Adrian menarik napas panjang, berdiri di depan papan pengumuman kampus yang kini penuh dengan brosur info magang dan lowongan kerja paruh waktu. Usianya baru genap dua puluh, tetapi beban yang ia bawa terasa jauh lebih tua dari angka itu. Ia bukan lagi anak SMA yang bersembunyi di balik kata-kata. Ia adalah seorang mahasiswa, penulis, sekaligus anak rantau yang tengah merangkai masa depan.
Dua tahun telah berlalu sejak kelulusan dari Veridian High School.
Kini, ia berdiri sebagai mahasiswa semester empat di sebuah universitas negeri di kota Langkarsa. Kota tempat ia dulu menghabiskan masa SMA-nya. Kali ini, Langkarsa terasa berbeda. Bukan lagi sebagai tempat pelarian, melainkan pijakan awal untuk melangkah lebih jauh.
Sejak awal kuliah, Adrian tinggal di sebuah kamar asrama kecil tidak jauh dari kampus. Kamar itu sempit, dindingnya kusam, tetapi cukup tenang untuk menulis dan belajar. Ia mulai terbiasa hidup sendiri. Seperti memasak mi instan di tengah malam, mencuci pakaian sendiri, dan kadang tidur dengan kepala penuh angka pengeluaran.
Hubungannya dengan Emil masih terjaga. Sesekali mereka saling berkabar lewat pesan suara atau panggilan video. Saat liburan panjang datang, mereka menyempatkan diri bertemu di kota asal, sekadar menonton film atau duduk berdua di taman dekat stasiun.
Emil kini juga telah menjadi mahasiswa di universitas pilihannya sendiri, di kota Ragantara. Sekitar tiga jam perjalanan dari Langkarsa. Keduanya tahu bahwa hubungan mereka tidak selalu mudah, tetapi kedewasaan membentuk mereka jadi lebih bijak, lebih saling memahami.
Sore itu, Adrian duduk di sebuah kafe kecil di pojok kampus, memelototi laptop dengan tabungan yang hampir menyentuh garis merah.
"Gue butuh kerja part-time, beneran deh," gumamnya.
Ia sudah mendaftar beberapa posisi. Staf toko buku, admin digital, hingga freelance editor. Apa pun yang bisa membantu menambal kebutuhan kuliah dan hidup. Namun, lebih dari itu, ia ingin tetap dekat dengan dunia tulis-menulis.
Tidak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Emil.
"Ada kabar baik," ucap suara di ujung sana dengan nada semangat.
"Apa tuh?"
"Aku magang di penerbit. Bagian editorial. Kamu juga bisa coba daftar, mereka lagi cari pembaca naskah paruh waktu."
Adrian tertawa kecil. "Kamu selalu tahu jalanku, ya."
"Karena aku percaya, kamu gak akan pernah jauh dari kata-kata, Kak Iyan."
Adrian menatap langit yang mulai berubah jingga. Langkah terakhir dari masa remajanya memang sudah selesai. Namun, langkah baru telah dimulai dengan luka yang membentuknya, cinta yang merawatnya, dan kekuatan yang perlahan ia pahami bukan berasal dari mantra, melainkan dari dirinya sendiri.
Meski pekerjaan paruh waktu dari penerbitan yang disarankan Emil cukup membantu menutup sebagian biaya kuliah, Adrian tahu itu belum cukup. Kebutuhan sehari-hari, tugas-tugas kampus yang makin berat, dan tagihan sewa kamar mulai mengejarnya seperti bayangan gelap yang menunggu saat lengah.
Suatu malam, sambil menggulir media sosial di sela jam istirahat, ia menemukan sebuah unggahan anonim yang tampak sah.
"Lowongan kerja part-time. Jam fleksibel. Gaji besar. Lokasi di pusat kota Langkarsa. Cocok untuk mahasiswa. Info lebih lanjut via DM."