"Gosip itu kayak angin ribut," kata Adrian pelan sambil menatap langit dari jendela perpustakaan lantai dua. "Kencang dan bikin rusak ... tapi akhirnya juga pergi sendiri, meski gak ada yang tahu kapan."
Ia menoleh ke Emil yang sedang duduk di seberangnya, masih sibuk mencatat soal Matematika.
Gadis itu hanya mengangguk kecil sambil menjawab pelan, "Yang penting Kak Adrian masih berdiri setelah badai lewat."
Adrian menarik napas panjang. Ia sudah memikirkan semuanya dalam-dalam. Kalau ia mencoba membersihkan namanya sekarang, semua malah bisa jadi semakin rumit.
Kebenaran soal tulisannya terlalu absurd untuk dijelaskan dan terlalu berbahaya kalau sampai dianggap nyata.
Jadi, ia memilih diam. Biarlah orang-orang menganggapnya aneh atau bahkan takut. Toh tidak akan selamanya mereka peduli.
Sekarang, yang ia bisa kendalikan hanyalah dua hal. Nilai pelajaran dan kehadiran Emil di sisinya.
Ia mulai membenahi catatan pelajaran, bangun pagi tepat waktu, hadir di kelas tanpa bolos, dan menjauhi semua bentuk drama. Ia seperti berubah menjadi versi paling "biasa" dari dirinya. Tanpa Mahanta, tanpa klub Sastra, tanpa sahabat, dan tanpa sorotan.
Di balik semua itu, ada ruang kosong yang terus menganga.
Kadang ia merindukan Arman. Kadang ia ingin kembali menulis di mading. Kadang ia menyesal telah memilih jalan ini. Namun, setiap kali Emil tersenyum padanya, atau saat tangan Emil tidak sengaja menyentuh lengannya ketika mereka belajar bersama, rasa sepi itu sedikit mengecil.
Adrian kini mulai penasaran dengan dunia Emil. Gadis yang sebelumnya selalu terlihat muram dan menyendiri, ternyata punya hidup yang jauh dari biasa.
Ada hal-hal yang belum ia tahu. Tentang keluarganya, tentang kenapa Emil bisa tahu banyak hal tentang Three of Sword, tentang kenapa ia seolah-olah tahu lebih dulu apa yang akan terjadi pada Adrian.
Suatu sore, di depan asrama, Adrian memberanikan diri bertanya.
"Emil, kamu tuh sebenernya siapa, sih? Maksudku ... bukan cuma 'anak murid yang murung'. Tapi kayak ... kamu nyimpen banyak rahasia."
Emil sempat terdiam. Tatapan matanya menerawang jauh ke arah matahari yang hampir tenggelam.
"Mungkin suatu hari aku bisa cerita. Tapi belum sekarang."
Adrian menatapnya lama. Ingin menuntut, tetapi tak kuasa. Ia hanya mengangguk pelan, lalu menjawab dengan nada rendah,
"Aku bisa nunggu, kok. Tapi jangan terlalu lama. Karena aku udah gak punya siapa-siapa lagi selain kamu."
Emil menggenggam tangannya sebentar, hangat dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu. Adrian tersenyum bukan karena terpaksa, melainkan karena ia percaya, segala luka akan pudar oleh waktu. Termasuk gosip buruk yang menerjang reputasinya dan sebuah kesepian.
Sore itu, kantin sekolah mulai sepi. Hanya tersisa beberapa meja yang ditempati murid-murid yang malas pulang cepat. Di pojok ruangan dekat jendela, dua sosok duduk berdampingan.