Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #26

Bab 26 - Belajar Kembali Lebih Giat

Semester kedua dimulai tanpa sorak-sorai, tanpa perayaan. Tak ada lagi sisa euforia Pentas Seni. Tak ada waktu pula untuk berleha-leha. Bagi Adrian, waktu kini adalah angka.

Angka IPK, angka harapan, angka yang harus ia kejar untuk menebus semester satu yang hilang dari lembar rapor.

IPK minimal 3.7 di tujuh pelajaran utama, dan 3.3 di empat pelajaran lainnya. Itu syarat mutlak agar bisa naik ke kelas 12. Tidak ada toleransi, tidak ada kelonggaran. Semua harus ia perjuangkan sendiri.

Kamar 307 kini terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Tidak ada lagi suara buku Arman yang terjatuh dari rak. Tidak ada lagi perdebatan kecil antara mereka tentang cara paling efisien menyelesaikan soal kalkulus dasar atau membedah literatur sejarah Terattian.

Di meja belajarnya yang menghadap jendela, Adrian duduk memeluk tubuhnya sendiri. Di luar, langit sore berwarna jingga muda. Ia menyalakan lampu belajar dan membuka buku Biologi, memaksakan diri untuk memahami sel-sel darah dan sistem limfatik.

Di dinding, tempelan kertas berisi jadwal belajar harian tertulis rapi. Ia sudah menyusun semuanya secara ketat:

 

Senin dan Kamis: Matematika & Kimia

Selasa dan Jumat: Biologi, Ekonomi, & Bahasa

Rabu: Sejarah & Fisika

Sabtu: Ulangan mandiri

Minggu: Evaluasi & Review

 

Tiap malam, Emil akan meneleponnya sebentar, menanyakan apakah ia makan dengan cukup, apakah ia sempat istirahat, apakah ia sudah selesai belajar hari itu dan meskipun kadang suara Emil terdengar letih, gadis itu tetap mencoba menyelipkan lelucon atau trivia kecil soal mitologi Tarot atau bintang-bintang, membuat Adrian tersenyum di tengah rasa tertekan.

Akan tetapi, tetap saja ... rasa hampa itu ada.

Di malam-malam tertentu, ia terbangun dan hampir saja ingin memanggil,

"Man, udah tidur belum?"

Tapi yang menjawab hanyalah bayangan di sisi lain tempat tidur yang kosong.

Di sisi lain asrama, Arman pun melewati hari-hari yang sama beratnya. Ia belajar keras, bahkan lebih keras dari sebelumnya. Namun, kini ia melakukannya dari kamar 201, bersama teman sekamar baru yang tidak banyak bicara dan lebih suka mendengarkan musik pakai headset sepanjang waktu.

Kadang Arman terpaku lama menatap soal Matematika yang dulu biasa ia diskusikan dengan Adrian.

Kadang ia merasa ingin mengetuk kamar 307, cuma buat nanya satu soal ... atau sekadar membagi cerita lucu dari kelas.

Tapi selalu ia urungkan. Ada jarak, ada luka yang belum selesai.

Meski tidak saling bicara, mereka tahu, perjuangan mereka kini berjalan di jalur masing-masing. Sama-sama sunyi, sama-sama berat, dan sama-sama merindukan sesuatu yang dulu terasa biasa, tapi sekarang terasa jauh.

Bahkan, kamar 307 tetap jadi saksi bisu persahabatan erat mereka dulu.

Tempat yang dulu penuh tawa, kini menjadi ruang sepi yang mencatat perjuangan seorang remaja yang sedang bertumbuh. Yang sedang mencoba bangkit. Yang ingin membuktikan ... ia bukan hanya rumor, bukan hanya aib, bukan hanya cerita yang dibisikkan dari lorong ke lorong.

Ia adalah seseorang yang sedang belajar menjadi dirinya sendiri dengan lebih kuat dan lebih giat.

Lihat selengkapnya