Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #29

Bab 29 - Salah Langkah

Senja benar-benar belum berganti malam. Namun, detik terasa bergeser pelan seperti enggan menua, seperti menahan waktu di dalam kamar 314 itu.

Adrian masih berdiri di depan pintu, tangannya belum menyentuh gagang. Emil duduk bersila di atas kasurnya, wajahnya tenang dalam cahaya lampu meja yang hangat. Namun, ada binar dalam matanya seolah-olah berkata, “Tinggallah sebentar lagi.”

Tatapan mereka bersilangan. Sunyi. Tidak ada kata, hanya pandangan yang terlalu lama, terlalu dalam untuk dihindari.

Perlahan, seolah-olah ditarik oleh sesuatu yang tidak terlihat, Adrian melangkah mendekat. Ia duduk di sisi kasur, meraih pipi Emil. Jemarinya menyentuh dengan ragu, lalu dengan satu gerak sunyi … Adrian mengecup bibir Emil. Lembut, sebentar, tetapi terasa begitu nyata.

Emil sempat terkejut. Tubuhnya sedikit menegang, tetapi tidak menolak. Ia hanya diam, menerima kecupan itu tanpa suara.

Setelahnya, mereka kembali bertatap mata, cukup lama. Sorot itu mengandung pertanyaan yang tidak terucap dan akhirnya Adrian berkata pelan, “Apakah ingin terus berlanjut?”

Emil tidak menjawab dengan kata. Ia hanya mengangguk perlahan.

Mata Adrian mengerjap sekali, lalu ia mulai membuka kancing kemejanya, dimulai dari paling atas.

Satu kancing terbuka.

Kancing kedua menyusul …

Akan tetapi, tepat saat jari Adrian menyentuh kancing ketiga, Emil memejamkan mata, kepalanya bergetar halus seperti menahan sesuatu. Dalam sekejap, mata itu membuka dengan sorot berbeda. Tajam. Dalam. Bukan seperti Emil biasanya.

“Jangan dulu!” bisiknya lirih. Suaranya berubah, nyaris seperti bukan milik Emil.

Adrian tersentak. Seolah-olah disadarkan oleh cahaya di tengah kegelapan. Ia berhenti, tangannya terlepas, napasnya tercekat.

Emil menggeleng pelan, sorot matanya perlahan kembali lembut, kembali menjadi dirinya sendiri. Namun kali ini, justru ia yang kebingungan melihat Adrian yang masih berdiri mematung, dua kancing atas sedikit terbuka tetapi badannya masih tertutup kaos oblong putih.

“K-kak?” gumam Emil pelan.

Sontak Adrian kembali mengancingkan kemejanya yang sempat terbuka dengan tergesa-gesa. Tangannya gemetar saat mengancingkan bagian depan yang masih terbuka karena kancingnya belum masuk.

“Maaf … maaf … gue emang bodoh banget!” serunya terbata, membuang pandangan dan tidak berani menatap Emil.

Lihat selengkapnya