Aksara Lara Niraksara

Tarisa Adistia
Chapter #9

1.6 | Kaktus yang Tetap Tumbuh di Pot Tandus

Surabaya, 03 Maret 1940 | 15.51

Sore itu, Wastu Dietrich tidak menyambut kepulangan tuannya dengan sukacita, melainkan dengan ketakutan yang disamarkan sebagai kepatuhan. Bahkan deru embusan sirkulasi udara yang hilir mudik terasa laksana membeku, terjepit di antara deretan pramuwisma yang berdiri kaku berjajar serupa patung marmer; segan menghela napas leluasa, seakan oksigen pun enggan memprovokasi suasana.

Begitu pintu jati terbuka lebar, aroma anyir debu Batavia yang menempel pada jubah Dedrick van Dietrich segera dibungkam reda oleh semerbak harum lilin dan bunga segar pilihan Denice. Derap langkah sepatunya di atas lantai aula depan seolah menyiratkan dentum palu hakim yang mengakhiri masa tenang di rumah itu. Di bawah tatapan Dedrick yang dingin, kemegahan wastu tersebut mendadak terasa sempit, terhisap sepenuhnya ke dalam gravitasi otoritas sang kepala keluarga yang tak tertandingi.

Pusat gravitasi Dedrick seketika bergeser. Mengabaikan barisan pramuwisma yang membungkuk khidmat, pandangannya langsung terkunci pada sosok yang berdiri paling depan—Devries. Untuk sesaat, sang Jenderal tertegun. Ia seolah sedang melakukan sinkronisasi paksa antara bayangan anak lelaki yang ia lepas di dermaga dulu dengan pria dewasa yang kini berdiri di hadapannya.

Devries tidak sekadar tumbuh; ia mewujud. Bahunya yang bidang atletis dan rahangnya yang tegas memberikan impresi otoritas yang alami, bukan hasil bentukan seragam militer.

“Dev!” seru Dedrick pecah, ada nada hangat yang begitu asing—sesuatu yang mustahil didengar oleh bawahannya di Batavia. Tanpa menunggu formalitas, Dedrick mereduksi jarak di antara mereka. “Kau sudah tumbuh melampaui tinggiku,"

Devries tidak menunduk dalam layaknya para pramuwisma; ia hanya memberikan gestur hormat yang elegan, dengan tatapan yang tetap terjaga. “Mungkin Batavia terlalu menyibukkan Anda, Ayah,” sahutnya tenang, “hingga Ayah lupa bahwa waktu adalah satu-satunya hal yang tidak tunduk pada perintah Jenderal,”

Dedrick terbahak. Tawa itu meledak jujur, mengisi kekosongan aula wastu yang biasanya hanya dihuni kesunyian. Ia mendaratkan telapak tangannya di bahu Devries—sebuah tepukan berat yang maskulin, semacam pengakuan antarlelaki.

“Tajam; pola pikir kritismu masih saja setajam belati,” sanjung Dedrick sembari menelisik wajah Putranya dengan binar kepuasan yang tak ditutup-tutupinya. Ia seolah sedang mengagumi sebuah mahakarya. “NHH rupanya tidak hanya mengajarimu mengelola angka-angka manajemen perusahaan,”

“Mereka mengajariku bahwa di balik persentase angka tetaplah selalu ada manusia,” angguk Devries membalas singkat, suaranya stabil tanpa ada getar kegugupan. “Sebagaimana manusia, jauh lebih mudah dikendalikan jika kita tahu apa yang mereka takuti.”

Dedrick menyeringai, matanya menyipit penuh kebanggaan. “Sangat Dietrich,” bisiknya pelan. Di detik itu, semua orang di ruangan itu tahu: di mata sang Jenderal, hanya Devries yang benar-benar ada.

Dedrick melangkah masuk lebih dalam, tetapi ia tidak menyempatkan berhenti untuk menyapa Denice atau melirik Dimitris yang terpaku di sudut ruangan. Seolah-olah bagi sang Jenderal, ruangan itu hanya berisi dirinya dan Devries; sisanya hanyalah furnitur yang kebetulan bernapas. Mereka berjalan berdampingan menuju ruang tamu utama—dua figur dominan yang simetris—meninggalkan Istri dan Putrinya terjebak dalam keheningan membisu di pinggir bingkai narasi.

Lantai marmer Wisma Wastu seakan bergetar menyambut derap langkah dua generasi Dietrich tersebut. Di antara sofa melingkar di ruang tamu, para pramuwisma bergerak sigap menuangkan brendi, tetapi gelas-gelas kristal itu dibiarkan mengembun, tak tersentuh. Atensi Dedrick telah tersita sepenuhnya dicurahkan dalam obrolan berbobot yang diekspektasikannya bersama sang Putra.

“Empat tahun di NHH, lima tahun di Rotterdam,” suara Dedrick merendah, berat dan penuh tekanan, menciptakan barikade suara yang tak boleh ditembus siapa pun. “Banyak orang pulang membawa ijazah dan gelar formalitas, Dev. Tapi apa yang sebenarnya kau bawa pulang dari perantauanmu?”

Devries menyesap aroma minuman tanpa meminumnya, tatapannya lurus pada sang Ayah—setara dan tanpa gentar. “Ketidaksukaan pada sentimentalisme,” jawabnya disertai segaris tipis senyum miring yang terbit samar. “Aku belajar untuk tidak terpesona oleh angka-angka besar yang semu, dan aku membawa keberanian untuk memangkas apa pun yang menghambat efisiensi—bahkan jika pertaruhan kemungkinan terburuk memaksa menikam jantung fondasi,”

Bibir Dedrick tertarik membentuk seringai predator yang bangga. Ia mengangguk perlahan, sebuah pengakuan yang jauh lebih berharga daripada medali militer mana pun.

“Itu jawaban seorang eksekutor,” bisik Dedrick. “Jawaban yang tepat untuk pria yang besok tidak hanya akan duduk di balik meja Direktur NJDC, tapi yang akan memegang cambuknya.”

Diksi cambuk itu menggantung berdengung dalam isi kepala; tajam dan mutlak, seperti biasa. Di sela-sela obrolan tentang intrik dagang Batavia dan ekspansi jaringan yang kian agresif, dunia di luar mereka seakan melenyap. Denice mungkin mencoba mengatur napas, dan Dimitris mungkin sedang menelan kepahitannya, tetapi di ruang tamu itu, hanya ada satu garis masa depan yang sedang dipahat dengan presisi yang kejam. Garis itu tidak bercabang, digariskan mutlak atas nama Devries van Dietrich.

Denice berdiri hanya beberapa jengkal dari pusat gravitasi itu, dengan keanggunan yang sudah mendarah daging. Postur tegaknya adalah monumen kepatuhan yang megah, dagunya terangkat sedikit—setiap tarikan napasnya adalah manifestasi dari latihan bertahun-tahun; orkestrasi tentang bagaimana menjadi perempuan bangsawan yang “pantas” untuk sekelas seorang Jenderal. Dedrick akhirnya memutar tubuh, menghampiri istrinya dengan langkah terukur yang terasa sangat administratif—seolah ia baru saja menyelesaikan urusan negara dan kini beralih ke urusan domestik yang tak kalah prosedural, seperti seseorang yang tahu persis kadar perhatian yang hendak ia berikan. Kontras berbeda jika dibandingkan dengan aura otoritas yang baru saja ia pakai untuk memuja Devries.

Dari saku jaket kulitnya, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil. Tanpa kata-kata puitis yang tak biasa keluar dari lisannya, ia membuka isinya: sebuah bros ametis ungu yang berkilau memesona. Warna aristokrat, sangat serasi dengan gaun yang dikenakan Denice, sekaligus mengingatkan pada Iris yang dirawat Denice dengan ketekunan yang nyaris obsesif di pekarangan taman Wisma Wastu Dietrich.

“Untukmu,” ujar Dedrick singkat sembari menyematkan bros itu di kerah gaun Istrinya.

Jarinya berhenti sejenak di ceruk lehernya, bukan sebagai belaian kasih sayang, melainkan lebih tampak sebagai sentuhan akhir seorang komandan yang memastikan atribut bawahannya terpasang sempurna. Baru kemudian, Dedrick membungkuk sedikit, mendaratkan sebuah kecupan singkat di kening Denice. Itu adalah kecupan yang kering dan kaku—singkat, nyaris tanpa jeda—sebuah gestur seremonial yang lebih mirip pamitan seorang prajurit sebelum berangkat ke medan laga daripada ciuman rindu seorang suami. Sebuah simbolisme bahwa tugas Denice sebagai Nyonya rumah masihlah diakui.

Denice menunduk sedikit, senyumnya terukir dengan presisi yang tak pernah retak. “Terima kasih, Suamiku..” ucapnya manis. “Pilihanmu selalu—tepat,”

Ia tak mengutarakan kerinduannya, tak pula menanyakan tentang perjalanan dinas Suaminya. Denice telah lama memahami bahasa Dedrick: kasih sayang yang disampaikan sebagai simbolisme semata, jarang menyalurkan kehangatan dari ketulusan dibaliknya. Bros itu pantas untuk nilainya, ia tahu semahal apa harga yang harus ditebus lunas untuk pemesanannya; elegansi yang membawa serta penanda status, bukan jaminan kedekatan. Denice menerimanya sebagaimana seseorang menerima takdir yang telah ia hafal di luar kepala.

Denice adalah mitra yang kompeten, perempuan yang menjaga martabat Wisma Wastu Dietrich dan membesarkan Dimitris dengan standar kelas atas. Namun, bagi Dedrick, semua pencapaian domestik itu mendadak kehilangan warnanya saat bersanding dengan Devries.

Ia memandang putra sulungnya itu dengan binar pemujaan yang tidak pernah ia berikan pada siapa pun. Dedrick seolah membangun tembok penyangkalan yang kokoh; ia menutup mata bahwa di dalam nadi suksesor NJDC yang ia banggakan itu, mengalir separuh darah Danastri—darah pribumi Jawa yang dulu mungkin ia dekap dalam rahasia, lantas kini ia glorifikasi dalam wujud ketajaman intelektual Devries. Di mata Dedrick, Devries bukan lagi blasteran, melainkan versi sempurna dari dirinya sendiri yang kian disempurnakan dalam perantauannya di Rotterdam.

Sementara itu, Denice tetap berdiri di sana dengan ametis yang dingin di dadanya, menyadari sepenuhnya bahwa meskipun ia adalah ratu di Wisma Wastu Dietrich, takhta di hati dan ambisi Dedrick telah lama dikapling oleh putra dari sang Melati yang telah lama mati.

Lihat selengkapnya