Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #35

Bab 35 - Ujian Semester dan Liburan di Pantai

Empat bulan berlalu sejak insiden yang sempat mengguncang sekolah. Waktu terus berjalan, membawa para murid kelas 12 Veridian High School kembali pada kenyataan akademik yang tidak bisa dihindari: ujian semester pertama.

Ketegangan menjalari lorong-lorong sekolah setiap pagi. Suara helaan napas, gumaman hafalan yang terburu-buru, dan keluh kesah bercampur dengan hiruk pikuk biasa, semua menandakan bahwa masa perjuangan tengah berlangsung. Adrian, meski bukan siswa terpintar, kini lebih fokus dari sebelumnya. Pengalaman yang mereka lalui beberapa bulan silam membuatnya jauh lebih dewasa dalam menyikapi waktu dan tanggung jawab.

Arman, seperti biasa, tetap jadi penyeimbang. Ia membantu Adrian memahami soal-soal Matematika dan Ekonomi hingga larut malam. Anna dan Emil saling menyemangati, saling memberi catatan, saling berbagi energi dan gula dari minuman ringan kemasan botol yang diselipkan diam-diam ke dalam ruang belajar.

Begitu ujian selesai, semua seperti menghela napas panjang dalam diam. Langit Kota Langkarsa seakan ikut merayakan kelulusan semester itu dengan taburan cahaya pagi yang hangat.

Liburan panjang semester akhirnya tiba.

Dan kali ini, giliran Arman yang mengajak. “Mansoli,” katanya dengan mata berbinar, “tempat gue tinggal, kampung halaman ... ada resort keluarga deket pantai timur. Yuk, kita liburan bareng.”

Ketiganya mengangguk setuju dan membuat rencana liburan itu menjadi lebih asik serta menyenangkan.

Resort keluarga Arman terletak di tepi pantai yang tenang, jauh dari pusat kota. Pasirnya putih, airnya jernih kehijauan. Angin laut membawa aroma garam dan kesegaran yang belum tercemar.

Anna mengenakan blouse putih berbahan katun longgar dipadu celana kain selutut berwarna pastel. Rambutnya dikepang dua agar tidak berantakan terkena angin. Sementara Emil mengenakan kaus biru tua dengan celana panjang tipis berbahan linen yang digulung hingga betis, tampak tetap sederhana namun manis. Keduanya lebih banyak bermain air di bibir pantai, berkejaran dengan ombak kecil sambil tertawa-tawa, kadang menjerit pelan saat air asin menyentuh kulit kaki.

Kini, pusat perhatian berada pada dua remaja absurd, tetapi terlihat gagah: Arman dan Adrian.

Keduanya tampil seadanya—tanpa kaus—memakai celana pantai yang serasi berwarna abu dan hitam. Tubuh mereka, kini lebih matang dibanding tahun-tahun sebelumnya, menunjukkan hasil dari latihan ringan dan masa pertumbuhan yang tidak main-main. Arman dengan bahu lebarnya dan lengan yang mulai berotot, serta Adrian dengan dada bidang dan empat otot perut yang sedikit lebih menonjol dari sebelumnya, tampak setiap kali cahaya matahari menimpa dari samping.

“Gue nggak nyangka lu segini fit-nya, Yan,” celetuk Arman sambil menyiramkan air laut ke arah sahabatnya.

Adrian tertawa sambil mundur, membalas lemparan air itu. “Lu yang ngajarin push-up tiap pagi. Salah lu sendiri.”

Gelak tawa pecah lagi. Ombak bergulung pelan di belakang mereka, menciptakan irama alami yang menenangkan.

Mereka saling berpacu menyusuri pantai, saling mengejar lalu menjatuhkan diri di pasir, menatap langit sore yang memerah.

Hari itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu, tidak ada rahasia. Tidak ada kekuatan aneh. Tidak ada bayangan masa depan yang menakutkan. Hanya hari libur, pasir, laut, dan tawa yang tidak dikurung beban apa pun.

Lihat selengkapnya