Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #12

Bab 12 - Si Gadis Suram, Emilia

Hari libur masih tersisa dua hari, tetapi kejenuhan sudah menyergap dua remaja di kamar 307. Aktivitas yang sekadar makan, tidur, dan membaca acak membuat otak seperti beku.

“Man,” kata Adrian sambil menatap langit-langit kamar dari ranjangnya, “kita ngapain ya? Lama-lama kena kolesterol nih.”

Arman, yang sedang rebahan sambil memencet layar ponselnya, hanya bergumam, “Hidup ini ya emang beginilah, kadang datar kayak nasi dingin.”

Adrian menoleh dan melempar bantal kecil ke arah Arman. “Udah, ayo ke ruang klub sastra. Siapa tahu ada kegiatan.”

“Tumben, lu ngajak gue ke sana.”

“Ya... anggap aja nostalgia. Kita ajak Anna juga, biar gak kayak cowok gagal liburan.”

Tidak lama kemudian, bertiga mereka pun melangkah ke lantai lima gedung sayap timur, tempat ruang klub sastra berada. Di sepanjang lorong, tampak beberapa siswa sudah mulai kembali ke asrama. Beberapa bahkan terlihat di lapangan belakang, bermain bola atau duduk-duduk santai di taman.

Saat ketiganya tiba, ruangan itu cukup lengang. Ada satu atau dua meja yang dihuni anggota klub lain yang sibuk mengetik atau membaca. Namun, yang menarik perhatian mereka justru seorang gadis duduk di pojok ruangan, dekat jendela.

Rambutnya agak bergelombang, tergerai rapi menyentuh bahu. Di atas kepalanya, sehelai kain persegi berwarna ungu gelap menutupi bagian depan rambutnya, diikat ke bawah seperti bandana ala kuno. Di tangannya, seumpuk kartu tarot tampak tersusun rapi, beberapa di antaranya terbuka di atas meja.

Gadis itu menoleh saat mereka masuk. Matanya tajam tetapi tenang, seolah-olah menyimpan sesuatu yang tidak bisa ditebak.

“Emil,” sapanya pelan, memperkenalkan diri sebelum mereka sempat berkata apa-apa. “Nama lengkapku Emilia. Kalian kakak kelas?”

“Eh, iya,” jawab Adrian. “Aku Adrian, ini Arman, dan ini Anna.”

Emil mengangguk sopan. “Aku adik dari Indra. Kakakku kelas sebelas, aktif juga di klub ini. Aku lagi main ke sini, sambil lihat-lihat sekolah. Tahun depan rencananya mau daftar ke sekolah ini.”

“Ohh, pantesan. Kayaknya pernah sekilas lihat mukanya kak Indra,” kata Arman.

Namun, di balik senyum itu, ada yang terasa berbeda. Emilia membawa aura yang sunyi, seperti musim hujan yang belum turun tetapi sudah menutup langit.

Anna memiringkan kepala dan bertanya dengan nada bercanda, “Kamu bawa tarot? Hobi ramal-ramalan ya?”

Emil mengangguk ringan. “Kadang. Tapi bukan buat main-main.”

Adrian menyipitkan mata, separuh tertarik, separuh canggung. “Kamu bisa baca masa depan gitu?”

Emil hanya tersenyum tipis. “Masa depan bukan untuk dibaca, melainkan dipertanyakan. Tapi kadang ... kartu-kartu ini bisa bicara soal apa yang tersembunyi.”

Lihat selengkapnya