Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #36

Bab 36 - Rencana dan Siasat

“Saat kejadian yang melibatkan Andre, Adrian, dan Arman … aku ikut campur. Aku … menyebarkan video yang sudah direkayasa. Video itu … aku manipulasi dengan bantuan orang dari luar. Tujuanku? Menjatuhkan Adrian dan Arman. Karena aku merasa dipermalukan oleh mereka dan karena … aku masih menyimpan dendam.”

Andhika melanjutkan. “Aku juga menutupi banyak hal. Tentang ancaman, tekanan yang kuberikan pada Andre dan tentang rekaman CCTV yang kupalsukan. Semua itu salahku. Aku … minta maaf.”

“Sekian. Terima kasih.”

Pengakuan di depan publik ketika hari perpisahan angkatan mereka, mengundang penuh tanda tanya atas apa yang baru saja diungkapkan oleh Andhika. Semua terperangah, melongo, bahkan merasa tidak percaya atas pengakuan yang tidak terduga itu. Apa yang terjadi?

 

***

 

Beralih pada saat beberapa bulan lalu, jauh sebelum acara perpisahan dilaksanakan.

Tiga bulan yang lalu …

Mereka berempat kini duduk melingkar di teras belakang rumah keluarga Arman, di pinggiran kota Langkarsa, distrik Mansoli. Gemericik air dari kolam kecil dan semilir angin musim panas menjadi latar bagi perbincangan yang jauh dari biasa.

Arman duduk paling depan, bersandar santai tetapi matanya serius, menatap Adrian seakan menyusun strategi pertempuran.

“Gua kepikiran satu hal,” katanya membuka. “Masa SMA kita bentar lagi kelar. Lo semua ngerasa nggak sih, kayak ada sesuatu yang masih ‘menggantung’? Gua nggak mau lulus nanti sambil nenteng rasa kesal karena kita diem aja dibikin mainan sama si Andhika.”

Anna mengangguk pelan. “Kita nggak pernah benar-benar menyelesaikan semua. Andre aja belum tentu ngomong jujur sepenuhnya waktu itu.”

“Makanya,” lanjut Arman. “Gua punya ide. Rencana kecil buat ... nyentil Andhika. Gak kasar, gak bikin kita dihukum. Tapi ... cukup buat ngebalikin rasa percaya diri kita, dan ngasih dia pelajaran.”

Adrian mengangkat alis. “Dan peran gua apa di sini?”

Arman menyeringai. “Kekuatan lu, bro. Kita mulai dengan ngetes seberapa jauh fleksibilitas kemampuan lu itu. Gua butuh data. Sistem. Pola kerjanya. Kita harus ngerti dulu cara mainnya sebelum bikin taktik.”

Di dalam kamar Adrian malam itu, mereka mulai melakukan percobaan kecil.

“Coba,” kata Arman, menyodorkan botol minum ke Adrian. “Pegang tangan gua, terus bilang: ‘Minum sekarang juga.’”

Adrian menyentuh lengan Arman, menatap matanya sebentar, lalu dengan nada biasa namun tegas berkata, “Minum sekarang juga.”

Tanpa ragu dan tanpa bisa dicegah, Arman membuka tutup botol dan menenggak isinya dalam sekali teguk. Setelah itu ia batuk pelan, sedikit terkejut.

Lihat selengkapnya