"ayo cepetan, Sa!"
"iya sebentar. Terima kasih, pak," kuberikan ongkos sesuai janjiku. "kemana?"
"lihat, dia ke sana!" tunjuk Erika. Setelah melihatnya, aku tak mengalihkan pandanganku sekalipun. Takkan kubiarkan dia menghilang, apalagi kehilangannya jejak lagi. Sudah sejauh ini perjalananku, jadi tak boleh disia-siakan.
Kuamati lekat-lekat tanpa berniat mengedipkan mata sekalipun, Zinnia seperti tengah bersembunyi dari sesuatu.
"apa yang ia lakukan? Bersembunyi di balik pohon?" Tingkat kekepoan Erika sepertinya sudah melebihiku. Entah telah naik berapa tingkat di atasku.
Pandangan Zinnia terpaku pada satu arah. Ia mengukir senyum simpul di bibirnya.
Hingga aku mengerjap-ngerjapkan mataku pun. Aku masih tak bisa menebak kemungkinan apapun yang ia lakukan.
"setelah kuperhatikan, aku baru menyadari kalo ia belum melepas kacamata andalannya." Memiliki penyakit yang sama. Terkadang aku dan Erika bergantian untuk menyadari suatu hal belakangan.
Erika mengatakan itu saat Zinnia baru saja melepas kacamatanya.
"eh dia mau kemana?"
Zinnia berjalan ke arah dimana ia melihat. Aku dan Erika perlahan mengikutinya.
"hai, guys!" Zinnia melambaikan tangan.
"dia ngomong sama siapa?" kepo Erika. Kami memutuskan sembunyi di tempat yang sama dengan tempat Zinnia sembunyi tadi.
"hey yo, panjang umur, Zin."
"lagi ngomongin gue, ya?"
"ah, kayak lo gak tau kita aja."
"iya, ta? Haha.. Iya iya." Zinnia bersalaman ala-ala anak preman.
'seperti cowok saja' pikirku.
"barusan kupikir Zinnia tadi lupa melepas kacamatanya," bisik Erika. Ternyata kami berpikiran hal yang sama. Tidak melepas kacamata bukan berarti kelupaan.
Tempat itu seperti sebuah markasnya anak-anak yang berpenampilan preman jalanan. Didukung barang-barang yang identik, seperti ban tak terpakai, kardus, kayu, dll. Dan mereka lebih banyak cowok.
"kakak!" teriak seorang bocah umur 3 tahunan yang muncul tiba-tiba. Anak itu memeluk Zinnia.
"udah kelaparan dia, kak." Diikuti bocah lainnya seumuran anak SMP.
"wah.. Iya iya, kakak tau. Kita makan di rumah ya. Guys, ini nasi bungkusnya." Zinnia melempar plastik yang sigap di tangkap salah satu dari mereka.
"thanks, yak."