Surabaya, 01 Maret 1940 | 05.05
Sejuk desir angin berembus kian terasa menghangat tatkala embun fajar perlahan menguap dan arunika[1] di ufuk cakrawala timur berbinar menyapa. Semerbak harum semak melati menguar tatkala berguguran di atas gundukan tanah yang rimbun dengan ilalang liar; lima tahun terbengkalai sejak kepergian sang Pewaris ke Rotterdam. Menanggalkan keangkuhan yang dicetak lekat dengan citranya, Devries tergerak membersihkan pekarangan belakang paviliun tamu; sepulangnya ia di Wisma Wastu Dietrich tanpa sepengetahuan siapa pun, kala subuh. Berandalan garpu taman, ia menggorok permukaan gundukan tanah tempat belukar ilalang liar melingkupi semak melatinya. Seusai memangkas cabang semak melatinya dengan gunting tanaman, dengan telaten Devries menyiraminya hingga tercium segar aroma tanah basah.
Selagi menyeka peluh, pemuda itu berdiri mematung di sana; bergelut dengan monolog sanubari. “Aku pulang, Ibu..” sapanya lirih, menziarahi makam tak bernisan tempat seorang perempuan yang namanya dilupakan sejarah itu bersemayam damai dalam dekapan bumi.
Padahal ia pernah menjadi bunga paling harum di tanah kelahirannya; kembang desa Candi yang tumbuh dari tanah yang terlalu sabar menahan derita. Betapa nestapa, Devries tak pernah berkesempatan memanggilnya Ibu hingga di penghujung hayat; senelangsa ia baru mengenal sosoknya hanya melalui curahan hati di lembaran buku diari, satu-satunya warisan yang lebih bernilai dari sekian aset mewah turun-temurun yang diwariskan padanya sepanjang generasi Dietrich sekalipun.
Namanya Danastri, perempuan kelahiran 1895 yang mengemban nasib lebih nelangsa dari seorang blasteran; hidup di persimpangan dua dunia dan tak pernah benar-benar dimiliki oleh keduanya. Ketika pertama kali berjumpa dengan Dedrick van Dietrich pada 1915 di Suikerfabriek Tjandi[2], ia hanya seorang gadis lugu yang tidak pernah memahami bahwa cinta pun bisa menjadi senjata kolonial. Tatapan lelaki Belanda itu begitu hangat, tutur katanya lembut, dan segalanya terasa seperti dongeng; sampai akhirnya Danastri terlambat sadar bahwa dongeng pun bisa menyamarkan iblis dalam wajah malaikat di balik jubah pangeran.
Kasih sayang Dedrick bukanlah kasih; melainkan jebakan yang dibungkus dalam kelembutan pura-pura, trik manipulasi yang menghipnotis dalam polesan rayuan. Ia datang dengan tutur halus dan tatapan bak dewa penolong bagi perempuan pribumi tertindas; yang punya kendali kuasa membuat dunia tampak kecil dan jinak di telapak tangannya. Dedrick mendekati Danastri yang masih belia dengan kesabaran yang dipelajari, membanjirinya dengan pujian—seolah dialah satu-satunya bunga yang tumbuh di padang tandus, memberi perhatian yang tak pernah Danastri bayangkan akan diterima dari seorang pria tampan berkulit putih yang berkuasa di tanah airnya. Dedrick menempatkan dirinya sebagai pelindung, guru, dan satu-satunya poros masa depan, mengurung Danastri dalam ketergantungan batin; secara konsisten setiap kunjungan bermodalkan hadiah kecil, sentuhan ringan di kepala yang menyertai pujian, serta janji tentang kehidupan yang lebih mulia—semuanya meninabobokkan gadis desa yang polos itu hingga ia percaya bahwa hidupnya hanya akan berarti selama Dedrick mencintainya.
Lambat laun, tanpa pernah disebut sebagai kejahatan pada zamannya, proses itu menundukkan pikirannya, mengikis batas kehormatannya, dan perlahan memutusnya dari daya menimbang benar dan salah. 1916 menjadi bencana perangkap ketika akhirnya Danastri diseret secara sukarela masuk ke lingkaran rumah tangga palsu yang tidak pernah sah secara legitimasi di mata hukum Belanda. Danastri baru menyadari bahwa seluruh rasa aman yang ia genggam ternyata bukanlah istana—melainkan sangkar yang dibangun dari janji manis yang tidak pernah dimaksudkan untuk ditepati.
Label Nyai yang melekati Danastri bersama stigma, mengalienasi dirinya pada jurang marginal paling senyap dari kehinaan sosial; terlalu rendah untuk dihormati kaum Belanda, pun terlalu nista untuk dipeluk kembali oleh kaumnya sendiri—pribumi konservatif yang memegang nilai komunitas tradisional. Di mata kolonial, Danastri tidak lebih dari perabot hidup; perempuan pemuas nafsu yang boleh dipakai, dipajang, lalu disingkirkan ketika tak lagi memberi kegunaan sebagai mesin reproduksi. Sementara bagi masyarakat pribumi yang ketat memegang tata susila, ia menjadi sosok yang dikucilkan, dilihat sebagai perempuan yang menjual kesuciannya pada penjajah asing berkuasa yang angkuh.
Danastri kehilangan hak berbicara, kehilangan hak menentukan nasib, bahkan kehilangan hak atas martabatnya sebagai manusia. Nama baiknya terkubur, relasi sosialnya terputus, dan masa depannya direduksi menjadi rumor yang berbisik-bisik di lorong rumah besar serta tatapan jijik yang tak pernah ia minta. Tidak ada ruang aman baginya; ia terjepit di antara dua dunia yang sama-sama menolaknya, hidup sebagai bayang-bayang, sebagai rahasia kotor yang harus tetap ada tetapi tak pantas diakui, hingga perlahan-lahan ia belajar bahwa hukuman paling menyakitkan bagi seorang perempuan bukan hanya tubuh yang dirampas—melainkan identitas dan harga diri yang dihapus dari sejarah.
Kenyataan menjadi kian pahit dikenyam begitu ia mengetahui bahwa lelaki yang selama ini memuja dan merayunya dengan kata-kata manis ternyata sudah beristri; sebuah pengkhianatan fakta yang selalu datang terlambat, setelah kehormatannya diserahkan, setelah hatinya sudah telanjur percaya buta, dan setelah ia tak lagi punya jalan untuk kembali kecuali menerima nasib sebagai perempuan simpanan di rumah yang bahkan tak pernah menjadi miliknya sedari awal.
Sejak itu, rasa rendah diri menjeratnya seperti belenggu: sindiran terang-terangan para pelayan tidaklah lebih menusuk dibandingkan tatapan Denice yang tampak elegan tetapi dingin tanpa ekspresi kecemburuan, menjelma intimidasi dalam kebisuan dari Nyonya Rumah yang sejatinya pemilik segalanya—kian membuat Danastri tersudut menyusut bak bayangan. Ia mulai memahami—dengan getir—bahwa dirinya tak pernah menjadi kekasih sungguhan, hanya seonggok raga berwajah rupawan yang dipilih, dipakai, dan tak menutup kemungkinan dibuang kapan saja, baik menunggu pengganti baru atau pun tersingkir dari eksistensi Istri sah yang absolut. Rasa malu yang ditanggungnya dengan tebal muka atas hinaan dari luar turut serta menjelma cambuk yang menyiksa harga dirinya tiap kali menyadari bahwa semua gunjingan itu, seterhormat apa pun ia mencoba menyangkalnya, memang benar adanya: Danastri hanyalah Nyai—gundik yang ditaklukkan oleh rayuan yang disangka kasih.
Maka satu-satunya harapan yang Danastri gantungkan adalah anak dalam kandungannya—yang semoga kelak memberinya secuil tempat di dunia yang menolak mengakui keberadaannya; setidaknya sebagai Ibu dari pewaris lelaki yang begitu diidamkan Dedrick. Namun di balik pengharapan itu, tersembunyi ketakutan yang tak pernah benar-benar padam: ketakutan bahwa darah blasteran anaknya akan mewarisi stigma nista Ibunya, ketakutan bahwa suatu hari Putranya akan disingkirkan begitu Denice melahirkan anak keturunan berdarah murni, dan ketakutan paling menakutkan bilamana dirinya justru akan kehilangan segalanya begitu melahirkan—Ibu yang tak sudi diakui, perempuan tanpa hak yang mungkin saja dianggap berdosa hanya jika berani memeluk Anaknya sendiri.
Hanya perihal waktu, ketakutan itu akhirnya menjadi sebenar-benarnya mimpi buruk yang terealisasi dalam hitungan jam pascapersalinan. Devries dirampas darinya bahkan ketika Danastri baru menyusuinya dengan ASI pertama. Sementara Dedrick, setelah puas karena memperoleh putra lelaki yang ia dambakan, mencampakkannya begitu saja; meninggalkannya sebagai perempuan yang dirampas kehormatannya, sekaligus Ibu yang dipisahkan dari Anaknya, tanpa keadilan apa pun selain luka yang tak pernah diberi ruang untuk sembuh.
Devries direnggut darinya, dipasrahkan memangku takhta sebagai pewaris keluarga Dietrich; seakan garis takdir Anak itu lebih pantas tumbuh dikekang tangan aristokrasi penuh intrik konspirasi daripada dipeluk dan didongengkan kisah kasih. Ironi bertambah buruk ketika Denice—sebagai Istri sah—yang dihadiahkan bayi oleh Dedrick, bahkan tak sudi menyentuh Anak itu. Devries kecil dibiarkan seperti barang tak diinginkan, diabaikan, hingga jatuh sakit-sakitan. Maka Danastri kembali menggadaikan harga diri dengan mengemis beribu permohonan yang pada akhirnya melahirkan belas kasih yang bukan datang dari hati, melainkan dari kalkulasi sosial Dedrick. Danastri baru diizinkan “mengasuh” Anak yang sejatinya adalah darah dagingnya sendiri—tetapi berlandaskan titah absolut berkedok dengan ancaman yang lebih ironi daripada hukuman resmi: tentang sumpah yang melarangnya mengaku sebagai Ibu biologis yang melahirkan Devries. Kembali mengawali lembaran tragedi paling getir bagi seorang perempuan: mencintai Anaknya dalam penyamaran; memeluknya tanpa hak menjadi sumber pelukannya; menenangkan demamnya tanpa kuasa memanggilnya “Putraku” sebagai panggilan yang sah.
Danastri membesarkan Dev dengan dua tangan yang pernah dipolitisasi oleh hasrat kolonial dan kini dihantui rasa takut akan kehilangan lagi. Di balik tatapan jijik kaum kolonial dan cibiran sinis dari masyarakat pribumi yang menuduhnya pendosa, Danastri menanamkan nilai yang bertolak belakang dari dunia yang memenjarakannya: empati di tengah sistem yang dingin dan kemanusiaan di dalam rezim yang memuja kekuasaan. Setiap dongeng sebelum tidur adalah semacam pelindung rapuh yang ia pasangkan pada jiwa kecil Devries agar kelak tidak tumbuh menjadi penguasa tanpa hati seperti Ayahnya. Ia ingin Devries menjadi intelektual, tetapi tetap manusiawi; kuat mendominasi, tanpa perlu mengintimidasi; mampu berdikari, tanpa harus menginjak manusia lain. Jauh di lubuk hati terdalamnya, Danastri menyimpan harapan yang paling sederhana: jika suatu hari didikannya dilupakan, semoga ada seseorang yang kelak mengingatkan Devries agar kembali berpihak pada nurani yang pernah ia titipkan.
Namun hidup jarang bersekutu dengan mereka yang paling tulus; Danastri tahu, jauh sebelum ajal benar-benar datang, bahwa perannya hanya dipinjam waktu, dan cintanya hanya ditoleransi sejauh tidak mengganggu martabat palsu kaum penguasa. Sejak tahun 1930, tubuh Danastri perlahan melemah bukan dikarenakan penuaan usia, melainkan oleh racun yang bekerja dalam kesenyapan. Sebuah pembunuhan yang tidak pernah mengotori tangan, tetapi dibiarkan tumbuh dalam senyum rapi Denice yang terlalu tenang untuk disebut tulus. Sedikit demi sedikit, hari demi hari, hidup Danastri dilucuti tanpa ia sempat mengadukan nasibnya kepada siapa pun. Tahun 1931, ia akhirnya menyerah—bukan pada kematian semata, melainkan pada dunia yang terlalu kejam bagi perempuan yang tidak diizinkan memiliki martabat.
Lantas, sebagaimana nasib kebanyakan perempuan yang namanya dihapus dari sejarah, Danastri bahkan tidak mendapatkan kemewahan sebuah kematian yang layak. Tidak ada upacara pemakaman atau pun nama yang terukir di batu nisan; sesederhana sebagai bentuk penghormatan terakhir, seakan keberadaannya memang sedari awal kehilangan esensi dimanusiakan. Jenazah Danastri hanya dikuburkan di sebidang tanah kosong di belakang paviliun tamu, gundukan sunyi yang ditumbuhi melati—bunga yang terus mekar tanpa pernah diminta, seolah menjadi protes paling lembut atas dunia yang menolak menghormatinya. Semerbak wangi melati itu laksana bisikan bumi, seakan berkata bahwa sekalipun manusia menolaknya, tanah tetap memeluknya dengan cinta. Setiap kelopak yang jatuh adalah elegi yang tidak pernah diutarakan, akan tetapi selalu dipahami oleh kesedihan dalam kebisuan.