Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #34

Bab 34 - Jejak yang Tertinggal

Sekolah tampak lebih sunyi dari biasanya, seolah-olah semua siswa diam-diam menahan napas, takut terseret dalam pusaran masalah yang kini mencuat.

Di gedung tua yang dijadikan gudang belakang sekolah, garis polisi telah terpasang, dan beberapa jejak sepatu masih membekas di tanah yang belum sempat dibersihkan. Suasana di tempat itu terasa pengap, seolah-olah menyimpan sesuatu yang belum selesai.

Tiga penyidik muda dari Kepolisian Kota Langkarsa berdiri saling berhadapan. Kirana—wanita berambut hitam pendek dengan tatapan tajam—berjongkok di dekat bekas darah yang mengering. Di sampingnya, Zeno memeriksa selembar tisu yang terjatuh tidak jauh dari tembok.

Aiman berdiri tidak jauh dari mereka, tubuhnya menjulang tegap, dada bidang, bahu lebar dan kokoh seperti batu karang. Ia menatap sekitar dengan ekspresi tenang, tetapi matanya penuh kalkulasi. Gerakannya sigap dan tegas, seorang penyelidik yang sudah lebih dari cukup terbiasa dengan kejadian yang tidak bisa dijelaskan dengan nalar biasa.

“Banyak yang janggal,” gumam Kirana.

“Yang janggal justru lebih menarik,” jawab Zeno sambil menyeringai kecil, “tapi juga lebih susah ditebak.”

Kirana bangkit berdiri dan menatap layar tablet yang memutar cuplikan video dari kamera pengawas. Terlihat Andre berjalan sendirian di lorong, beberapa detik kemudian disusul Adrian, lalu Arman.

“Kalau urutannya begini, kenapa Andre yang babak belur?” tanya Aiman dengan suara dalam dan mantap. “Seolah-olah Adrian dan Arman mengejarnya.”

“Masalahnya,” sambung Kirana, “rekaman aslinya hilang sebagian. Ada lompatan waktu di antara frame Andre dan Adrian.”

“Video ini bocor ke medsos. Viral. Seolah-olah kita tinggal lihat dan percaya mentah-mentah.” Zeno menambahkan sambil menyilangkan tangan. “Padahal editan ini bisa dibuat siapa saja.”

“Dan tempat ini,” Aiman menunjuk area kamera yang tidak terjangkau pengawas, “memang titik buta. Tidak ada rekaman langsung saat kejadian sebenarnya.”

Kirana mengangguk pelan. “Kita datangkan anak-anak itu. Perlu kita tahu versi mereka.”

Sore itu, seorang guru BK mengetuk pintu asrama 307, meminta Adrian dan Arman untuk ikut ke ruang kepala sekolah. Keduanya tidak bicara banyak sepanjang perjalanan. Arman hanya melempar pandangan sekilas kepada Adrian, yang masih mengenakan kaus longgar untuk menyembunyikan bahunya yang memar.

Di ruang kepala sekolah, tiga penyidik sudah menunggu. Mereka mengenalkan diri secara singkat, lalu segera membuka sesi tanya-jawab.

“Langsung saja,” kata Kirana. “Apa yang terjadi di gudang sekolah hari itu?”

Adrian saling pandang dengan Arman sejenak sebelum menjawab, suaranya mantap meski pelan. “Andre menyerang saya duluan. Dia bawa balok kayu. Saya kena di bahu. Arman datang nolongin saya. Kami berusaha nahan dia, tapi dia lepas.”

Arman mengangguk, menambahkan, “Saya kena juga di tangan. Lihat sendiri aja,” katanya sambil menunjukkan perbannya.

“Kenapa kalian bisa berada di tempat itu bersamaan?” tanya Zeno, seolah-olah menggali motif.

“Gak sengaja,” jawab Adrian. “Saya lewat sana dari arah kelas karena ada urusan. Arman katanya lihat Andre dari jauh dan curiga. Kami gak janjian.”

Aiman masih berdiri tegak, kedua tangannya menyilang di dada, sorot matanya menelisik. “Setelah itu, apa yang terjadi? Kami ingin mendengar versi kalian.”

Adrian menghela napas. “Andre kayak ... kehilangan kendali. Dia tiba-tiba nabrak tembok sendiri. Kami gak ngerti kenapa. Mungkin ... karena terlalu emosi.”

“Jadi, bukan kalian yang menyuruh dia menabrakkan diri?”

Lihat selengkapnya