Sore hari di ruang klub sastra. Ketua klub atau Presiden Klub Sastra dari kelas 11, Vadi, sibuk menatap layar laptop dengan jari yang bergerak cepat membubuhkan tulisan pada perangkat digital. Duduk dengan wajah serius, ditemani secangkir teh terhidang pada meja kecil disebelahnya.
Adrian berjalan mendekati Vadi, orang-orang di klub terlalu sibuk dalam urusannya masing-masing untuk memperhatikan gerak-gerik Adrian.
Secepat yang ia bisa, langkah tegas dan mantap, memburu target yang mudah sekali didekati tanpa rintangan yang menyulitkan.
“Vadi …,” ucap Adrian pelan, tangannya tanpa ragu menekan pelan bahu Vadi.
Vadi menoleh sambil memegang cangkir teh dan menyeruput sedikit. “Apa, Kak?”
“Jika Arman meminta pasangin karyanya di mading sekolah. Jadikan itu sebuah permintaan khusus, kabulkan keinginannya.” Adrian tersenyum.
Vadi mengangguk pelan tanpa berkata-kata. Lalu, mellanjutkan kembali aktifitasnya tanpa ada curiga, perubahan sikap, apalagi menyanggah permintaan Adrian. Pikirannya secara tidak sadar telah tunduk yang sengaja dipupuk oleh Adrian sore itu.
Langit pagi sangat cerah berwarna biru bersih, seolah-olah turut memberi restu pada hari yang tidak biasa di Veridian High School. Hari terakhir bagi para siswa kelas 12, hari penghabisan dari tahun ajaran yang berat dan penuh gejolak: 2020–2021.
Adrian duduk di deretan tengah aula utama bersama Arman dan Anna. Jemari mereka sedikit gemetar, entah karena gugup menghadapi akhir masa SMA, atau karena menantikan hasil dari sebuah rencana besar yang sudah mereka rajut berbulan-bulan lalu.
Ujian akhir sudah selesai. Mata pelajaran terakhir telah mereka tuntaskan seminggu yang lalu. Kini, tinggal menunggu hasil akhir dan menjalani prosesi pelepasan siswa angkatan mereka yang akan segera dimulai dalam waktu beberapa menit.
Arman menyenggol pelan lengan Adrian. “Tulisan gue udah nempel di mading. Pas banget di bawah lampu sorot. Nggak mungkin dia nggak lihat.”
Adrian mengangguk, matanya masih terpaku ke panggung. “Tinggal lihat perintahnya aktif atau nggak!”
Tulisan di mading itu sederhana. Namun, terasa seperti palu keadilan bagi mereka bertiga yang telah menyusun siasat dengan hati-hati.
"Tidak ada yang lebih baik selain berkata jujur dan mengaku segalanya, biarkan sisi gelap itu terlihat tanpa ada yang ditutupi."
— Karya: A.R.
Bukan tulisan Adrian. Tidak perlu. Karena Andhika hanya diperintah untuk membaca tulisan di mading dan menyampaikan isinya saat pidato. Kini, seluruh persiapan telah matang.
Acara dimulai. Para guru duduk berjejer rapi di kursi kehormatan. Kepala sekolah membuka prosesi dengan pidato formal. Kemudian, satu per satu siswa unggulan dipanggil ke panggung untuk menerima penghargaan.
Hingga akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu datang.
“… Dan kini, mari kita dengarkan pidato perpisahan dari siswa terbaik angkatan ini—Andhika Wirawan.”
Sorak tepuk tangan membahana. Andhika berjalan penuh percaya diri ke arah podium. Rambutnya rapi, wajahnya tenang. Namun, di antara kerumunan, empat pasang mata memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan seksama.