Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #18

Bab 18 - Persimpangan Tujuan

Kepulangan Arman dari Barak Militer membawa kembali percikan hangat ke kamar asrama nomor 307. Suaranya yang lantang, leluconnya yang kadang receh, dan aroma minyak kayu putih yang melekat di baju seragam latihannya membuat suasana kamar terasa hidup lagi. Sesuai janji, malam itu mereka duduk bersisian, dan Arman mulai menceritakan hari-harinya di sana.

“Pokoknya bangun jam lima, suara peluit udah kayak alarm bencana. Disuruh lari, baris, tiarap, bahkan nyuci baju sendiri. Belum lagi latihannya ... berat sih, tapi bikin mikir banyak juga,” tutur Arman sambil menyeruput teh hangat buatan Adrian.

Adrian mendengarkan dengan penuh perhatian. Tangan kanannya sibuk mencoret outline di buku tulis. Kata demi kata, sketsa demi sketsa, mulai terisi di kepala dan dituangkan dengan cepat. Imajinasi tentang sosok tokoh utama novelnya makin hidup, makin jelas arah dan nadanya. Ia terlihat bersemangat, seolah-olah dunia fiksinya sedang tumbuh dalam dirinya dengan liar dan indah.

Arman hanya tersenyum. Ia tidak pernah menyangka bahwa cerita-cerita seadanya yang ia alami bisa menjadi bahan bakar bagi mimpi sahabatnya. Namun, beberapa minggu kemudian, ada perubahan kecil yang terasa ganjil.

Di suatu sore yang redup, kamar asrama 307 tampak lebih sunyi. Adrian duduk di meja belajarnya, wajahnya menghadap jendela, tetapi tatapannya jauh dan kosong. Jari-jarinya menekuk ujung pena, seolah-olah ragu untuk mulai menulis.

Arman yang baru datang dari ruang belajar, menaruh bukunya, dan langsung duduk di ranjang. “Lo kenapa, Yan? Macet lagi? Butuh cerita baru?”

Adrian menoleh pelan, lalu menghembuskan napas. “Andhika ngajak gue jadi asistennya di klub Drama.”

Arman mengangkat alis. “Asisten? Maksudnya lo ikut bantu-bantu dia nulis naskah panggung?”

“Enggak cuma itu,” sahut Adrian. “Lebih ke pengarah naskah, bantu mengatur blocking panggung, dan koordinasi sama tim pencahayaan. Katanya dia butuh tangan kanan buat bantu kelancaran produksi dan ... gue tertarik.”

Arman menggaruk pelan kepalanya yang sebenarnya tak gatal. “Lo serius? Mau cabut dari klub Sastra?”

Adrian tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk, menatap jemarinya. “Gue ngerasa ... klub Drama lebih hidup. Banyak orang, banyak energi, dan kayaknya gue butuh itu sekarang. Nggak berarti gue berhenti nulis. Tapi ... mungkin ini waktunya gue coba hal baru.”

Sunyi sejenak. Angin dari jendela mengibaskan tirai tipis, membawa suara langkah siswa dari koridor luar.

“Terus ... Mahanta lo gimana?” tanya Arman perlahan.

Adrian tersenyum kecil, hambar. “Dia tetap nulis. Cuma mungkin sekarang tulisannya gak selalu di kertas. Kadang di panggung.”

Arman mengangguk, walau ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia bisa menerima jika Adrian ingin mencoba hal baru, tetapi perubahan itu terasa cepat dan tiba-tiba.

“Kalau itu yang lo pilih, ya ... gue dukung. Tapi jangan sampai lo lupa sama kenapa lo suka nulis dari awal ya, Yan.”

Lihat selengkapnya