Aksara Lara Niraksara

Tarisa Adistia
Chapter #4

1.1 | Jelaga Nista Dermaga

Surabaya, 29 Februari 1940 | 17.17

Asin angin Laut Jawa berdesir lembut menyambut; menggulung getir debur ombak pesisir, menyinyalir kerak memori yang retak di Pelabuhan Tanjung Perak. Barangkali gumpalan gegana menggelembung bagai bisul sejarah bernanah darah yang enggan pecah, menindih langit kota Surabaya lebih kelabu dari abu bara arang yang melebur di perapian pengrajin gerabah, membentang kian kelam menuju penghujung petang. Antara tengah muram ataukah sedang geram memendam murka, menyiratkan dendam perlawanan yang belum jua diakhiri deklarasi merdeka. Embus angin yang terasa lembab berderu menyapu kota, berdesir menyusup dari dermaga bertabur jelaga menyeruak bau korosi besi tua, bercampur angu aroma petrikor genangan becek, masam keringat buruh bongkar muat, dan—angit seonggok rahasia kaum yang menyamar dalam Ondergronds Netwerk[1], hingga pahit dosa yang dikemas dalam surat resmi perizinan eksploitasi. Kabut asap pasar berbau bangkai ideologi menguap bersama kelembapan, melingkupi bangunan-bangunan tua yang dibangun dari rasa takut dan dibersihkan dengan darah upeti.

Gema klakson kapal biasa terdengar di Pasar Pabean[2], tempat hiruk pikuk tak lagi hidup; hanya rutinitas merampas napas rakyat kecil yang terus dipungut hingga habis, oleh negara yang menyamar sebagai pelindung. Spanduk propaganda bergambar jenderal pejabat, tulisan Latin besar, dan senyum palsu birokrat kolonial bergantungan seperti doa yang tak pernah didengarkan di bawah bayang-bayang bendera merah-putih-biru.

Siluet jangkung sang aristokrat terbentuk elegan dengan postur sebelah tangan yang diselipkan di saku celana linen selagi melangkahkan kaki menuju tepian dek kapal yang baru saja berlabuh menurunkannya. Biru jasnya yang sebiru samudra membalut tegap punggung atletis sekokoh tembok, langkahnya teguh berwibawa, pandangannya tinggi—seakan memandang sekelompok buruh kapal yang berlalu-lalang melaluinya hanyalah figuran yang kebetulan hidup di dunia tanpa mengemban peran istimewa.

Terhitung lima tahun telah berlalu, sejak terakhir kali bahtera kapalnya melaut meninggalkan dermaga dengan gundah gulana. Rotterdam mencetaknya menjadi pribadi yang baru, mengajarkannya bertahan memerangi jarak dengan mencekoki ambisi dan kepala dipenuhi agenda mengembara perantauan. Sebagaimana empat tahun ia ditempa oleh Nederlandsche Handles-Hoogeschool (NHH)[3] yang mengukirnya menjelma lelaki berbahasa asing—bukan sekadar dari bertutur kata lisan, tetapi juga dari pola pikir caranya memandang dunia—teratur, sistematis, dan terorganisasi strukturalis. Ia membawa pulang gelar, kebanggaan jati diri idealis, sekaligus keangkuhan yang rapi terlipat dalam kopernya. Semerbak wewangian parfum kaum terpelajar yang biasa tercium di indra penciumannya semasa di Eropa tampaknya bertolak belakang dengan amis bercampur solar yang dihirupnya begitu pertama kali mendarat di tanah yang terasa primitif tak tersentuh peradaban.

Ia berjalan perlahan, seolah waktu sengaja melambat demi menatapnya lebih lama. Semua mata yang tertuju padanya seketika tertunduk begitu seorang pemuda tinggi berkulit putih gading seputih benteng markas militer tengah menapaktilasi pasar yang dulunya sering ia lewati tanpa dicegat. Matanya hitam legam, sedalam malam yang tidak pernah tidur—segelap bulu gagak, tapi menyorot tajam seperti elang yang mengincar mangsanya dari langit kekuasaan. Garis rahangnya tegas, seakan diukir langsung dari ambisi leluhurnya. Hidungnya mancung, menciptakan siluet bayangan elegan di antara temaram binar senja yang bertekuk lutut dari dominasi mendung. Rambutnya klimis sehitam arang, tersisir rapi dengan ketelitian seorang pewaris darah kebesaran. Begitu pula bibir merah mudanya laksana buah plum yang nyaris ranum, tipis tetapi tampak seperti menyimpan komentar sinis yang tak pernah benar-benar diucapkan.

Tangan kanannya menggenggam apel mahal, berkilau sebagaimana telah dipoles dengan peluh pribumi. Manis tiap gigitannya dikecap lidah, atau mungkin lebih terasa seperti darah dingin dari bangsa yang mengaku paling beradab, tapi tak pernah benar-benar bertata krama pada tanah yang mereka rebut.

Ia tidak sedang menggerebek riuh pasar dan mencipta keheningan sarat ancaman; tapi setiap langkahnya—berirama, penuh ketenangan—seolah membawa legitimasi dari puluhan perintah tak tertulis. Hanya menyusuri kota yang, menurut Ayahnya, kelak akan diwarisinya seperti warisan trofi bergilir: “Tanah ini milik kita, sejak tinta perjanjian meneteskan ketundukan,” begitu kata sang Gubernur, kota ini mengenalnya bahkan sebelum ia membuka suara dan membungkam pemberontakan.

Devries van Dietrich, menggumamkan namanya saja seakan menyiratkan gema dari generasi penjaga takhta yang tak pernah benar-benar punya tanah air, tapi selalu punya tanah jajahan. Nama yang disebut dengan suara rendah penuh hormat oleh pegawai rendahan, dan dibisikkan dengan kebencian oleh mereka yang hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan Ayahnya. Ia bukan hanya putra dari Gouverneur van Oost-Java[4]. Ia adalah pewaris wajah kolonialis yang dibuat terlalu tampan untuk dibenci terang-terangan, dan terlalu dingin untuk dicintai tanpa takut.

Tetapi sore ini, kedamaian yang tercipta dari ketakutan rakyat yang dicarinya—terusik; diusik oleh pemberontakan kecil dari tempat yang paling hina, manakala sekeranjang tomat terbanting ke tanah dan berceceran hingga salah satu di antaranya menggelinding dan berhenti tepat di hadapan ujung sepatu Devries.

Seorang pemungut pajak berperut besar dan bibir tebal kehitaman khas perokok berat sedang membentak seorang bocah penjual tomat. Sang bocah menangis dengan tangan memegangi pelipisnya yang lebam. Tomat-tomat dagangannya telah menggelinding seperti peluru merah kecil yang tak mampu melawan. Beberapa diinjak dengan sepatu kulit mengilap—entah kulit sapi atau kulit mayat rakyat.

“Dasar pribumi goblok! Ini semua busuk! Kau pikir kami makan sampah?!” bentaknya. mencibir kualitas tak layak jual dari sebagian panen komoditas yang memang gagal karena faktor cuaca ekstrem.

Dev mengunyah apel, tatapannya acuh tak acuh. Ia bahkan hampir berlalu—karena begitulah dunia ini bekerja, bukan? Sebagaimana esensi rentan yang selalu dilibas oleh yang dominan. Namun tampaknya, dunia memutuskan membanting plot naskah dramanya sendiri menuju klimaks melalui kehadiran sosok hero penyulut perlawanan dengan sekali tampar.

PLAK!

Tepat, keras, dan berdarah. Tamparan menghantam pipi sang pejabat; ujung mulutnya sobek, seketika lidahnya tercekat oleh malu yang terasa asing baginya. Seakan kehormatannya ambles disaksikan puluhan pasang mata. Sontak matanya melotot memandang seseorang yang telah berdiri pasang badan di depan bocah yang semula dirundungnya.

Tubuhnya tegak, setegak tiang bendera yang tak ingin lagi dikibarkan oleh kekuasaan mana pun. Jubah beludru membungkus bahunya disertai tudung yang menutup kepala, begitu pun wajahnya yang—setengah tersembunyi di balik selendang hitam yang membelit dari batang hidung hingga dagu—menyisakan hanya sepasang mata yang menyala tajam.

Netranya cokelat gelap, tak hangat seperti cokelat, melainkan lebih merepresentasikan tanah basah yang menyimpan bara. Sorotnya setegar singa padang sabana yang menatap pemburu tanpa gentar—berani, tidak liar, tapi siap menerkam jika disentuh dengan niat menjinakkan. Alisnya tegas, membingkai tatapan yang seolah menjatuhkan vonis bagi siapa pun yang menindas. Di atas kelopak matanya, samar tampak rona oranye senja, bukan karena kosmetik, tapi karena binar cahaya yang tahu ke mana harus jatuh untuk memberi hormat.

Tidak jelas siapa dia, tak bisa ditebak lelaki atau perempuan. Tapi dalam garis rahangnya yang samar, dalam langkahnya yang terukur, dan dalam keheningan yang ia bawa seperti badai yang belum meletus, ada sesuatu yang tidak mematuhi hukum alam, maupun hukum negara.

Lihat selengkapnya