Aksara Bersandiwara Mantra

R.J. Agathias
Chapter #39

Bab 39 - Aksara

Waktu terus bergulir setelah hari kelulusan. Meski bayangan tentang keadilan yang tak utuh masih membekas di benak Adrian, hidup tidak pernah menunggu siapa pun untuk larut terlalu lama dalam kecewa.

Kini, hari-hari mereka diisi dengan kesibukan baru: memilih universitas, menyiapkan berkas, mengurus administrasi, dan menjalani tes masuk kampus idaman.

Anna tertarik mengambil jurusan ilmu komunikasi. Arman, tentu saja, tak mau jauh-jauh dari dunia teknologi dan sains data. Sedangkan Adrian mulai merancang jalannya sendiri ke dunia sastra dan penulisan kreatif.

Suatu sore yang tenang, keempat sahabat itu kembali duduk di kamar asrama nomor 307 dan mungkin untuk terakhir kalinya. Emil sedang membaca buku sambil selonjoran di ujung kasur. Anna mencatat sesuatu di ponselnya, sementara Arman sedang membaca selebaran universitas yang terpampang di dinding.

Adrian, seperti biasa, duduk di sisi tempat tidur dengan notebook di pangkuannya, mengetik pelan-pelan cerita barunya.

Tiba-tiba, Arman menoleh, alisnya mengernyit.

"Eh, gue baru kepikiran," katanya, memecah keheningan. "Selama ini lu nulis nama lu Adrian A. Mahesa. Sebenarnya huruf A-nya itu apaan sih, Yan?"

Anna langsung ikut menoleh penasaran. “Iya ya, kok lu gak pernah cerita sih?”

Adrian sempat terdiam sebentar. Lalu, dengan senyum kecil dan nada tenang, ia menjawab,

"Aksara."

Ruangan itu hening sejenak.

Emil meletakkan bukunya perlahan. Anna menatap penuh arti. Arman tampak mencoba memahami lebih dalam makna di balik nama itu.

"Aksara Mahesa?" Arman mengulang perlahan, lalu terkekeh. “Nama lu tuh kayak puisi.”

Adrian tertawa kecil. "Nama itu bukan pilihan gue. Tapi ... entah kenapa, rasanya pas. Aksara itu simbol dari segala hal yang gak terucap tapi bisa ditulis."

Emil menyandarkan dagunya ke lutut. "Cocok sih. Kak Adrian hidup dari kata-kata dan sekarang ... kata-kata itu bahkan bisa mengubah sesuatu."

Adrian hanya tersenyum. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi di dalam hatinya, ia tahu betul bahwa nama itu bukan sekadar identitas. Itu adalah takdir.

“Dulu gue mikir,” ujar Adrian tiba-tiba, matanya menerawang ke langit-langit kamar, “kalau tulisan gue bisa ngubah cara pandang orang.”

Anna mengerutkan kening. “Emang iya gak sih? Maksudnya, lo kan emang jago nulis. Banyak orang yang suka tulisan lo. Bisa aja terinspirasi.”

Lihat selengkapnya