Hari-hari terasa seperti dinding yang semakin menyempit bagi Adrian.
Udara sekolah yang dulu akrab kini tampak menyesakkan. Ia menahan semuanya dengan tawa yang dipaksa muncul di tengah keheningan, senyum sopan yang menutupi kehampaan, dan langkah-langkah lesu di koridor Veridian High School yang semakin terasa asing.
Arman, sahabat yang dulu selalu hadir, kini terasa jauh. Entah karena kesibukan, atau karena luka yang belum sepenuhnya sembuh dari perdebatan terakhir mereka.
Andhika? Sosok yang dulunya ia lihat sebagai teman yang kesepian kini terasa seperti bayangan raksasa yang terus membesar, memenuhi ruang, dan membuatnya merasa kecil, tidak terlihat.
Pekerjaan sebagai asisten—jika masih bisa disebut demikian—semakin membosankan. Sering kali Adrian hanya duduk menatap latihan, membuat catatan yang tidak pernah diminta, atau sekadar membantu memindahkan properti yang bahkan bisa dilakukan siapa pun.
Puncaknya datang suatu sore yang tampak biasa. Kak Rona, penanggung jawab klub Drama yang dikenal tegas namun ramah, memanggil Adrian setelah latihan.
“Adrian,” ucap Kak Rona sambil menyusun naskah di meja, “aku mau tanya sesuatu. Kamu sebenarnya dapat mandat sebagai asisten dari siapa, ya?”
Adrian mengerutkan kening. “Dari ... Andhika, Kak.”
Kak Rona menatapnya, heran. “Aku dari awal gak pernah buka posisi asisten, apalagi untuk posisi dia. Kalau pun Andhika ingin dibantu, ya oke. Tapi secara resmi, nggak ada pengangkatan kayak gitu. Jadi ... kamu di sini tanggung jawab dia sepenuhnya.”
Adrian tercekat. “Maksud Kakak ... Andhika nggak bilang ke Kak Rona soal aku?”
Kak Rona menggeleng. “Dia gak pernah ajukan siapa-siapa. Justru waktu aku tanya tadi siang, dia malah bilang aku yang suruh kamu bantuin dia.”
Adrian nyaris tertawa, tetapi karena tidak tahu harus bereaksi apa. Jadi, Andhika menuding balik Kak Rona? Padahal, Kak Rona sendiri bahkan terlihat bingung.
"Aneh, kan?" tanya Kak Rona, seperti menyuarakan isi hati Adrian. “Tapi ya sudahlah, kalau kamu nyaman, nggak masalah buatku. Cuma aku gak mau kamu kerja tanpa tahu duduk persoalannya.”
Adrian mengangguk pelan. Namun dalam hatinya, gelombang aneh mulai membuncah. Sesuatu tidak beres. Entah sejak kapan semua ini mulai terasa ganjil dan lagi-lagi, bayangan Three of Sword itu hadir.
Seolah-olah ketiga pedang itu perlahan mulai menembus, satu per satu.
Di antara kepingan kekecewaan yang berserakan, Adrian masih mencoba menambalnya dengan harapan. Ia terus meyakinkan diri bahwa mungkin Andhika memang rada galat saja belakangan ini, karena terlalu sibuk. Bisa saja, kan? Panik, tertekan, dan merasa perlu bantuan … walau faktanya, semua pekerjaan di klub Drama tetap berjalan mulus tanpa bantuan Adrian sekalipun.
“Lucu ya,” gumamnya suatu malam sambil menatap mading klub Sastra yang kini tampak lebih kosong dari biasanya.
Tidak ada lagi tulisan “Mahanta” di sana. Tidak ada potongan cerita yang menggoda pembaca.
Ia sendiri yang memutuskan untuk hiatus sementara dari klub Sastra. Alasannya waktu itu jelas, agar fokus membantu Andhika di klub Drama. Kak Sinta pun memahami dan memberi izin. Tetapi sekarang, dengan kenyataan ini, keputusan itu terasa seperti blunder.
Namun, tidak ada jalan mundur. Apalagi, ujian semester satu sudah di depan mata. Pekan itu, suasana sekolah berubah drastis.
Koridor yang biasanya riuh kini sunyi, berganti bisik-bisik murid yang berlalu sambil membawa buku catatan, berkas fotokopian, atau segelas kopi instan. Adrian pun ikut tenggelam dalam pusaran itu danbelajar semampunya. Walau kadang sulit fokus karena pikiran yang terus bercabang.
Lalu, pada suatu pagi yang tampaknya biasa, muncul keisengan yang mungkin lahir dari kejenuhan.
Di salah satu halaman belakang catatannya, Adrian menulis sebuah kalimat iseng dengan huruf besar.