Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #31

Bab 31 - Kebenaran Tentang Emil

Emil menatap Adrian sesaat. Sorot matanya belum kembali sepenuhnya, seolah-olah dirinya yang sekarang masih dalam bayang-bayang sosok dirinya yang lain, yang menurutnya datang dari entah masa ke berapa.

Pintu kamar tertutup. Lampu kamar menyala redup, hanya menyisakan cahaya dari jendela yang membuat ruangan terlihat temaram.

Adrian duduk di ujung ranjangnya. Tangannya masih sedikit gemetar, tetapi kini bukan karena takut, melainkan karena rasa ingin tahu yang makin tidak tertahankan.

“Emil,” ucapnya perlahan, “Apa yang sebenarnya terjadi? Maksudku ... kenapa kamu bisa berubah begitu cepat? Sorot matamu beda banget dan ... ya ... kamu tahu. Tamparannya juga bukan ‘Emil’ banget.”

Emil tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam kemudian duduk di kursi belajar di dekat jendela. Cahaya remang dari luar memantulkan bayangannya di lantai.

“Aku tahu ini saatnya,” katanya pelan. “Kamu harus tahu semuanya.”

Adrian menegakkan tubuh. Wajahnya serius, menunggu dengan sabar dan saat itulah Emil mulai membuka tabir yang selama ini ia simpan.

“Kak Iyan … kamu tahu selama ini aku suka tarot, kan? Masa lalu, sekarang, dan masa depan. Ternyata itu bukan sekadar hobi. Sejak beberapa tahun terakhir, aku mulai merasakan sesuatu yang ganjil dalam diriku. Kadang ada momen di mana aku merasa... tahu apa yang akan terjadi. Atau tahu sesuatu yang tidak pernah aku pelajari. Kadang, aku bisa merasakan sesuatu dari orang lain, bahkan sebelum mereka bicara.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Tapi itu bukan intuisi biasa. Aku baru sadar … itu bukan aku yang sekarang. Tapi aku yang ... dari masa depan.”

Adrian mengerutkan kening. “Hah? Maksudnya ... kamu bisa melihat masa depan?”

“Bukan melihat,” Emil menggeleng. “Lebih tepatnya ... ‘diriku’ dari masa depan kadang mengambil alih tubuhku di masa kini. Hanya sebentar. Biasanya saat momen genting dan setelahnya, aku selalu kehilangan sebagian memori dari waktu itu. Tapi perlahan, jiwaku di masa sekarang mulai bisa menerima bisikan dari dia. Maksudnya dari aku yang di masa depan.”

Adrian terdiam. Mulutnya terbuka sedikit, seperti ingin bertanya, tetapi tidak jadi. Emil melanjutkan dengan suara lebih pelan:

“Pertemuan kita pertama kali pun bukan kebetulan, Kak. Aku ... aku yakin, saat itu jiwaku di masa depan yang mendorongku untuk memanggilmu. Karena kalau aku pikir-pikir lagi, dari sisi kepribadianku saat itu ... aku nggak akan berani, apalagi sama anak cowok pendiam yang belum aku kenal.”

Adrian akhirnya bicara, suaranya nyaris berbisik, “… Jadi semua ini ... memang udah dirancang sejak awal?”

“Bukan dirancang. Tapi … diarahkan. Aku percaya, ada hal besar yang akan terjadi dan bagian dari diriku yang di masa depan tahu itu.

Dia berusaha keras agar aku … bukan … kita nggak salah langkah. Makanya waktu itu, dia masuk dan menghentikan kita malam itu.”

Lihat selengkapnya