'oh jadi itu rumahnya.'
"e-eh"
Bruk gedebug
'apaan sih yang nabrak aku?'
"eh, s-sorry, Sa. Aku gak sengaja," ucapnya sambil membantuku bangun yang habis jatuh didorongnya tadi.
"Erika?"
"hai!"
"lo buntutin gue?"
"stt.. Kamu mau kita ketahuan?" bisiknya.
'duh.. Mulut nakal. Apaan sih kamu!' Aku menepuk-nepuk mulutku sendiri menyadari ucapanku yang terlalu keras. Dan anehnya, bukan biasanya aku menggunakan bahasa lo gue. Efek kaget. Kayaknya ketularan Zinnia nih.
"kok kamu bisa ada di sini?"
"jarang-jarang aku lihat kamu jalan di depan kelasku. Jadi saat keluar kelas tadi, aku putuskan ngikutin kamu. Kamu ngikutin Zinnia kan? Kenapa gak ngajak-ngajak aku?" protesnya.
"yaah.. Aku gak mau ngerepotin kamu terus."
"gak ngerepotin kok. Oh iya, mana Zinnia?"
"aku sudah tau dimana rumahnya. Itu. Dia masuk ke rumah itu."
"jadi sekarang, apa yang akan kamu lakukan setelah mengetahui rumahnya? Bukannya kamu takut jika menemuinya?"
"aku bukan takut!" cercaku. "Ee.. Maksudku.. Setelah ini aku ingin menemuinya di rumahnya." Karena pikirku saat ini ia tengah menggunakan kacamata. Aku yakin, di rumahnya sendiri ia tak mungkin bisa menghilang kemana-mana.
"begitu..? Hmm.."
"ayolah!" Aku pergi mendahului Erika.
"eh? Tungguin aku, Sa!" Erika mensejajarkan langkahnya di sampingku. "jangan ninggalin aku dong!"
"eh?"