Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #28

Bab 28 - Pembuktian dan Penentuan

Tahun ajaran baru dimulai. Siswa-siswa baru berseragam rapi memasuki gerbang Veridian High School dengan semangat dan harapan. Di antara keramaian wajah-wajah baru itu, berdiri Emil yang kini duduk di bangku kelas 11. Sementara Adrian, Arman, dan Anna telah menjadi murid-murid kelas 12. Mereka menjadi “abang dan kakak kelas” yang diam-diam diamati adik-adik baru.

Akan tetapi, bagi Adrian, tahun ajaran baru ini bukan hanya tentang status senior. Ada sesuatu yang membayangi pikirannya. Bukan soal nilai, bukan soal klub, bukan soal masa depan. Ini soal dirinya sendiri.

Emil tahu akan hal itu.

Suatu siang, mereka duduk di bangku taman belakang sekolah, yang teduh oleh naungan pohon mahoni tua. Angin meniup perlahan, halaman sekolah berkilau oleh cahaya matahari yang jatuh dari sela-sela dedaunan.

“Kak,” kata Emil tiba-tiba. “Aku rasa, kita harus mulai.”

Adrian mengerutkan alis. “Mulai apa?”

“Pembuktian dan penentuan.”

Mata Emil menatap serius, tidak lagi sekadar penuh kehangatan seperti biasanya. Kali ini ia membawa sesuatu yang lebih besar dari sekadar cinta remaja atau curhatan harian.

“Pembuktian?” Adrian mengulang. “Maksudmu … tentang itu?”

Emil mengangguk pelan. “Iya. Tentang tulisan Kakak … tentang kemungkinan itu. Kita harus tahu. Bukan dengan dugaan, nggak dengan ketakutan, tapi dengan … eksperimen.”

Adrian menunduk. Sejenak sunyi. “Kalau … kalau ternyata benar?”

“Kita akan tahu bagaimana menjaganya. Tapi kalau salah?” Emil menyandarkan tubuhnya. “Kakak bisa tenang. Bisa menulis tanpa dihantui ketakutan.”

Adrian diam, masih ragu. Emil pun mendekat sedikit, menatap tajam, lalu berkata tegas. “Tulis aja dulu.”

Akhirnya, di ruang baca yang sepi, Adrian menulis sebuah kalimat perintah sederhana: “Jika ada sampah di lingkungan sekolah, buanglah ke tempat sampah.

Satu kalimat ringan, tidak berbahaya. Namun, tangan Adrian gemetar saat menuliskannya, seperti menyusun mantra yang bisa merusak kenyataan.

Emil menatap tulisan itu, lalu mengambilnya.

“Yang jadi percobaan ....” Emil berbisik, “Kak Arman.”

Adrian mendongak kaget. “Apa? Kamu gila? Ngapain harus Arman?”

“Karena dia ... belum sepenuhnya percaya Kakak lagi. Artinya reaksinya akan alami, tidak terpengaruh simpati. Kita butuh kejujuran dari reaksinya.”

Adrian mengatup bibir. Wajahnya menegang, tetapi akhirnya mengangguk perlahan.

Emil berjalan menuju lapangan tengah, tempat Arman biasa duduk setelah kelas olahraga. Adrian sendiri bersembunyi di balik lorong perpustakaan lama, dari sana ia bisa melihat segalanya.

Emil menghampiri Arman dengan santai, menyodorkan kertas itu, berkata enteng,

“Baca ini bentar, opini temenku bagus katanya.”

Arman menerima kertas itu, membaca sekilas tanpa perubahan ekspresi. Di sekitarnya, ada seonggok plastik minuman jatuh tepat di dekat bangku tempatnya duduk. Adrian menahan napas, Emil menahan degup jantungnya.

Arman selesai membaca, lalu berdiri dan berjalan menjauh, melewati sampah itu tanpa menoleh.

Sampah itu tetap tergeletak di sana. Tidak tersentuh. Emil dan Adrian saling memandang dari kejauhan. Keduanya menghela napas lega bersamaan.

“Tidak terjadi apa-apa,” gumam Emil dengan suara ringan.

“Tidak terjadi apa-apa,” ulang Adrian. Kali ini dengan senyum kecil yang terasa seperti embun pertama setelah musim kemarau panjang.

Lihat selengkapnya