“Aku perhatiin dari tadi … Kak Adrian kelihatan murung,” ujar Emil, akhirnya membuka suara setelah lama duduk bersama dalam hening.
Adrian mengangkat kepalanya perlahan, menatap Emil yang tengah menyeruput sisa jus jeruknya dengan santai. Tatapan itu bukan tajam, bukan juga kesal, hanya lelah.
“Tumben juga nggak kelihatan bareng Kak Arman,” lanjut Emil. Suaranya pelan, tetapi cukup jelas untuk menembus lapisan tipis yang menutupi suasana hati Adrian.
Adrian menarik napas pelan, lalu mengalihkan pandangan lagi ke arah lapangan luar sekolah.
“Lagi ada beda pandangan aja,” jawabnya singkat.
Emil mengangguk pelan, tidak bertanya lebih jauh. Namun, ia tetap menatap Adrian dengan sorot mata yang seolah-olah menyimpan sesuatu. Entah pengertian atau sekadar rasa ingin tahu yang tidak biasa.
“Kadang,” kata Emil kemudian, “teman yang kita kira bakal selamanya dekat ... bisa tiba-tiba terasa jauh. Padahal nggak ada yang benar-benar berubah. Cuma ... ada hal-hal kecil yang makin lama jadi besar.”
Adrian melirik Emil, sedikit terkejut mendengar kata-kata itu keluar dari mulut seorang Emil yang biasanya pendiam dan nyaris tidak berperasaan.
“Maksudmu?” tanya Adrian, akhirnya tertarik.
Emil mengangkat bahu pelan, lalu memandangi sisa nasi di piringnya. “Aku nggak tahu pasti masalah Kakak apa. Tapi ... aku cuma pengen bilang, nggak semua retakan harus pecah. Kadang cuma perlu waktu, atau jarak, atau ... keberanian buat bilang jujur.”
Adrian diam. Kata-kata itu terasa anehnya ... menenangkan.
Lalu tanpa disangka, Emil menyelipkan satu kalimat yang membuat jantung Adrian sedikit berdegup lebih cepat.
“Kadang, kita juga harus tahu siapa yang sebenarnya membuat jarak itu jadi makin besar.”
Adrian menoleh cepat, tetapi Emil hanya tersenyum tipis dan berdiri dari kursinya sambil membawa nampan makannya.
“Thanks … udah bagi tempat duduk. Semoga sore ini Kakak nulis lagi. Kan sayang kalau idenya hilang.”
Dengan langkah ringan, Emil pergi meninggalkan meja itu.