Surabaya, 1941
Kepada Pangeran Aksara
yang menorehkan lara sengsara
pada analekta[1] kata yang trauma kueja,
Â
Salam hampa dariku, bersama nestapa yang direngkuh nelangsa mati rasa
Gelegar gemuruh tersiar menyuarakan getir di antara kelabu mega[2] bermuram rinai gerimis yang lampiasnya kian deras, bersikeras ragaku mematung basah kuyup terguyur hujan yang selaras menyamarkan cucur linang air mataku—meluruh dalam bisu.
Atas nama elegi aksara lara, kutuliskan terima kasih karena telah pernah benar-benar mengisi lembaran hidupku dengan analekta memorabilia[3], mengenal satu-persatu sukma dari sekian versi nama yang kupunya, hingga berdedikasi menjadi satu-satunya insan penemu nama asliku di antara teka-teki larik puisi akrostik yang sukar diterka.