Aksara dan Kacamata Ajaib

Rizasa Vitri
Chapter #8

Sesuai Aplikasi Hati

"Lo berdua ngintilin gue?"

Dengan emosi Erika bangun dari jongkoknya. "jangan pura-pura gak tau deh, lo!" Zinnia mengangkat sebelah alisnya heran.

"kamu pasti udah taukan kalo kita ikutin! Karna itu lo ngerjain kita, iyakan?"

"tunggu-tunggu, di sini kok malah lo yang jadi nuduh gue!??" ucap Zinnia tak terima dengan tuduhan Erika.

"emang kenyataannya gitu kok," eyel Erika seenaknya sambil melipat tangan dan memalingkan muka.

"Er, kamu itu apaan sih? Kenapa asal tuduh?" leraiku.

"kamu mo belain dia? Kita ini udah babak belur digigitin nyamuk!"

"hey, asal kalian tau ya, gue itu sama sekali gk ada niatan buat ngerjain kalian! Apa lagi tahu soal kalian yang lagi ngikutin gue."

"trus? Apa maksud lo bawa kita muter-muter kek gini?" cerocos Erika.

"Er! Biarin dia jelasin dulu!" potongku.

"jawab!!" bentak Erika pada Zinnia, tak memedulikan ucapanku.

"yaa.. Karna emang begini keseharian gue. Emang apa urusan lo?"

"sekarang kamu mau kemana memangnya?" Erika mulai menginterogasi.

"apa urusan lo sih?"

"tuhkan lo gk bisa jawab! Itu karna lo hanya mau ngerjain kita, iya kan?"

"ya ampun Er! Bisa ajakan dia gk mau ceritain privasinya dia!" elakku.

"posthink mulu sih kamu, Sa?! Percayaan amat. Sekali-sekali curigaan dikit dong!"

"nah justru itu, Er. Pasti dia nyembunyiin sesuatu," bisikku. Erika terdiam. Ia nampak berpikir.

"hey, kalian ngomongin apaan sih? Gue mau pergi nih. Buang-buang waktu gue aja!"

"tunggu!!" Ucapan Erika membuatku dan Zinnia terdiam. "boleh kami ikut kamu??" lanjutnya.

"APAA!? GAK BOLEH!"

"kenapa? Benerkan kamu boong? Cuma ngerjain? Atau.. Jangan-jangan ada yang kamu sembunyiin?"

"aah tidak-tidak. Bukan begitu. Eee.." Zinnia nampak bingung. "aihh? Emang mau ngapain sih?" panik Zinnia.

"aku kan temanmu, kami juga kan udah terlanjur di sini, jadi kami mau temenin kemanapun lo pergi. Gimana?"

"Gak. Pokoknya kalian gk boleh ikut! Titik." Zinnia pun berlenggang pergi dan berlari secepat kilat.

"eeh?? Zinnia!!" Aku dan Erika segera mengejar Zinnia. Tapi sialnya kami tak berhasil menyusulnya.

***

"duh gimana ini, Sa? Kita kehilangan jejak."

"yaudahlah, kita pulang aja. Udah jam segini jugak." Sambil mengecek jam tanganku.

"nyerah nih?" goda Erika.

"nggak gitu." Aku membuang nafas kasar. "Lanjutin besok aja dah!" lanjutku.

"yakin??" Mataku menyorot tatapan tajam. Tak senang karna ini bukan lagi becanda.

"hehe.. Iya deh." Erika bergidik ngeri. "dasar mata elang!" Kami pun memesan ojol masing-masing.

"driver ojol-ku udah mau nyampe nih, aku duluan ya," kata Erika yang tengah memperlihatkan layar ponselnya. "gpp kan?"

"hem.." jawabku sembari mengangguk dan tersenyum.

"eh itu deh kayaknya.. Aku duluan ya! Bye!" Pamitnya sekali lagi sambil berjalan ke arah ojol.

Setelah menaiki ojol dan mengenakan helm, juga setelah ia terlihat bercakap sebentar dengan driver ojol, Erika kembali melihatku sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Seketika motor yang ia naiki melaju dan tak terlihat lagi.

Hmm.. Setelah membalas lambaian tangannya tadi. Aku.. merasa ada yang hilang. Kesepian. Di sini. Menunggu ojol, tapi nggak dateng-dateng. Huwaa.. Huhuhu..

***

Akhirnya yang ditunggu-tunggu dateng juga. "maaf ya, mas. Tadi saya dari arah sana, macet."

"iya pak, ndak papa."

"dengan.. mas Anta kan?" tanyanya saat melihat ponsel yang tertancap di motornya.

Lihat selengkapnya