Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #37

Bab 37 - Duel Harga Diri

Suara peluit wasit menggema di udara, disambut sorak sorai riuh dari para siswa yang berkumpul di pinggir lapangan outdoor sekolah. Langit Langkarsa tampak cerah, matahari menggantung tinggi dengan cahaya keemasan menyinari seluruh lapangan basket yang telah disiapkan untuk pertandingan persahabatan ini.

Adrian dan Andhika berdiri di tengah lapangan, saling menatap tajam.

Sebelum bola dilempar, tangan Adrian terulur. “Kita pasang pertaruhan harga diri,” ucapnya, suaranya tenang tapi penuh tekanan. Jemarinya menggenggam tangan Andhika dalam jabat erat.

Andhika sempat menaikkan alis, tertarik. “Pertaruhan?”

"Lu wajib baca tulisan motivasi di Mading karyanya dia pas pidato kelulusan di akhir semester!" lanjut Adrian dengan nada penuh penekanan sambil melirik cepat ke arah Arman, kemudian kembali menyorot mata tajam kembali ke arah Andhika.

Di balik ucapannya yang terdengar seperti lelucon biasa, ada sesuatu yang jauh lebih dalam. Sekilas, Arman mengangguk kecil dari pinggir lapangan. Itu tandanya bahwa perintah sudah diberikan.

Andhika menyeringai congkak. “Deal. Tapi kalau lu yang kalah ... enyah dari hidup gue. Gak usah deket-deket lagi. Anggap aja gak pernah ada lo di sekolah ini.”

Adrian tersenyum ringan. “Deal.”

Bola dilempar ke udara dan pertandingan pun dimulai.

Permainan berlangsung sengit sejak menit pertama. Andhika jelas bukan pemain sembarangan. Refleksnya tajam, dribble-nya cepat, dan tembakannya akurat. Ia mendominasi awal permainan, bahkan sempat mencetak dua angka beruntun yang membuat pendukung timnya bersorak gembira.

Arman, sebagai kapten tim Adrian, segera menyusun strategi ulang.

“Main sabar. Fokus defense, jangan kasih dia ruang tembak. Adrian, jaga dia ketat, ya,” bisik Arman saat jeda sejenak.

Adrian mengangguk. Meski bukan pemain hebat, latihannya selama ini membuahkan hasil. Ia cukup lincah dan yang terpenting adalah tekun.

Babak kedua pertandingan jauh lebih ketat. Arman melakukan lay-up cantik, disusul fast break oleh Adrian yang berhasil mencuri bola dari Andhika. Para penonton bersorak semakin heboh. Skor kini berimbang.

Andhika mulai frustrasi. Ia berusaha melakukan tekanan fisik, menjegal, menyikut, bahkan mencoba membuat Adrian terpancing emosi. Namun, Adrian bergeming. Ia hanya berpikir perintah telah dieksekusi dengan baik.

Beberapa menit jelang akhir, skor masih sama. Arman menerima umpan dari Adrian, mengecoh satu pemain, lalu melepaskan tembakan tiga angka yang bersih masuk ke ring.

Penonton meledak dalam sorakan. Namun, pertandingan belum selesai. Masih tersisa satu menit terakhir dan tim Andhika tidak tinggal diam. Mereka melancarkan serangan cepat, agresif, dan taktis. Adrian mulai kewalahan menjaga posisi. Keringat membanjiri wajahnya, dadanya naik turun dengan napas tersengal.

Andhika berhasil mencuri bola dari Adrian dan melakukan drive tajam ke arah ring. Dengan lompatan tinggi dan gerakan yang presisi, ia mengeksekusi lay-up yang membawa timnya menyusul skor.

Detik-detik terakhir berubah menjadi arena neraka.

Arman, yang menjadi harapan terakhir, menerima bola dari Teguh, salah satu member tim Adrian. Ia melesat ke depan, melompati dua pemain, dan melepaskan tembakan tiga angka dengan akurasi yang hampir sempurna.

Bola meluncur di udara. Waktu nyaris habis. Penonton menahan napas. Bola memantul di ring … satu kali … dua kali … lalu keluar.

Suara peluit panjang mengakhiri pertandingan.

Lihat selengkapnya