Angin lembut mengusap pucuk-pucuk pohon angsana di halaman depan, seolah-olah ikut mendengarkan gumam yang tidak terdengar. Gumaman dari masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Emil duduk di bawah kanopi kecil dekat perpustakaan. Di pangkuannya tergeletak sebuah buku tua berisi tafsir kartu tarot klasik, halaman-halamannya penuh coretan tangan dan warna spidol stabilo. Tangannya memutar-mutar kartu The High Priestess yang ia sisipkan dari set tarot favoritnya, pandangan matanya kosong, tetapi pikirannya berkecamuk.
“Antara masa lalu, sekarang, dan masa depan,” bisiknya.
Sudah lama ia tertarik pada konsep itu. Ketertarikan yang awalnya sekadar hobi, kini perlahan terasa seperti panggilan. Terlebih setelah banyak kejadian yang dialaminya. Beberapa kejadian ganjil yang tidak bisa dijelaskan dengan nalar biasa. Seperti bisikan yang datang dari dirinya sendiri. Seolah-olah ada dirinya lain yang lebih tahu, lebih mengerti, dan lebih berani.
Beberapa waktu lalu, ia sempat menyadari satu hal, saat-saat ketika tubuhnya menggigil, kepala bergetar, dan matanya terpejam, bukan hanya ketidaksadaran biasa. Ia seperti "berubah" atau lebih tepatnya "disisihkan" oleh versi dirinya sendiri dari masa depan.
Ia mulai menyusun pola.
Versi masa depannya, entah berapa tahun lebih tua, bisa datang untuk beberapa detik dan mengambil alih dirinya, biasanya dalam situasi genting. Lalu, setelahnya, hanya meninggalkan bekas samar: bisikan, perasaan aneh, dan kadang sedikit ingatan visual yang muncul seperti mimpi sisa tidur siang.
Misalnya ketika ia tiba-tiba tahu soal kedekatan mencurigakan antara Adrian dan Andhika. Ia tidak sedang mengintai. Tidak sedang menguping. Ia hanya tahu. Lalu ia beri tahu Arman. Namun, setiap kali mencoba mencegah, selalu gagal. Selalu saja tubuhnya yang kini menolak untuk bertindak lebih jauh, dan dirinya terlempar kembali ke masa kini.
Atau ketika Adrian tengah memohon pada Kepala Sekolah untuk memberi keringanan pada Arman. Saat itu, jiwa masa depan Emil sempat menyusup dan membisikkan satu kalimat pendek yang tidak bisa ia lupakan.
“Kekuatan Adrian bukan pada kata-katanya, melainkan pada niat dan kepercayaannya.”
Benar saja. Kata-kata Adrian saat itu bukan sekadar retorika. Tidak pula bentuk manipulasi, tetapi sungguh-sungguh dari hati dan kekuatan itulah yang membuat kepala sekolah luluh, bahkan tanpa alasan logis yang kuat.
Kini, Emil mulai sadar.
Kemampuan yang ia miliki bukan kekuatan biasa. Ia tidak bisa memaksa masa depan. Tidak bisa menebak setiap jalan cerita. Bahkan, versi masa depannya pun tidak selalu bisa menuntaskan misi. Kadang, masa lalu dalam dirinya memberontak, enggan dilepaskan, hingga kesadarannya terhempas balik ke titik waktu sekarang.
Tapi satu hal pasti, semua ini bukan kebetulan.
Dirinya di masa depan sedang menyusuri jejak. Mungkin berusaha menemukan kebenaran atau mungkin memperbaiki kesalahan besar yang pernah terjadi. Lalu, semua berpusat pada satu hal yaitu Adrian.
Emil menggenggam kartu tarot di tangannya lebih erat. The High Priestess masih menatapnya dengan mata tertutup, seolah-olah berbicara lewat bisu.