilihan dunia.

Ibunya menatap dengan mata berkaca-kaca. Kakak-kakaknya diam membeku. Sang ayah akhirnya berdiri dari tempat duduknya. “Jaga dirimu,” katanya pelan. Sang anak hanya mengangguk, tak berkata apa-apa.

Kemudian, ia menatap semua yang hadir. “Aku akan berperang demi dunia. Terima kasih… untuk segalanya.”

Dan ia pun pergi, bersama para ksatria, menyusuri langit malam.

**

Adrian menatap tulisannya dengan senyum kecil yang nyaris tidak terlihat. Hanya satu cahaya kecil dari lampu meja yang menyinari wajahnya.

"Gue tuh pengen diakui," bisiknya pada diri sendiri. "Cuma pingin dianggap penting."

Lihat selengkapnya