“Lu tahu nggak? Katanya tulisan Adrian bisa nyihir orang, lho.”
“Sumpah demi apa? Emang dia siapa, sih? Tukang sihir?”
“Bukan, tapi ada yang bilang tulisan dia kayak … mantra gitu. Bisa bikin orang nurut. Gue sih nggak percaya, tapi katanya Andhika sendiri yang ngomong.”
Ya … gosip itu pecah dan menyebar seperti kabut racun, tapi menyesakkan dan seperti bisa ditebak … sumbernya berasal dari orang yang paling ingin cuci tangan dari kesalahan.
Andhika.
Alih-alih mengakui bahwa ia dengan sadar melemparkan penghapus berisi jawaban, ia kini mengalihkan tuduhan, dengan sebuah dalih.
"Gue gak sadar, tau-tau udah gue lakuin aja. Kayaknya sih karena tulisan itu."
Seketika itu pula, nama Adrian mulai menjadi bahan gunjingan. Tidak hanya sebagai pembuat onar ujian, tetapi juga sebagai orang aneh yang punya tulisan 'berisi mantra'.
Yang lebih menyakitkan, bukan hanya gosip soal itu yang mencuat. Nama Mahanta, yang selama ini dirahasiakan sebagai identitas pena, ikut terbongkar.
"Jadi Mahanta tuh si Adrian? Gila, padahal gue suka banget sama tulisannya!"
"Makanya enak ya, jadi terkenal karena bisa bikin orang tunduk bacain tulisan sendiri."
Adrian hanya bisa terdiam. Di meja makan asrama, di kantin, di koridor kelas, semua terasa memunggungi. Tulisan-tulisannya yang dulu disambut hangat, kini dianggap alat manipulasi.
Karyanya hancur. Namanya terlebur.
Di sisi lain, Emil seperti sudah menduga ini akan terjadi.
Suatu sore di balkon lantai dua gedung perpustakaan, saat hanya mereka berdua di sana, Emil menatap Adrian dengan sorot tajam dan berkata pelan,
"Kak, orang ketiga itu sudah menunjukkan taringnya."
Adrian menoleh lelah.
"Andhika, kan?"
Emil mengangguk.
"Dia adalah pedang ketiga yang muncul setelah Arman. Sedari awal, aku yakin aura dia nggak bersih. Bahkan kakakku—yang punya teman di sekolah Andhika sebelumnya—bilang sempat ada kasus besar yang menyeret nama Andhika. Makanya dia pindah ke sini."