Aksara dan Kacamata Ajaib

Rizasa Vitri
Chapter #7

Kesialan Penguntit

"kok blusukan gini sih?" keluh Erika sambil menyingkir-nyingkirkan apapun yang menghalangi jalan di depannya.

Semenjak turun dari angkot tadi, Zinnia langsung memasuki sebuah.. Apa ya? Disebut gang.. tapi gak kayak jalan gang. Tapi.. mengapa Zinnia memasukinya?

Banyak pepohonan di sini. Penuh ranting. Dan sarang laba-laba. Juga perlu kehati-hatian dalam melangkah. Jika tidak, banyaknya dedaunan kering di sini dapat menimbulkan suara bila terseok-seok.

"Zinnia ngerjain kita ya?!" Berulang kali Erika mengeluh dan menyingkirkan serangga yang hinggap di kakinya.

Plak plak plak

Aku tak bisa menanggapi ucapannya. Tapi aku juga tak bisa membohongi diriku sendiri bila kenyataannya sedaritadi nyamuk asyik berkeliaran di sekitaran kami.

"eh ngapain tuh si Zinnia?"

Tanpa Erika berseru pun aku tetap memperhatikan Zinnia daritadi.

"apa dia benar-benar mengetahui keberadaan kita?" Tak ada satupun pertanyaan Erika yang dapat kujawab. Karna akupun mempertanyakan hal yang sama.

Saat ini Zinnia berjalan ke sebuah rumah. Mungkin lebih tepatnya sebuah gubuk. Sebab dibuat dari anyaman dan bambu.

"apa yang Zinnia lakukan masuk ke gubuk itu?" Kan? Erika pun berpikiran hal yang sama.

Di sana Zinnia telah menutup pintunya. Menyisakan kebingungan diantara kami.

"ayo kita ke sana," kataku sambil menepuk jidat. Hhh.. Ulah nyamuk.

"apakah mungkin, jika kita harus ke sana? A-aku takut," ragu Erika seraya menampar pipiku.

"hey?" Aku melotot tajam dan refleks menyentuh pipiku yang perih. Apa-apaan?

"ada nyamuk tuh" cibirnya.

"kalo kita gk ke sana, kamu mau kita terus-terusan jadi santapan nyamuk-nyamuk jelek ini?"

"ee..enggak sih."

"yaudah ayo!" Aku berjalan mendahuluinya.

"eh tungguin aku!"

Kami berdua pun mengendap-endap menuju samping gubug tersebut.

Lihat selengkapnya