Minggu sore di hari itu, Adrian duduk bersandar di sisi ranjang, buku catatannya terbuka di pangkuan, tetapi tak satu pun kata tercoret. Di seberangnya, Arman baru saja selesai menggulung charger ponselnya, lalu mendongak menatap sahabatnya.
“Masih kepikiran soal bacaan kartu tarot tentang lu dua hari yang lalu, ya?” tanya Arman, setengah berbisik, seolah-olah tak ingin mengusik ketenangan menjelang malam itu.
Adrian tidak langsung menjawab. Tangannya hanya menelusuri halaman-halaman kosong buku itu, kemudian mengangguk pelan.
“Three of Sword,” gumamnya. “Kartu terakhir yang dibuka Emil.”
Ia menoleh pada Arman. “Waktu itu ... dia belum sempat ngejelasin langsung, tapi tadi pagi gue sempat ketemu dia lagi. Di ruang klub.”
“Dan?”
Adrian menarik napas.
“Artinya bukan soal cinta segitiga atau hubungan romantis, katanya. Karena ya, jelas, aku nggak punya pacar juga.”
Ia mengangkat bahu sebentar, kemudian menatap ke langit yang mulai temaram.
“Tapi menurut Emil, itu tetap tentang kehadiran orang ketiga. Tapi bukan dalam hubungan asmara.”
Arman diam, memperhatikan sahabatnya dengan tatapan serius.
“Dia bilang, kartu itu bisa jadi pertanda konflik batin yang muncul karena orang lain. Sesuatu yang terjadi antara gue dan ... entah siapa. Keluarga, mungkin. Teman juga bisa. Pokoknya, ada yang retak, karena munculnya seseorang ketiga.”
“Lu takut?”
Adrian mengangguk perlahan. “Bukan takut sih ... Cuma nggak nyaman aja. Kayak ... tahu sesuatu yang buruk bakal terjadi, tapi nggak tahu harus ngapain.”
Arman menatap langit-langit kamar sejenak. “Tapi katanya itu bukan ramalan mutlak, kan?”
“Iya,” balas Adrian cepat. “Emil bilang, kartu tarot cuma menunjukkan kemungkinan. Bukan keputusan. Yang bisa menentukan ya tetap gue sendiri dengan apa yang gue lakuin sekarang.”
Adrian mengatupkan buku catatannya dan menyandarkan kepala ke dinding.
“Jadi mungkin ... gue cuma perlu lebih hati-hati. Lebih sadar dan mungkin juga ... mulai memikirkan siapa yang selama ini gue abaikan.”
Senja makin menua. Cahayanya mulai terseret turun, memeluk tanah bersama bayang-bayang yang kian memanjang.