Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #17

Bab 17 - Sastra, Sandiwara, dan Mantra

Tiga bulan telah berlalu sejak semester pertama kelas 11 dimulai. Banyak hal berubah, tidak hanya pelajaran yang makin rumit atau tugas-tugas yang makin menumpuk, tetapi juga dinamika pertemanan.

Adrian kini lebih sering bersama Andhika, sahabat barunya yang dikenal lewat klub sastra dan drama. Mereka cepat akrab, terutama karena sama-sama mencintai dunia cerita. Baik yang ditulis di atas kertas maupun yang dipentaskan di atas panggung. Kadang mereka berbincang serius, kadang bercanda seolah-olah sudah saling mengenal bertahun-tahun.

Di sisi lain, Arman juga terlihat lebih sibuk akhir-akhir ini. Waktu luangnya banyak tersita oleh kegiatan akademik dan tentu saja, kebersamaannya dengan Anna. Tanpa mereka sadari, jarak kecil mulai tumbuh di antara Arman dan Adrian, tetapi cukup terasa saat hening mengendap terlalu lama.

Terdengar seperti mantra yang berjalan, pernah suatu hari Emil mendatangi Arman ketika di kantin. Menanyakan kedekatan antara Adrian dan Andhika, sosok Emil terasa begitu aneh dengan sorot mata yang cukup tajam. Ucapan Emil seolah-olah jadi mantra pengingat untuk Arman, tetapi entah untuk apa. Namun, pada akhirnya ia berpikir mungkin karena vibe Emil seperti itu, rasanya seperti mengundang pemikiran negatif. Aneh memang.

Malam itu, kamar 307 seperti biasa sunyi dan tertata rapi. Di sudut kamar, Arman duduk bersila di atas kasurnya, tenggelam dalam buku pelajaran Matematika. Kepalanya sesekali mengangguk kecil, menandakan bahwa rumus-rumus yang rumit itu berhasil ia pahami.

Sementara itu, Adrian duduk di meja belajarnya. Sebuah pulpen berputar-putar lincah di antara jari-jarinya, gerakannya otomatis seperti ritual mencari ide. Tatapan matanya kosong, menerawang ke arah jendela yang dibalut bayangan malam.

“Man,” ucap Adrian, pelan namun cukup memecah keheningan.

“Hm?” sahut Arman tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.

“Lu pernah ngebayangin gak sih … nulis novel tapi mentok di bagian yang nggak kita pahami sama sekali?”

Arman menutup bukunya perlahan, menoleh. “Lagi macet nulis?”

Adrian mengangguk kecil. “Gue udah buat outline novel. Tokoh utamanya penyelidik, kerja di kepolisian. Tapi dia punya kemampuan istimewa, semacam indra keenam yang dia sembunyikan. Ceritanya, masa lalunya kelam … dia pernah dihukum dan dikirim ke Barak Militer karena dianggap tidak patuh pada perintah.”

Arman mengangkat alis. “Wah, kayak film misteri gelap gitu, ya?”

“Iya. Tapi masalahnya, gue nggak tahu harus nulis kayak apa soal Barak Militer. Gue nggak pernah tahu tempat semacam itu, nggak tahu kehidupan di dalamnya. Harusnya ada narasumber yang bisa gue ajak ngobrol langsung. Biar nggak ngarang doang.”

Arman mengangguk-angguk, lalu berpikir sejenak. “Lu mau bikin nuansa realistis ya? Bukan sekadar fiksi spekulatif?”

“Bener. Gue mau pembacanya percaya. Kayak ... tempat itu beneran ada dan bisa mereka bayangin secara jelas.”

Sunyi sejenak mengisi ruangan. Adrian kembali memutar bolpennya. Arman menatap langit-langit, berpikir keras sejenak.

Lihat selengkapnya