Suara dentingan nampan jatuh masih terngiang di telinga, bahkan saat kantin mulai kembali riuh oleh obrolan dan suara sendok garpu. Adrian berdiri kaku di tengah kekacauan kecil itu, dengan celana sedikit basah oleh sup dan dada bergemuruh oleh amarah yang mendidih.
Andhika duduk tidak jauh dari situ. Bersandar santai pada kursinya, ia menatap Adrian dengan senyum tipis menyebalkan. Bak senyum seseorang yang tahu ia menang tanpa perlu berkata banyak.
“Duh, hati-hati dong, bro,” ucapnya lagi, kali ini dengan nada lebih sengaja, seperti sengaja mengundang ledakan.
Ya … dan benar saja, Adrian melangkah maju. Bahunya menegang, napasnya memburu. Kedua tangannya terkepal. Matanya merah. Namun, sebelum langkahnya mendekat lebih jauh—sebelum pukulan bisa mendarat di wajah Andhika—sebuah tangan meraih lengannya dari samping.
“Yan!” suara Arman terdengar, berat tapi tegas. “Udah. Jangan.”
Adrian menoleh cepat, matanya masih menyala.
“Gue nggak tahan, Man. Dia udah keterlaluan.”
“Tahan dulu, Yan. Jangan sia-siain sikap baik lo cuma buat orang yang hatinya udah busuk,” ucap Arman, masih memegang erat lengan Adrian. “Lo mau dihukum? Lo mau nilai lo jatuh gara-gara dia?”
Adrian terdiam sejenak. Tarik napas dalam-dalam. Tangan masih mengepal, tetapi getarannya mulai mereda. Pelan-pelan, ia menurunkan bahunya dan mengalihkan pandang ke lantai.
Andhika masih duduk di tempatnya, ekspresinya datar. Kali ini tidak lagi tersenyum. Mungkin karena kehadiran Arman, mungkin karena ia tahu batas.
Tragedi itu akhirnya bisa dilewati. Tidak lama kemudian, dari sisi kantin, Anna muncul. Di sisi lain, Emil datang beberapa detik kemudian. Mereka sempat saling tatap, tidak berkata-kata.
Adrian hanya berdiri, memandangi sisa sup di lantai. Arman menepuk bahunya pelan.
“Lo bisa marah. Tapi jangan sampai amarah itu ngerusak hidup lo sendiri.”
Adrian mengangguk kecil, meski kepalanya menunduk. Dendam itu belum hilang. Namun ia tahu, hari ini bukan waktunya membalas.
Baik Anna maupun Emil langsung menggiring pasangannya masing-masing menjauh dari keributan. Tidak ada pertanyaan, tidak ada teguran. Seolah-olah semua sudah mengerti, ini bukan saatnya membahas apapun.
Langit siang itu mendung menggantung, seperti menahan hujan yang urung jatuh. Lorong menuju perpustakaan kecil di belakang gedung sekolah terasa sunyi dan agak lembap. Gudang tua di sisi kiri lorong itu sudah jarang dipakai, dan area sekitarnya kerap jadi tempat persembunyian murid-murid yang menyalahgunakan waktu kosong.
Emil melangkah sendirian, membawa dua buku yang hendak ia kembalikan. Ia tahu jalan ini jarang dilewati, tetapi lebih cepat dan sepi, juga ia memang terbiasa sendiri.
Akan tetapi, suara tawa pelan dan aroma asap tipis menghentikan langkahnya. Sekelompok siswa laki-laki berseragam abu-abu-putih tengah nongkrong di samping gudang, sebagian duduk di atas tumpukan kayu, sebagian bersandar sambil mengobrol. Mereka tampak menikmati rokok yang disembunyikan di balik telapak tangan. Tatapan mereka langsung tertuju pada Emil.
“Eh, lihat deh, bunga sekolah lewat sendirian,” celetuk salah satunya, terkekeh.
Emil tidak menjawab. Ia mempercepat langkahnya. Hatinya sedikit tidak tenang, tetapi tetap menjaga wajahnya setenang mungkin. Ia sudah hampir melewati mereka, ketika sebuah suara berat menahan langkahnya.
“Hei, kenalan dong. Jangan sombong amat,” ucap seorang siswa bertubuh besar. Rambutnya cepak acak-acakan, badannya bongsor. Namanya Andre. Ia menyusul Emil dengan langkah lebar.
“Gue cuma mau ke perpus,” jawab Emil pelan, masih berusaha berjalan.
Akan tetapi, Andre malah menghadang jalannya, berdiri terlalu dekat, menatap dengan senyum tidak sopan.
“Udah lama gue perhatiin. Lo manis, ya. Jarang-jarang cewek jalan sendirian kayak gini.”