Adrian menghela napas. Entah kenapa, detak jantungnya sedikit tak beraturan. Ia belum sepenuhnya percaya dengan kartu tarot, tetapi ketenangan Emil membuat suasana terasa lain. Setelah melihat Arman dan Anna dibacakan, kini giliran dirinya. Ia tak bisa menolak saat Emil menatapnya dan berkata:
“Pisces, ya? Untukmu, aku bacakan tujuh kartu. Supaya semuanya lebih terang.”
Adrian mengangguk pelan. “Ya … Pisces.”
Emil mengocok kartu-kartunya lebih lama kali ini. Tangannya tampak lebih lincah, nyaris tak bersuara. Udara di ruang klub sastra berubah hening, agak berat, dan entah kenapa membuat dada Adrian sedikit sesak. Tidak lama, Emil menarik tiga kartu pertama dan meletakkannya di sisi kiri, menghadap langsung ke arah Adrian.
“Ini bagian dari masa lalu Kakak,” ucapnya pelan.
“Fase sebelumnya. Apa yang sudah Kakak alami, yang membentuk kamu hari ini.”
Jari telunjuknya menyentuh kartu pertama. “Three of Pentacles.”
“Kartu ini bicara tentang bakat yang Kakak miliki,” ujar Emil. “Kamu sudah tahu apa kekuatanmu. Kamu bahkan sempat menunjukkannya dan membaginya pada orang-orang. Ini tentang karya, tentang keahlian yang sedang kamu bentuk. Ada prestasi, walau kecil, yang pernah kamu capai. Itu bukan hal sepele, Kak.”
Adrian menatap kartu itu. Di kepalanya melintas sosok-sosok yang pernah memuji tulisannya. Guru bahasa Indonesia di SMP dulu. Teman-teman komunitas literasi daring. Bahkan, beberapa komentar anonim di forum-forum yang pernah ia ikuti. Tiba-tiba, bahunya mengendur sedikit. Entah kenapa merasa diakui.
Emil melanjutkan. Tangannya menunjuk kartu kedua. “Eight of Pentacles.”
“Ini kartu kerja keras. Kakak bukan pemalas, meskipun orang mungkin menganggap begitu,” katanya lirih, seolah-olah menyentuh sesuatu yang rapuh di dalam diri Adrian.
“Kamu belajar diam-diam, membangun pelan-pelan. Kamu tidak asal nulis dan juga kamu belajar, dan berjuang, serta mengasah keterampilan. Ini tentang ketekunan yang tak terlihat.”
Adrian menggigit bibirnya. Sedikit menunduk. Kata-kata itu seperti membela dirinya dari suara-suara yang selama ini ia simpan di kepala. Dari cemooh halus yang terdengar di ruang makan rumahnya, atau sindiran-sindiran yang dibungkus dalam nada khawatir.
Dan kini, Emil menyentuh kartu ketiga. “Five of Cups.”
“Ini kartu kehilangan,” ucapnya dengan suara sedikit lebih pelan.
“Ada rasa kecewa yang belum tuntas Kakak lepaskan. Kamu tahu kamu sudah kehilangan sesuatu, atau seseorang, atau harapan. Tapi, Kakak belum benar-benar menoleh ke arah mana kamu harus berjalan. Kamu terlalu lama berdiri di atas luka itu.”
Kepala Adrian seakan tertunduk otomatis. Ia tidak menjawab, tidak perlu menjawab. Kata-kata Emil menampar pelan, tetapi bukan dengan kemarahan, melainkan kejujuran yang dalam. Ia teringat ibunya, teringat ayahnya, teringat pada pertengkaran dan kekosongan yang sejak lama tidak pernah ia beri nama.
Emil menyandarkan punggungnya ke kursi. Sorot matanya masih tajam.
“Fase ini,” katanya, “adalah cermin. Kakak tidak bisa melangkah ke depan kalau masih belum menoleh pada apa yang ada di belakang. Tapi Kakak tidak perlu takut. Kita masih punya empat kartu lagi.”
Ia melirik Adrian sejenak.