Libur panjang akhirnya datang. Hawa desa Senanjung Timur menyambut dengan angin yang jauh lebih ramah dari riuh kota Langkarsa. Pohon-pohon trembesi di pinggir jalan tampak menggoyangkan daunnya perlahan, seolah-olah mengucapkan selamat datang pada bulan-bulan penuh ketenangan. Bagi Adrian, pulang ke rumah selalu berarti dua hal, kelegaan dan keraguan. Namun kali ini, hanya kelegaan yang tersisa.
Pagi itu, ia baru saja selesai menyapu halaman depan rumahnya yang masih tanah merah. Keringat masih menempel di kening, kaus oblong sudah agak lembap, dan ia bersiap kembali masuk ke rumah saat mendengar suara motor berhenti di depan pagar.
Saat berbalik, napasnya tertahan.
“Loh ... Apaan?”
Di sana berdiri Arman dengan jaket birunya yang familiar dan Anna yang melambai ceria dari jok belakang motor. Helm masih menempel di kepala mereka, debu jalanan masih melekat di lengan jaket, tetapi senyum mereka berdua jelas sekali: mereka sedang mengerjai Adrian.
“Sapro Fit kuning itu milik siapa hayo?” ujar Arman dengan gaya sok misterius.
“Man? Anna? Hah? Ng—ngapain ... ngapain kalian bisa di sini?!” Adrian hampir tersedak kata-katanya sendiri.
Anna tertawa, “Kita diculik, Yan. Sama Kak Sophia sama Kak Fandi.”
Arman menambahkan, “Tadinya mau bilang dari semalam, tapi Kak Fandi suruh diem-diem aja. Biar surprise katanya.”
Dari balik pintu, muncullah Fandi sambil terkekeh, disusul Sophia yang membawa nampan berisi gelas es jeruk.
“Sambut tamumu, dong. Masa sahabat sama pacar sahabat jauh-jauh ke sini malah kamu melongo doang.”
Adrian masih bengong, lalu akhirnya nyengir lebar.
“Gila ... Gue belum mandi malah.”
“Udah biasa, Yan. Jangan pura-pura nggak pernah kita liat kondisi paling mengenaskanmu,” cibir Arman.
Suasana halaman rumah mendadak riuh penuh tawa. Burung-burung di pohon ikut berkicau seolah-olah menerawang untuk awal dari hari-hari menyenangkan. Dalam hati Adrian tahu, liburan ini bakal berbeda. Bukan hanya karena tempatnya, melainkan karena mereka bertiga sekarang datang sebagai versi baru dari diri mereka masing-masing.
Versi yang telah tumbuh. Versi yang siap menghadapi dunia, tanpa harus menghindari bayang-bayang masa lalu.
Malam itu rumah keluarga Adrian terasa lebih hangat dari biasanya. Tawa ringan terdengar dari dapur, lalu berpindah ke ruang tamu. Kak Vanesha dan Anna tampak cepat akrab. Mereka berbagi cerita tentang idola ganteng yang tengah naik daun, membandingkan gaya berpakaian hingga gestur tersenyum sang idola di layar kaca. Kak Vanesha bahkan sempat membuka koleksi majalah lamanya yang penuh gambar artis-artis lawas dan kekinian. Anna antusias sekali, merasa seperti menemukan kakak perempuan baru yang benar-benar "ngerti isi kepala cewek".
Sementara itu, di kamar yang temaram diterangi lampu meja kecil, Adrian dan Arman belum juga terlelap.
"Akhirnya … lo nginjek kaki juga di Senanjung Timur," gumam Adrian sambil rebahan, memeluk bantal.
Arman tertawa kecil, "Nggak nyangka juga sih. Kirain cuma janji-janji doang waktu Kak Sophia bilang gitu."