Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #25

Bab 25 - Pentas Seni

Lapangan utama Veridian High School malam itu berubah menjadi lautan cahaya. Lampu-lampu gantung berjajar rapi di antara tenda-tenda kecil dan panggung megah di tengah. Para siswa berlalu-lalang mengenakan pakaian terbaik mereka, wajah-wajah dipenuhi semangat, dan udara penuh aroma makanan dari stan-stan kuliner yang dijaga bergiliran oleh kelas-kelas.

Pentas Seni akhirnya tiba. Sebuah malam yang hanya datang dua tahun sekali. Malam di mana setiap murid bebas mengekspresikan jiwa seninya di hadapan seluruh penghuni sekolah.

Di tengah keramaian, Adrian berdiri berdampingan dengan Emil. Ia mengenakan kemeja biru tua dengan blazer abu tipis, sedangkan Emil tampil sederhana dalam gaun hitam bermotif bintang-bintang perak yang berkilau saat tertimpa cahaya. Mereka tampak menyatu, saling menyamankan meski tetap menjadi sorotan beberapa mata yang masih menilai mereka aneh.

Adrian menghela napas panjang, menyaksikan pertunjukan drama komedi yang dipentaskan oleh siswa-siswi kelas 10. Ia tersenyum, tetapi senyum itu tidak sepenuhnya utuh.

“Harusnya aku ada di sana,” gumamnya pelan. “Entah di balik layar atau sekadar punya naskah yang dibacakan. Dulu aku yang bantu rancang panggung dua tahun lalu. Sekarang bahkan namaku pun hilang dari daftar panitia.”

Emil hanya mengusap pelan punggungnya, seperti meredakan ombak dalam dadanya.

“Kamu masih Adrian yang sama, kok. Cuma waktunya belum pas. Tapi panggung itu belum selesai. Masih akan terus berdiri dan kamu pasti balik lagi ke sana.”

Adrian melirik Emil. Ada sesuatu dalam sorot mata gadis itu yang seperti selalu mampu menenangkannya. Ia tersenyum lemah.

“Kadang aku merasa semua ini lucu. Aku dulu yang nolongin dia keluar dari lubang. Sekarang dia naik ke panggung, aku ditinggal di belakang. Kayak ... nolongin anjing kejepit. Yang dibalas malah digigit.”

Emil terkekeh, ringan tetapi menyiratkan pahit.

“Anjing kejepit itu biasanya cuma tahu dua hal: panik dan menggigit. Tapi bukan berarti kamu salah udah nolongin.” Ia menoleh, menatap Adrian dalam-dalam. “Yang kamu lakuin, tetap benar. Yang dia lakuin, itu yang salah.”

Saat pertunjukan drama berakhir dan pembacaan puisi mulai dipentaskan oleh siswa kelas 11, Emil menggenggam tangan Adrian. Tidak ada karya Mahanta malam itu. Tidak ada nama Adrian di brosur program acara. Namun, tidak apa-apa. Malam belum usai.

Lalu akhirnya, band sekolah naik ke panggung. Lampu diredupkan, hanya menyisakan cahaya warna-warni dari atas panggung. Denting gitar mengalun pelan, lagu pembuka bergema ke seluruh penjuru lapangan. Lagu romantis yang sangat familiar di kalangan mereka. Lembut, mengambang, mengundang perasaan yang mengendap dalam diam.

Lihat selengkapnya