Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #11

Bab 11 - Target Baru

Adrian telah menginjakkan kakinya kembali di Veridian High School ketika hari sudah mulai senja. Udara kota Langkarsa mulai sejuk, angin berembus pelan menyapu rambutnya yang sedikit lepek karena perjalanan panjang. Ia menyeret langkah menuju Blok 3 dan berhenti di depan kamar 307, tempat yang mulai terasa seperti rumah keduanya.

Tanpa banyak basa-basi, Adrian membuka pintu kamar dengan kunci cadangan yang disimpannya. Ia masuk, meletakkan tas ransel di sisi ranjang, lalu menghela napas panjang sambil memandangi langit dari jendela. Asrama masih sepi, Arman sepertinya belum kembali. Setelah duduk sebentar, ia memutuskan untuk mandi.

Sebelum masuk ke kamar mandi, ia tidak lupa mengunci pintu dari dalam, tetapi tidak menggantungkan anak kunci di lubang kunci pintu utama. Sudah ia pikirkan sebelumnya, kalau ia sedang mandi dan Arman pulang, bisa-bisa temannya itu harus menunggu lama hanya gara-gara kunci yang nyangkut di dalam. Lebih baik dibiarkan saja. Arman kan punya kunci juga.

Air dingin mengguyur tubuhnya. Setelah perjalanan panjang dari Sakalima, rasanya seperti siraman segar yang membilas segala penat. Adrian mengambil waktu cukup lama di kamar mandi, membiarkan pikirannya tenang di tengah suara air dan aroma sabun yang menenangkan.

Di luar kamar, suara langkah kaki mendekat. Lalu berlanjut suara gagang pintu yang dibuka pelan. Suasana kamar temaram dan lampu dalam memang belum dinyalakan.

Pintu kamar terbuka. Arman masuk sambil bersenandung pelan dan berjalan cepat ke arah kamar mandi. Wajahnya menegang, tengah menahan pipis dari tadi. Begitu tangan menyentuh gagang pintu kamar mandi, pintu itu terbuka dari dalam.

Seketika itu juga, dua pasang mata saling bertatapan.

Adrian berdiri di sana dan hanya mengenakan handuk, rambutnya masih basah, pundaknya meneteskan sisa air mandi.

“Eh—”

“Aaaastagaa … Gila, Yan!” Arman terlonjak mundur setengah meter. “Lo setan apa gimana sih nongol tiba-tiba gitu!”

Adrian cuma nyengir, lalu nyeret handuk ke pundak kiri sambil jalan santai ke arah ranjang. “Gue nyampe duluan. Tadi lo mana kelihatan. Mau gue kasih kejutan, eh malah lo yang kaget duluan.”

Arman masih memegangi dada. “Bukan kejutan, Yan. Itu serangan jantung. Gila lo. Gue kira kamar masih kosong.”

“Ya salah sendiri langsung nyelonong,” ujar Adrian, lalu melempar handuk ke gantungan dan ganti baju sambil cengar-cengir.

Setelah kejadian konyol itu berlalu, mereka pun kembali seperti biasa. Dua anak asrama yang saling memahami ritme dan celoteh satu sama lain. Di luar, senja mulai terganti malam. Namun, di kamar 307, tawa dan cerita baru mulai menggema.

Lihat selengkapnya