Aksara Lara Niraksara

Tarisa Adistia
Chapter #5

1.2 | Selendang Hitam yang Menikam Malam

Setiap embus napas masih terasa berat, seakan lembap hawa belantara enggan menyediakan ruang kelonggaran. Ada sisa resah yang merayap di pori-porinya, bergetar halus tetapi ngilu, seperti bisikan tak kasat mata yang menolak padam. Langkahnya masih tersengal, dadanya yang tadi diguncang kepanikan kini berangsur mereda—meski jauh dari kata reda.

Dev berangsur bangkit berdiri, ia menapak pelan, menelusuri tanah becek yang menyeruak petrikor, memadukan aroma dedaunan busuk bercampur basah hujan. Di antara desir pawana[1] yang menyibakkan pucuk bambu, ada bias samar—bayangan tentang gadis itu yang berkelebatan dalam benak. Parasnya mulai mengaburkan rupa yang jelas, memutar kilasan kabur bagai kaset rusak yang menghantui: sebuah tatap yang menusuk di balik ingatan, entah nyata atau hanya jelmaan trauma yang kembali menyusup dari lembaran masa lalu.

Setiap ranting yang patah di bawah kakinya terasa seperti tanda, seakan hutan sendiri sedang menuntunnya menapaktilasi jejak. Tapi yang ia kejar bukan sekadar langkah, melainkan sesuatu yang lebih kelabu—sebuah rasa yang tak mampu ia beri nama, hanya menyisakan detak jantung yang mendesak lebih keras ketimbang genderang perang.

Hutan yang ia susuri berangsur renggang, dan dari balik rumpun bambu belasan meter di depan sana—samar-samar mulai terlihat kerlap-kerlip binar lentera yang berkilauan di kejauhan. Aransemen gamelan yang dimainkan bersahutan dengan dentum kendang yang rancak; irama Gandrung yang menghentak tanah becek selepas hujan, menyatu menjadi harmoni yang asing sekaligus memikat bagi telinga kolonialnya.

Gapura Desa Tandes terbuka bagai mulut zaman, dihias janur kuning yang melengkung dan kertas minyak berwarna-warni. Warga berjubel; lelaki bertelanjang dada dan berikat kepala, perempuan berkebaya dengan bawahan kain jarik yang dililitkan di pinggang, anak-anak berlarian sambil membawa lampion yang diterbangkan ke langit. Perayaan Sedekah Bumi[2] malam ini terasa jauh lebih magis dan istimewa, bukan hanya karena menandai dimulainya puncak Panen Rendengan[3] yang melimpah, tetapi karena semesta sedang memberikan waktu tambahan melalui Hari Kabisat. Bertepatan 29 Februari 1940, penduduk desa seolah sedang mencuri satu hari dari kalender sejarah yang kian menderu menuju kecamuk perang global. Di saat dunia luar dicekam krisis pangan dan ketegangan militer yang mulai merambat ke Hindia Belanda, Desa Tandes mengisi momentum tersebut justru dengan memilih untuk menari; merayakan sisa kemakmuran di atas tanah leluhur sebelum fajar kolonialisme benar-benar meredup. Perayaan syukur panen—menjadi pesta penuh warna yang seolah menegaskan bahwa meski dunia diguncang perang, desa tetap menemukan cara untuk menguatkan silaturahmi.

Namun, Dev hanya mampu mematung dari tempatnya berdiri. Tidak satu langkah pun bisa ia teruskan. Wajahnya sendiri—serupa rupa pengkhianatan: hidung yang terlalu mancung, rambut kelam sehitam arang yang disisir rapi, dan kulit yang lebih pucat dari tanah lempung tempat ia berpijak. Semua itu menandainya sebagai bukan bagian dari mereka. Sebagaimana stigma telah lama bersabda bahwasanya seorang blasteran Indo-European merepresentasikan orang yang terlahir dari keturunan berdarah terkutuk: terlalu asing bagi Belanda, terlalu berbeda bagi pribumi.

Di tengah riuh tawa yang pecah laksana pesta panen surga, Devries hanyalah siluet asing yang berdiri di balik megah gelap bentang tirai hutan. Ia menyaksikan sebuah kehidupan yang tak pernah bisa dimasukinya, menelan ludah yang terasa pahit, dan menunggu—mungkin untuk satu alasan sederhana: barangkali bayangan gadis itu akan muncul di antara kerumunan sebagai sosok utuh yang mungkin akan dikenalinya.

Tergerus arus mulai menikmati lantunan musik klasik yang semula berirama syahdu, sontak raga Dev sedikit tersentak tatkala alunan gamelan Osing mendadak meninggi, bersahut-sahutan saling menimpa; gong berdentang dipukul kepalang keras, diikuti letupan kendang yang berdentum. Menciptakan pusaran suara yang membuat tanah di bawah kaki seakan ikut bergetar, mengunci ritme di dada setiap orang yang menyaksikan. Aransemen pembuka yang energik, menyambut lima penari yang semula bersembunyi di balik tirai tenda belakang panggung, kian menampakkan batang hidungnya maju ke pelataran. Sorak desa meletup, asap dupa meruap, dan lampu-lampu minyak menyalakan nyawa bayangan yang bergoyang lebih tinggi dari postur asli kelima penari.

Mereka bergerak dalam ketukan seirama, tangan membuka dan menutup, kaki menapak lantai tanah dengan hentakan yang nyaris bersamaan. Sampur yang tersampir mengalungi leher mereka berayun mengikuti tiap tarikan tubuh, memercik cahaya dari hiasan kepala yang berkilau memantulkan bias binar obor yang menyala berkobar. Dev tak begitu mengerti tarian tradisional apa yang sedang ditampilkan, tapi yang menjadi daya tarik utamanya dari segi visual ada pada mahkota yang dikenakan.

Di antara paras menawan kelimanya, ada satu penari paling mencolok yang tampil berbeda dan langsung menyita atensi Dev: lain halnya dengan keempat penari yang berselendang merah, justru penari utama yang berada di tengah—mengenakan selendang hitam. Sehingga rona gradasi yang seharusnya merah-hitam, menjadikannya laksana beraura penari kematian karena berbusana serba hitam. Kontras, ibarat arus gelap yang membelah lautan api, kelam yang justru mencolok di tengah pesta warna cerah. Hitam yang menyerupai bayangan masa lalu, menyalakan kembali memori kabur yang berusaha ia kubur.

Setiap kali selendang itu dikibaskan, udara seakan tersayat, dan tatapan Dev tak kuasa berpaling; seolah tersihir dalam kebisuan. Netranya terkunci; tampaknya bukan pada langkah, bukan jua pada senyum sang penari yang ia bagi ke kerumunan, melainkan pada cara selendang itu berputar, melilit, terayun seperti senjata sekaligus pelukan pesona tak terbantahkan. Dev pernah melihat selendang hitam yang sama, membelit dari batang hidung hingga dagu—menyisakan hanya sepasang mata yang menyala tajam dari seseorang yang menentangnya mati-matian. Seorang gadis yang menatapnya dengan sorot mata yang menolak tunduk, bahkan ketika ancaman sudah menerkam di depan mata atau menikam di belakang punggung.

Kini, Dev kembali menemukan sorot itu—tatapan yang seolah hidup dan merasuk, bersemayam dalam tubuh seorang penari. Penari sentral yang menjadi pusat dari lingkar magis, poros di mana gamelan berubah menjadi mantra, dan tubuhnya menjadi juru bahasa bagi kemarahan yang tak pernah tersampaikan. Gerakannya lebih keras, lebih liar, lebih bebas menentang batas—jika dibandingkan dari keempat penari lain yang lebih menghayati sebuah tarian tapi belum seutuhnya menyatukan raga sebagai tarian itu sendiri. Sosoknya seakan menginterpretasikan api dendam yang menjelma lengan, dan bara resah menjelma langkah. Andai kata amarah dilatih untuk menari, maka dialah inkarnasinya. Mahkotanya bergetar menahan badai raga, helaian rambutnya mulai terurai bagai kilat halilintar yang patah di langit malam, selendang hitamnya mengepak seperti sayap gagak yang memecah angin.

Ironisnya, di tengah gegap gempita pesta sedekah bumi, Dev merasa sunyi menelan dirinya sendiri; sebab setiap degup gamelan, setiap dentang gong, setiap getar kendang, seakan bukan lagi musik untuk merayakan panen—melainkan kutukan yang memperdaya, sebuah ritus yang mempertemukannya kembali dengan luka lama yang tak bisa ia namai di antara sekian serpihan memori paling purba dalam kepalanya. “Lucu sekali, betapa sepasang mata bisa lebih mematikan daripada bayonet. Rezim kolonialis negeri ini lihai sekali mengajari lelaki sepertiku cara membidik, cara menikam, cara menaklukkan tanah dan tubuh. Tapi apa gunanya semua pelajaran itu, bila aku justru takluk pada tatapan seorang penari kampung—yang menarikan tarian kebebasan padahal hidup terkungkung ancaman sergapan serdadu bersenjata peluru?” sinisnya.

“Ironis memang, terlahir sebagai seorang insan yang berdiri di perbatasan dua dunia: di satu sisi darahku berhutang pada negeri yang menjajah, di sisi lain dadaku bergetar pada jiwa yang terjajah. Maka, siapakah sebenarnya tawanan di sini? Dia yang menari, atau aku yang membeku di balik gelap kenyataan pahit terperangkap dalam sejarah yang pura-pura kupanggul dengan gagah?”

Helaan napas Dev berembus panjang, tetapi tak jua mengurangi sesak di rongga dadanya. Jika menuruti intuisi tidak warasnya yang terlampau penasaran, mungkin sudah dari tadi Dev melangkah maju, mendekat, memastikan, meraih kepastian yang mungkin hanya ilusi. Beruntung kedua kakinya dikerangkeng rantai logika rasional yang menolak merusak pesta dan memicu keributan; persis sebagaimana tanah pertiwi tak mengizinkannya menyeberang batas antara keramaian perayaan dan kesunyian hutan, mengingatkannya bahwa ada jurang yang tak mungkin diseberangi.

Tatapannya terpaku, tubuhnya membeku, sesaat setelah penampilan tarian kelima penari berakhir diakhiri dengan kibasan kipas dan selendang, Dev memilih mundur—selangkah demi langkah berputar balik. Semakin jauh dari hiruk pikuk desa yang ditinggalkannya, semakin dekat dengan desah bisik hutan yang menyimpan sejuta rahasia. Barangkali sunyi yang membuntuti tak sepenuhnya menyisakan jejak sepi, tapi juga gaung dari sesuatu yang tak semestinya ia rasakan.

Dedaunan berdesir samar, tapi tidak cukup untuk mengisi kehampaan yang ditinggalkan riuh gamelan. Jejak langkahnya terdengar menapak pelataran becek yang berserak, gemeresak yang menegangkan kesendiriannya. Di setiap tinggi menjulang bambu yang dilewatinya, sorot mata penari itu masih terpatri di benaknya, mengakar lebih kuat dari akar bambu, membekas lebih keras dari bunyi kendang mana pun. Namun ia tahu, keberanian untuk bertahan di depan tatapan itu bukanlah miliknya.

Lihat selengkapnya