Hari-hari pertama di kelas 11 menyambut para siswa dengan jadwal baru, guru-guru yang mulai menata ulang pendekatan mereka, serta semangat segar yang terasa di sepanjang lorong-lorong Veridian High School. Adrian masih duduk di kelas A3, kursi dekat jendela yang sama, tapi suasananya kini berbeda. Ia bukan lagi anak baru, melainkan murid senior. Ada rasa tanggung jawab—meski kecil—yang mulai menempel di pundaknya.
Akan tetapi, ada satu hal yang membuatnya penasaran sejak hari pertama masuk sekolah. Tentang Andhika.
Murid baru itu, yang digadang-gadang sebagai keponakan dari Ketua Yayasan Veridian, ternyata ditempatkan di kelas A1. Dari informasi yang beredar, ia pindahan dari sekolah swasta elit di luar kota. Banyak yang menyangka ia akan dengan mudah bergaul atau malah menyita perhatian karena status keluarganya. Namun, justru sebaliknya, Andhika terlihat pendiam, sedikit tertutup, dan selalu sendiri saat istirahat maupun pulang sekolah.
Adrian sempat memperhatikan dari kejauhan beberapa kali. Andhika sering duduk di bangku taman dekat kantin sambil membaca buku. Sesekali ia terlihat memainkan ponsel, tetapi tak pernah lama. Tidak ada kerumunan, tidak ada teman yang menyapanya dengan akrab. Entah karena auranya yang terlalu kalem, atau karena siswa lain merasa canggung karena latar belakangnya yang spesial.
Mungkin karena pengalaman pribadi sebagai anak yang pernah merasa asing dan sunyi, Adrian merasa terdorong.
Pada suatu siang, saat istirahat kedua, Adrian memberanikan diri menghampiri Andhika yang duduk di bawah pohon tabebuya. Sinar matahari menerobos daun-daun dan membentuk pola di atas buku yang sedang dibacanya.
“Boleh duduk?” tanya Adrian ramah.
Andhika mendongak. Pandangannya jernih, tetapi tidak sepenuhnya terbuka. Ia mengangguk pelan. “Silakan.”
Adrian duduk di sampingnya, memperhatikan judul buku yang dibaca: Metamorfosis karya Kafka. Ia tersenyum tipis. “Buku berat buat istirahat.”
Andhika menjawab dengan suara lembut, “Kadang lebih tenang tenggelam di dunia yang ganjil daripada dunia nyata yang serba jelas.”
Adrian tertawa kecil. “Gue Adrian, kelas A3.”
“Andhika,” balasnya. “Kelas A1.”
Mereka saling menjabat tangan.