Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #33

Bab 33 - Sekolah Mengadakan Penyelidikan

Kamar 307 terasa lebih sesak dari biasanya. Langit di luar jendela sudah menggelap, tetapi lampu neon di langit-langit hanya memancarkan cahaya pucat. Empat remaja duduk melingkar di atas kasur dan lantai, semua terdiam, kecuali bunyi napas dan derit kursi ketika Anna berdiri.

“P3K-nya ada di bawah meja,” gumam Adrian sambil masih memegangi bahunya yang nyeri.

Anna dengan sigap mengambil kotak putih itu, membuka isinya, dan mengeluarkan perban serta salep. Ia berlutut di depan Arman dan mulai mengikat pergelangan tangan yang bengkak.

Arman masih belum bicara. Ekspresinya campur aduk antara ngeri, bingung, dan kagum. Tatapannya terus tertuju pada Adrian yang hanya menunduk, belum berani menatap siapa pun. “Lu …?” Arman akhirnya bersuara, suaranya rendah dan nyaris bergetar. “… dulu bilang kekuatan lu itu di tulisan, bukan … kayak tadi.”

Adrian tidak langsung menjawab. Matanya masih menatap ubin lantai.

“Karena gue juga pikir gitu,” sela Emil, pelan tetapi tegas. “Gue dan Adrian sama-sama baru ngerti … kekuatannya lebih rumit dari yang kita kira.”

Arman menoleh ke Emil. “Jadi ... itu bukan tulisan, justru ... suara? Perintah verbal?”

Emil mengangguk. “Tapi kayaknya gak sembarang perintah dan gak ke sembarang orang juga. Harus ada momen tertentu dan tadi, dia juga nyentuh Andre sebelum ngucapin.”

Anna, yang sudah selesai membalut tangan Arman, berdiri, dan memberikan kotak P3K kepada Emil.

“Buka bajunya. Bahu kamu lebam,” kata Emil cepat, menghindari nada romantis atau canggung.

Adrian diam sejenak, lalu akhirnya menurut. Ia membuka seragamnya perlahan, menyeringai tipis saat nyeri menjalar dari ototnya. Emil mengompres bahunya dengan air dingin dari botol minum yang dibungkus kain bersih, lalu membalutnya dengan perban elastis.

“Jadi ... sentuhan plus perintah langsung sama dengan efek dominan?” gumam Arman.

Emil mengangguk lagi. “Kayaknya begitu dan itu ... serem banget kalau disalahgunakan.”

“Makanya jangan disalahgunain,” ucap Adrian lirih, akhirnya membuka suara. “Gue bahkan tadi ... gak sengaja ngomong gitu. Bukan beneran mau bikin dia nyakitin diri sendiri.”

Anna menatapnya dengan mata jernih. “Tapi dia ngelakuin semuanya karena lu bilang dan memerintahkan itu.”

Sunyi kembali mengisi kamar. Hanya desiran angin dari jendela yang lupa ditutup.

“Besok, pasti sekolah bakal nyari tahu,” kata Arman akhirnya. “Apalagi Andre gak sadarkan diri. Kalau dia sadar dan ngadu, kita bisa kena masalah semua.”

“Apalagi tempat itu gak ke-cover kamera,” tambah Emil.

Lihat selengkapnya