Aksara Lara Niraksara

Tarisa Adistia
Chapter #10

1.7 | Supervisor Sang Suksesor

Surabaya, 03 Maret 1940 | 16.16

Dengung mesin Mercedes-Benz 770K 1939 itu akhirnya mati, meninggalkan kekosongan yang mendadak berdenging di dalam garasi. Bau bensin dan kulit baru masih tercium menggantung, tetapi gelombang euforia yang berdegup dalam dada segera menguap, digantikan oleh gravitasi tugas yang lebih berat secara urgensi. Dedrick memberi isyarat singkat dengan kepalanya—sebuah perintah tanpa suara yang dipahami Devries sepenuhnya.

Meninggalkan garasi; keduanya melintasi koridor panjang menuju lantai atas, tempat ruang kerja sang Jenderal berada. Begitu pintu kayu jati ganda itu tertutup dengan bunyi klik yang solid, atmosfer santai tadi resmi berakhir. Binar kilau mentari yang merasuk masuk melalui jendela tinggi tidak lagi terasa hangat; cahayanya terasa menyorot tajam, menerangi debu-debu yang menari di atas meja mahoni penuh tumpukan dokumen.

Dedrick duduk di kursi kebesarannya, sementara Devries menempati kursi di hadapannya. Tidak ada lagi pembicaraan tentang silinder atau supercharger. Kini, mereka berhadapan dengan mekanika kekuasaan yang jauh lebih rumit.

“Tunjukkan padaku,” ujar Dedrick, suaranya kembali ke nada komando yang presisi.

Devries membuka tas kulitnya. Ia tidak langsung menyerahkan berkas, melainkan menyusunnya di atas meja dengan simetri yang sempurna—ujung kertas yang sejajar dengan tepian meja mahoni. Dev mengeluarkan bundel dokumen yang telah ia susun dengan ketelitian seorang kurator; kertas-kertas itu bersih tanpa noda, diketik dengan mesin tik terbaru yang pitanya masih tajam.

“Ini adalah Audit Transisi,” suara Devries tenang tanpa mengurangi wibawanya, tidak ada keraguan dalam intonasinya. “Laporan kinerja semester terakhir telah saya bedah hingga ke margin laba kotor di setiap pelabuhan. Termasuk neraca arus kas, daftar kontrak aktif, hingga konsesi logistik yang selama ini dianggap sebagai biaya mati. Semuanya sudah saya strukturkan agar Ayah bisa menyampaikannya sebagai pencapaian akhir masa jabatan yang tak terbantah. Tidak ada celah bagi dewan direksi untuk melakukan interupsi,”

Dedrick menarik dokumen itu, kacamata baca berlensa plus yang cukup tebal sudah bertengger di hidung. Namun, Devries belum selesai. Ia menyodorkan bundel kedua—sebuah peta jalan kepemimpinan yang ia susun dalam beberapa malam tanpa tidur di vilanya, di bawah cahaya lampu minyak yang menyiksa mata.

“Visi lima tahun ke depan,” lanjut Devries, jemarinya menunjuk pada grafik pertumbuhan yang digambarnya manual. “Ekspansi jaringan memperluas teritorial perkebunan tidak hanya di Jawa Timur melainkan seluruh Jawa, stabilitas politik dengan otoritas Batavia melalui lobi-lobi logistik, dan strategi mitigasi konflik jika ada resistensi dari faksi direksi lama yang mungkin masih setia pada gaya kepemimpinan konservatif. Saya juga sudah menyertakan profil psikologis singkat dari setiap anggota dewan yang saya pertahankan berdasarkan struktur baru dalam kepemimpinan saya, di lampiran terakhir,”

Ia berhenti sejenak, menatap mata Ayahnya dengan intensitas yang melampaui usianya. “Di halaman paling belakang, saya sudah menyusun kerangka pidato untuk podium besok. Setiap diksi telah saya timbang bobot politisnya. Intinya satu: menyatukan otoritas lama Ayah sebagai fondasi yang kokoh, dengan janji masa depan yang saya bawa sebagai kemajuan yang tak terelakkan.”

Dedrick terdiam, jemarinya meraba tekstur kertas berkualitas tinggi itu. Ia menyadari satu hal dengan kebanggaan tak terkira: bahwa Devries kecil yang dulu berlarian membawa laporan penilaian sekolah tentangnya sebagai siswa terbaik, kini tengah membawa rancangan sebuah imperium yang telah dipoles hingga mengkilap, siap untuk digunakan sebagai senjata jika ada yang berani menghalangi jalan mereka.

Ruangan itu hening, hanya dihuni oleh gesekan kertas yang terdengar seperti asahan pedang di tangan Dedrick. Sang Jenderal berhenti di satu halaman krusial. Matanya menyipit, menatap barisan data tentang diversifikasi logistik yang disusun dengan kalkulasi yang terbilang—cukup berisiko, tetapi sangat memungkinkan untuk dipertimbangkan.

“Kau memasukkan poin tentang pengambilalihan paksa rute distribusi di perbatasan wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah sebagai langkah awal ekspansi teritorial perkebunan tebu di seluruh Jawa?” Dedrick bergumam, nada suaranya tertahan antara tidak percaya dan kekaguman yang meluap. Ia mendongak, menatap putranya seolah sedang melihat sisi paling tajam dari berlian yang ia asah selama lima tahun di Eropa. “Detail ini.. bahkan Dewan Direksi yang paling agresif pun tidak berani menyentuhnya sedari lama. Mereka terlalu nyaman dengan zona aman di Jawa Timur,”

Namun, bukan hanya itu yang membuat jemari Dedrick berhenti membalik halaman. Di bawah tajuk rencana strategis pasca-serah terima jabatan, ia menemukan sebuah klausul yang jauh lebih berani: rencana negosiasi tingkat tinggi dengan Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM)[1].

“Menggandeng NHM?” Dedrick mengangkat alisnya, suaranya kini sarat dengan rasa ingin tahu.

“Gula bukan lagi sekadar komoditas krusial, Ayah,” sahut Devries tenang, tetapi tersirat kilat penuh ambisi dalam sorot netra hitam legam matanya. “Tanpa dukungan pendanaan dan jaringan ekspor raksasa seperti NHM, NJDC hanya akan menjadi tuan tanah di kebun sendiri. Aku berencana menjadikan kita mitra utama mereka. Kita yang menguasai produksi tebu dan pabrikasi, sementara NHM menjamin aliran likuiditas dan membuka pintu pasar Eropa selebar mungkin. Kita tidak hanya akan mengekspor komoditas; kita akan mendominasi arus modalnya. Jadi secara garis besar, berafiliasi dengan NHM akan jauh lebih cepat merealisasikan ekspansi ke seluruh Jawa sekaligus.”

Sebuah decak kagum yang tulus akhirnya lolos dari bibir Dedrick. Ia menyandarkan punggungnya di kursi mahoni, menatap Devries dengan kepuasan yang nyaris mutlak. Rencana ini adalah pukulan telak yang cerdas. Ia bisa sedikit beristirahat lebih tenang dalam purnatugas sebagai Direktur NJDC di usia lanjutnya; karena telah ada Devries sebagai suksesor yang lebih agresif di sana.

“Aku sudah menduga kau siap, Dev. Tapi ini? Kau tahu apa yang sedang kau persiapkan?” Ia menepuk dokumen itu dengan telapak tangannya yang berat. “Ini bukan sekadar persiapan transisi. Kau sedang mengibarkan bendera deklarasi perang terhadap siapa pun yang meragukanmu. Kau tidak sedang memimpin perusahaan yang kukembangkan; kau akan menguasai sektor perekonomian!” sanjung Dedrick memuji.

Dedrick menarik sebuah map berwarna merah marun dari laci mejanya yang terkunci. Ia meletakkannya di atas meja dengan penuh penekanan, seolah benda itu adalah mahkota yang terbuat dari kertas. “Akta Pengangkatan dan Surat Keputusan Dewan sudah rampung. Notaris dan direksi sudah membubuhkan paraf mereka. Semuanya akan disahkan dalam forum tertutup besok pagi, tepat sebelum kita melangkah ke podium untuk seremoni resmi.”

Dedrick mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara meja yang memisahkan mereka. Tatapannya kini bukan lagi tatapan seorang Ayah yang menguji Putra Emasnya, melainkan seorang Penguasa yang memberikan restu mutlak kepada Suksesornya.

“Besok, aku tidak hanya menyerahkan kursi kepemimpinan NJDC padamu,” bisik Dedrick mantap. “Aku menyerahkan seluruh narasi keluarga Dietrich ke tanganmu. Seluruh kejayaan dan semua ambisi kita kini ada di nadimu. Jangan buat sejarah kita menjadi sekadar catatan kaki di arsip kolonial.”

Devries mengangguk pelan, wajahnya setenang permukaan danau tetapi sedalam palung samudra. Di ruang kerja yang sunyi itu, legitimasi telah berpindah tangan dengan sempurna. Ia bukan lagi sekadar anak emas; ia adalah nakhoda baru bagi kapal induk bernama NJDC yang siap menerjang rute-rute baru di seluruh Jawa dan Eropa.

Atmosfer mencekam yang melingkupi sesi konsultasi dan penyerahan laporan akhir jelang serah terima jabatan itu mereda seiring dengan denting es batu dalam gelas brendi Dedrick. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kulit harimau di kursi mahoninya yang berderit rendah, memutar gelas kristal itu perlahan sembari mengalihkan tatapan ke jendela. Di bawah sana, siluet garasi Wisma Wastu mulai memanjang tertimpa cahaya senja, menyimpan monster biru metalik yang baru saja mereka sapa.

“Mobil itu,” suara Dedrick memecah kesunyian, nadanya kini berubah menjadi kasual yang artifisial—sebuah nada yang hanya digunakan saat ia hendak menyamarkan perintah militer menjadi saran domestik. “Sayang sekali jika mesin sekuat itu hanya dibiarkan mendingin di garasi hingga besok pagi. Baja seperti itu butuh ruang untuk bernapas, dan aspal butuh merasakan kuasanya.”

Lihat selengkapnya