Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #21

Bab 21 - Sebuah Kesalahan Memperbesar Jarak

Langit sore masih muram, seolah-olah meniru kegelisahan yang memenuhi dada Arman sejak keluar dari ruang ujian. Ia menatap tajam ke arah meja pengawas, tempat penghapus tadi disita. Benda kecil itu kini menjadi bukti aneh yang tak bisa ia abaikan.

Ia mendekat, meminta izin untuk melihat barang temuan itu dan berpura-pura penasaran. Benar saja. Huruf-huruf kecil itu masih tampak jelas, berjajar rapi seperti pola pilihan ganda:

B, C, A, D…

“Bukan kebetulan. Bukan bercanda. Ini serius,” batin Arman.

Segera setelah itu, ia bergegas keluar, menembus koridor sekolah yang mulai sepi. Langkahnya cepat, menyusuri setiap tempat yang mungkin jadi pelarian. Hingga akhirnya, di antara rak-rak tinggi perpustakaan, ia menemukan dua sosok yang ia cari.

Adrian duduk menunduk di salah satu meja kayu. Wajahnya pucat, tidak fokus menatap buku yang terbuka di depannya. Sementara Andhika berdiri di sisi rak, bersandar santai, memainkan sebatang pulpen seperti tak ada yang terjadi.

"Lo berdua, bisa jelasin ini maksudnya apa?"

Suara Arman memecah keheningan.

Andhika menoleh santai. "Apa?"

Adrian mendongak pelan, gugup. "Arman!"

"Apa maksud lo lempar penghapus berisi jawaban ke Adrian waktu ujian tadi?" Suara Arman meninggi.

Andhika hanya tertawa pendek, sinis. "Lo mikir terlalu jauh. Kalau Adrian beneran pinter, ya dia nggak perlu panik waktu ujian, kan?"

Ucapan itu menusuk. Adrian hendak bicara, tetapi Andhika mendahului.

"Dan lo, Arman, jangan sok jadi pahlawan. Gue gak pernah maksa dia nyontek, dan gak ada yang bisa buktiin gue nyuruh dia pakai itu. Lagian, yang bawa catatan loh … Adrian sendiri."

Arman mengepalkan tangan. "Jadi lo nuduh Adrian yang nyuruh lo ngasih contekan?"

Andhika mendekat selangkah. Tatapannya menantang. "Gak nuduh. Cuma bilang … semua orang punya niat tersembunyi, termasuk sahabat lo."

"Lo—"

Tanpa bisa dicegah, tangan Arman bergerak duluan. Satu pukulan mendarat di pipi Andhika, membuatnya tersungkur ke lantai dengan suara keras yang menggema di antara rak-rak buku.

Adrian kaget dan segera berdiri. "Arman, cukup!"

Andhika meringis, menyeka sudut bibirnya yang berdarah tipis. Ia menatap Arman dengan tatapan penuh dendam. "Ini lu cari perkara, huh?"

Arman tidak menjawab. Matanya merah, napasnya memburu. Namun, sebelum situasi semakin memburuk, suara langkah tergesa dan bentakan petugas pustaka memecah ketegangan.

Lihat selengkapnya