Surabaya, 29 Februari 1940 | 23.23
Derap langkah Devries menyeret lelah yang amat sangat hingga ke pelataran Villa de Rust[1]. Ia baru saja menempuh perjalanan gila; dari riuh dermaga Tanjung Perak, tragedi perseteruan Pasar Pabean, terjebak pengejaran buta arah menjejaki pinggiran Krembangan dan melewati pelosok belantara di tepian Kalianak, hingga sempat terdampar di kemeriahan gapura Desa Tandes yang asing. Setelah keluar dari pekat hutan pinggiran, Devries menumpang Stoomtram[2] terakhir dan berjalan kaki menelusuri blok-blok sepi di kawasan elite Darmo Boulevard[3], kompleks privat tempat udara Surabaya yang biasanya berbau garam dan jelaga mesin uap berganti menjadi aroma melati dan tanah basah dari kebun-kebun yang terawat rapi.
Pakaiannya yang kusam oleh debu pesisir dan lumpur terasa sangat kontras di depan fasad vila bergaya Neo-Palladian[4] miliknya yang berdiri angkuh dalam balutan monokrom. Pilar-pilar putih silindris yang menopang lantai dua tampak seperti raksasa pendiam di bawah langit mendung, menciptakan bayangan kelabu yang dalam pada dinding-dinding kapur yang pucat.
Lantai Checkerboard Marble marmer berpola hitam-putih di beranda berderit halus—atau mungkin hanya imajinasi dari kepalanya yang berdenyut pening—saat ia melangkah masuk. Arsitektur klasik ini adalah suakanya yang kaku; lantai bawah yang sunyi, sementara kamar utamanya berada di lantai atas, lengkap dengan balkon luas berpagar besi tempa hitam tempatnya biasa duduk di kursi rotan untuk bersantai menikmati senja dengan secangkir kopi. Namun, ketenangannya buyar seketika. Di beranda bawah, di antara simetri pilar-pilar yang dingin, binar lampu minyak bergetar kala embus angin malam menyapa—meredupkan temaram, tetapi cukup untuk menyingkap satu sosok yang berdiri bergeming menunggunya.
Ia tak bergerak, hanya bersandar pada salah satu pilar putih dengan tangan terlipat menyilang di depan dada. Rambutnya—pirang kecokelatan—mengkilap terbakar pantulan cahaya lampu, memantulkan bias silau samar yang membuat sorot matanya tampak lebih tajam dari bilah pisau. Kulitnya cerah, terlalu kontras dengan gelap malam yang merayap di sekeliling. Seperti bayangan asing yang tak seharusnya ada di sini, akan tetapi menanti dengan sabar di ambang pintu. Parasnya terlalu menawan untuk dijuluki jelmaan siluman penjaga rahasia—yang tidak sedang ragu untuk pergi, melainkan sedang menahan diri untuk bertanya. Bayangan tubuhnya jatuh panjang di papan lantai, menyejajarkan dua siluet yang kini saling berhadapan dalam senyap.
Sejenak, Dev terhenti, sempat terbesit keengganan kakinya yang seakan menolak melangkah lebih dekat. Malam mendadak terasa terlalu sempit, seakan vila itu menyimpan sesuatu yang takkan pernah memberi Dev ruang untuk bernapas lega.
Dev terpaku berhenti di ambang. Peluh di pelipisnya masih membekas, debu hutan menempel di setiap jengkal celananya, bercak tanah basah melembabkan tapak kaki sepatunya yang kumal bukan main. Malam itu, ia bukan hanya pulang dengan tubuh lusuh, tetapi juga menggenggam sisa gema gamelan yang berdengung menggema di kendang telinganya, bias bayangan selendang hitam dan sosok penari magis yang gerakannya melawan pakem, sorot tatap yang menyimpan bara pemberontakan, serta sebongkah keresahan dalam dada yang enggan reda.
Arnoud van Dijk—Sepupunya—menegakkan tubuhnya perlahan, dalam hening ia mempersilakan si empunya vila masuk melengos seenak jidat melewatinya tanpa permisi. Dalam bimbang, Arnoud menimbang dengan tatapan separuh heran, separuh khawatir—seperti memendam sejuta tanya tentang fenomena apa yang mungkin menimpa Sepupunya dalam perjalanan pulang hingga penampilannya sekacau itu. “Kau—baru saja bergulat dengan binatang buas atau bergelut dengan perampok, hmm? Dari mana saja kau, Dev?! Padahal kau baru pulang setelah lima tahun merantau di Rotterdam, bukankah harusnya kau pulang ke Wisma Wastu[5] Dietrich alih-alih ke vila? Ayahmu pasti menunggu kepulanganmu,” cecarnya memiringkan kepala kepalang berusaha mencerna prasangka.
“Berburu rusa,” alibi Devries setengah berbohong dalam balutan alegori.
“Berburu rusa atau mengejar singa?” Arnoud memicing curiga, menolak percaya semudah itu.
“Akulah singanya,” geram Dev meredam jengkel yang masih bergejolak dalam setiap detak jantungnya yang berdegup seriuh genderang kendang.
“Sungguh, singa pemburu? Lantas di manakah mangsamu? Tak mungkin bidikanmu meleset, kau kan mahir dalam menembak! Atau jangan-jangan..”
“Kulepaskan dia pergi,” akunya jujur, disertai helaan napas panjang.
“Tch, tak biasanya kau berbelas kasih?” decak Arnoud sinis.
“Huft.. Jadi kau masih mau di sini atau kuusir pulang?” tepis Dev menggertak, merotasikan pandangan; sengaja mengalihkan topik.
“Aku sudah mau pulang tadi, tepat sebelum kau datang. Tapi karena aku sempat bertemu denganmu, tampaknya aku harus singgah lebih lama di sini. Setidaknya, barangkali ada cerita yang kudengar dari lisanmu dalam dialektika obrolan malam dengan suguhan secangkir kopi, bukankah begitu?” kelakar Arnoud, berkacak pinggang.
“Dasar, urus dirimu sendiri, tamu tidak tahu diri..” desis Dev, berlalu melalui Arnoud dan menepuk bahunya sekilas. Melangkahkan kaki menaiki tangga, menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Sepeninggal Dev, Arnoud mengedikkan bahunya ringan; lantas berjalan menuju dapur dan menyeduh dua cangkir kopi hitam pekat secara mandiri, sesantai di rumah sendiri. Sebagaimana vila itu memang ditinggali seorang diri oleh Dev, tanpa pramudapur pribumi atau lusinan penjaga layaknya di Wisma Wastu sang Jenderal. Selama Devries merantau, vila itu dijadikan markas bagi Arnoud untuk bermalam menginap tiap kali suntuk bersemayam di rumahnya yang sebenarnya jauh lebih megah daripada vila singgah. Sama halnya dengan tabiat Devries sedari masih di Hoogere Burgerschool (HBS) te Soerbaja[6]. Sejauh Arnoud mengenal Devries; pemuda itu baru akan meninggalkan Villa de Rust sebagai rumah singgahnya dan kembali ke Wisma Wastu Dietrich di kawasan Willemsplein[7] hanya jika ditugasi kesibukan yang bersangkutan dengan urusan pemerintahan Ayahnya.
Untuk mencapai jantung birokrasi di Utara itu, Devries harus menempuh perjalanan sekitar tujuh hingga delapan kilometer—sebuah jarak yang membelah Surabaya dari kawasan hunian asri menuju pusat saraf ekonomi yang bising. Dengan waktu tempuh sekitar 20—30 menit melalui jalur utama yang menghubungkan Surabaya Selatan dan Utara, roda mobilnya berputar mulus di atas aspal Darmo Boulevard, melewati Simpang, lalu membelah kepadatan Tunjungan yang gemerlap oleh etalase toko Eropa. Atmosfer kesegaran pohon kenari di Darmo berangsur sirna, tergantikan bau payau kanal Kalimas dan jelaga cerobong uap pabrik begitu mendekati Roode Brug[8]. Tepat sebelum memasuki hiruk-pikuk alun-alun Willemsplein, mobilnya berbelok ke arah barat menuju ketenangan kaku Sikatanstraat[9]. Di sanalah Wisma Wastu Dietrich berdiri megah, bertetangga dekat dengan kokohnya gedung Hoofdbureau[10]. Garis arsitektur bangunan indiesnya yang simetris memancarkan supremasi absolut, seolah sengaja dibangun untuk membentengi privasi keluarga Dietrich dari riuh pelabuhan. Tak mengherankan bilamana sepupunya itu sedikit antipati dengan keramaian kota, lantaran bagi Devries, kawasan sekitar Willemsplein hingga Sikatan ini adalah panggung sandiwara tempat ia harus mengenakan topeng suksesor yang sempurna.
Sementara itu, uap hangat memenuhi kamar mandi ketika Dev menundukkan wajahnya di bawah pancuran. Percikan air yang mengguyur seakan hendak meredam api yang sejak tadi berkobar membara di dadanya. Di atas meja kecil dekat cermin, barang sitaannya—tusuk konde klasik yang sempat disentuh tangannya menguar samar aroma bunga sedap malam. Wanginya seperti bisikan halus yang menusuk ingatan, menyulam paras sang Nona menjadi siluet magis di balik kelopak kelam. Dev memejamkan mata, menelan getir, lalu menggertakkan gigi: “Godverdomme!” umpatnya, dengan kedua tangan terkepal nyaris melayangkan tinju menghantam cermin.
Selang tujuh menit berlalu, seusai mandi, ia keluar dengan rambut masih basah menetes di pelipis, kemeja dan celana panjang satin membungkus raganya. Beranda rumah sunyi, tetapi ternyata sosok Arnoud sudah menunggu di kursi kayu begitu ia melangkah ke ruang tamu, tengah duduk dengan sebelah kaki terangkat selagi membentangkan koran yang dibacanya saksama; seolah merakit kesabarannya yang sedang diuji oleh waktu.
“Akhirnya kau muncul juga,” desis Arnoud lirih, matanya memandang rambut Dev yang masih berkilat basah.
Dev hanya menghela napas, duduk di kursi kayu panjang yang berhadapan dengan meja kaca membentang di antara mereka. Semerbak aroma kopi hitam pekat khas yang baru diseduh memenuhi udara. Arnoud menyodorkan cangkir. Dev menyambut, lalu menyesap perlahan; hangat pahit itu mengalir, melawan sisa dingin yang masih menempel di kulitnya.
Sejenak hening. Hanya detak jam dinding yang terdengar di antara sunyi.
“Raut wajahmu—seakan masih menyimpan sesuatu dari luar sana,” kata Arnoud akhirnya, membuka dialektika; menatap tajam tetapi tak menghakimi.
Dev menunduk, menggulirkan cangkir di tangannya. “Belantara bambu yang kulalui—tampaknya menorehkan lubang dalam sanubari, menyisipkan sunyi hawa dingin yang sebenarnya tidak membunuh, tapi cukup mengganggu. Entah mengapa, sunyi yang merengkuh justru terasa lebih riuh rendah bising suara daripada keramaian kota..” ia bertutur kata datar, sedatar tatapannya yang kosong.
Arnoud tersenyum samar, meneguk kopinya. “Mungkin karena kau tidak benar-benar sendirian di sana?” tebaknya, menerka interpretasi dari kalimat penuh alegori Dev yang bermain diksi.
Tanya yang dilayangkan Arnoud terdengar menggantung. Dev menoleh sekilas, tapi tak memberi jawaban. Ia meneguk lagi kopinya, berusaha menenggelamkan ilusi bunga sedap malam, bayangan selendang hitam, tusuk konde yang pernah tergenggam, dan hitam pahit yang ia kenyam.
Kopi masih mengepulkan uap tipis. Arnoud menatap Sepupunya yang tampak merenung dalam lamunan, rambut basahnya jatuh menutupi dahi di pelipis, sorot matanya sedikit sayu; seakan ada beban dari hutan yang dibawanya pulang, ataukah justru baru mengalami tragedi yang menghantam psikisnya hingga menjadi begitu pendiam.
“Aku masih terheran,” aku Arnoud membuka suara, berterus terang. “Kau bilang tadi berburu rusa; tapi sungguh seliar apakah mengejarnya sampai kau pulang dengan penampilan seberantakan itu? Aku lebih percaya kau berjibaku dengan hewan buas daripada sekadar melepaskan mangsa yang kau buru setengah mampus,”
Dev tersenyum tipis, menyiratkan getir. “Apakah sulit bagimu membayangkan aku melepaskan sesuatu yang sudah kuincar?”
“Sangat!” kedua alis Arnoud terangkat bersamaan. “Kau selalu dikenal sebagai pembidik yang tak pernah meleset. Bahkan rusa paling lincah pun tak punya kesempatan di hadapanmu. Tapi kali ini...” Ia mencondongkan tubuh. “...kau pulang dengan tangan kosong, dan wajah penuh riak seperti orang yang baru saja kalah,” suaranya berangsur merendah, nyaris berbisik; rawan menyinggung.
Pandangan Dev kembali jatuh menatap ke dalam cangkirnya, seakan bercak bekas kopinya tandas menyisakan ampas menjadi satu-satunya objek pelarian kontak mata. “Barangkali mungkin.. Aku belum terlalu mahir mengeja pemaknaan merelakan, bahwa ada mangsa yang lebih berharga bila dibiarkan hidup. Ada bidikan yang—justru harus dibiarkan meleset,”
Arnoud bergeming terdiam sejenak, menimbang maksud tersirat dari tutur kata Dev yang berbelit. “Kau bicara seperti orang yang tersihir sungguhan. Jangan-jangan rusa itu bukan rusa?” terkanya menyipitkan mata, sarat kecurigaan.
Dev sempat mengangkat pandangannya untuk menatap sorot netra Arnoud, lalu kembali tertunduk sedetik kemudian. “Bukankah setiap pemburu, cepat atau lambat, akan menemukan sesuatu yang membuatnya ragu? Entah itu target mangsa yang diburu, ataukah bisa juga—tentang kebangkitan sesuatu yang lebih lama sirna daripada nisan terbengkalai yang terlupakan; dan ketika ragu itu datang—peluru seketika kehilangan arti.”
Arnoud memicing. “Kalau benar begitu, berarti kau telah berjumpa sesuatu yang lebih buas daripada binatang terliar di hutan. Sesuatu yang membuatmu kehilangan tujuan,” simpulnya.
“Tampaknya semesta berusaha memaksakan ajaran yang harus kupahami meski bertentangan dengan didikan yang sejak kecil ditanamkan padaku,” ucapnya lirih, meletakkan cangkir kosongnya kembali ke atas meja kaca. “Bahwa ada saatnya bidikan yang sempurna justru menuntun kita pada—kehancuran; dan barangkali, belas kasih adalah satu-satunya cara agar aku tetap pulang—meski pulang dengan tangan kosong.”
Arnoud tertegun. Tak ada bantahan, hanya segaris senyum getir yang dicecar sejuta tanda tanya yang bercabang lebih semrawut dibandingkan akar serabut. Ia tahu, Dev tak sedang bercerita tentang rusa. Ada rahasia lain di balik setiap diksi yang mengaburkan maknanya. Namun, ia juga tahu betul, Devries belum siap mengungkapkannya.
“Belas kasih, Dev..” Arnoud lantas meletakkan cangkirnya perlahan, lalu bersuara dengan nada lebih berat, seolah secara tersirat ingin menguji. “Dari yang sebelumnya kau singgung, apakah itu cenderung condong pada kekuatan ataukah kelemahan, menurutmu? Kau menyebutnya alasan untuk melepaskan bidikan. Tapi di mata seorang pemburu, bukankah itu tanda bahwa kau goyah?”
Dev mengulas segaris lengkung senyum samar, telunjuknya tergerak mengusap tetesan air dari rambut basah yang masih mengalir di pelipisnya. “Kau tahu, Arnoud van Dijk, sejak kecil kita selalu didoktrin untuk memaknai esensi kekuatan absolut yang utuh—adalah ketika kita menaklukkan. Padahal, kadang justru dalam melepaskanlah kekuatan itu diuji; karena menahan jari untuk tidak menarik pelatuk—lebih berat daripada menekannya.”
Arnoud mengernyit, menatap Sepupunya dengan sorot kritis. “Tapi apa gunanya keahlianmu bila berakhir dengan tangan kosong? Bukankah kita dilatih untuk membidik justru agar tidak ragu? Belas kasihmu itu bisa menjadi jurang hambatan terfatal; celah darah blasteran yang berusaha kau hapus sedemikian rupa dengan memburu validasi sebagai Putra tanpa cacat kebanggaan sang Jenderal akan sia-sia.”
Dev membuang muka, mengarahkan lurus tatapannya memandang setitik api dari lampu minyak yang bergetar nyaris mati, seperti tengah mencari jawaban dalam nyala temaramnya. “Jurang, katamu? Atau jalan keluar?” tanyanya balik, dengan nada menantang. “Aku mulai mengira bahwa membunuh hanya menyisakan kehampaan lain, yang semakin menumpuk seiring waktu; entah menjelma renungan penyesalan, entah menjelma renungan dosa. Sementara melepaskan.. mungkin pada konteks ‘melepaskan beban’ yang telah lama diemban pundak hingga menyisakan kelegaan yang terasa asing, tapi membuatku tetap hidup.”
“Pfftt.. Kau dibesarkan untuk menjadi pemburu haus kekuasaan, tapi berbicara layaknya filsuf stoikisme[11]..” gelak Arnoud tertawa kecil, getir sekaligus kagum. “Tetapi Dev, jangan lupa; yang kau hadapi tidaklah sesederhana mempertimbangkan hidup-mati mangsamu, karena peruntungan nasib mujur tidak selalu tercipta untuk orang yang ragu. Semesta hanya memberi tempat pada mereka yang berani menuntaskan. Sebagaimana seleksi hukum alam, akan selalu menyeleksi yang separuh hati..”
Dev memejamkan matanya, masih dengan punggung bersandar. “Namun, bukankah dengan memilih separuh hati, masih tersisa ruang bagi sesuatu yang tak bisa dibeli dengan darah mangsa: yah, seperti keberanian untuk membiarkan hidup terus berjalan, meski terlepas dari cengkeraman pemburu.”
Keheningan kembali memberikan jeda lebih tebal daripada sebelumnya. Celah teka-teki tanpa petunjuk yang Dev mainkan bersama prasangka interpretasi—masih menyiratkan rahasia yang tak tertembus, dan memuat misteri pemaknaan yang sukar diterka. Arnoud mengulum bibir, seraya menggoyang-goyang cangkir kopi seolah hendak membaca nasib dari ampas hitamnya. “Belas kasih kolonialis? Hanya jeda, Dev. Jeda yang lebih kejam dari tembakan, karena membuat orang sempat berharap sebelum dihabisi.”
“Anggap saja kau beranggapan jikalau melepaskan rusa buruanmu dan merelakannya, dalam perspektifmu berdasarkan pertanyaanku tadi—diinterpretasikan sebagai belas kasih. Lantas, apa bedanya dengan kompeni yang bilang mereka ‘membiarkan rakyat hidup’, padahal hanya menunggu giliran untuk memeras rakyat lebih sengsara? Apa itu juga masih bisa disebut sebagai bentuk lain belas kasih, Dev? Atau sekadar cara lain untuk menunda pembantaian? Dengan segenap kesungguhan, benarkah kau benar-benar melepaskan rusa itu? Ataukah akan kembali memburunya di lain waktu?” lanjutnya.
Devries terpaku, mendapati esensi dari ‘belas kasih’ dipelintir menjadi sesuatu yang kian getir, bahkan ia kesulitan menelan salivanya. Jemarinya tergerak menyeka pelipisnya, menunduk sebentar sebelum akhirnya bersuara. “Kau terlalu jauh menarik perbandingan, Arnoud. Apa yang kulakukan pada rusa bukanlah apa yang dilakukan kompeni pada rakyat. Rusa itu bebas kembali ke hutannya, sementara kompeni—mereka menata ladang, membuka jalan, mendirikan pelabuhan. Bukankah itu yang disebut peradaban? Ya, mungkin ada yang mati dalam proyek pembangunan maupun karena faktor kelaparan, tapi bukankah setiap perubahan memang menelan korban?”
“Kau kira rusa itu peduli apakah kau menata ulang habitat mereka atau merampas hak hidup bebas di tanah kelahiran? Baginya, bedilmu tetap sama: ancaman. Dunia tidak menulis syair untuk orang yang menahan peluru, Dev. Dunia hanya akan mengingat siapa yang mendominasi siapa, dialah pemenang yang menuliskan sejarah.”