Aksara Lara Niraksara

Tarisa Adistia
Chapter #11

1.8 | Bayang Bertamu, Selayang Bertemu

Gemerisik kain yang beradu dengan becek tanah basah selepas hujan kembali terdengar—tipis, nyaris tenggelam oleh deru angin, tetapi cukup nyata untuk membuat saraf Devries menegang. Logika eropanya berteriak bahwa itu hanyalah efek akustik dari bangunan tua yang luas, tetapi insting liarnya justru membisikkan sesuatu yang berbeda. Ada sepasang mata yang tengah menguliti punggungnya dari balik kegelapan pilar.

Mercedes-Benz 770K miliknya sudah terlihat di ujung pandangan, berdiri angkuh di bawah lampu pelataran dengan kilau biru metalik yang menjanjikan keamanan instan. Hanya butuh selusin langkah lagi bagi Devries untuk mencapai pintu baja itu, menghidupkan mesin delapan silindernya, dan meninggalkan keganjilan Wisma Saskara di belakang knalpotnya.

Namun, rasa ingin tahu yang perfeksionis justru menahan tungkainya. Seorang Dietrich tidak akan pulang dengan membawa laporan yang setengah matang, apalagi membiarkan sebuah misteri mengekorinya hingga ke gerbang luar.

Alih-alih melangkah lurus menuju mobil, Devries sengaja membelokkan arah. Dengan langkah yang sengaja diringankan, ia menyelinap masuk ke dalam lorong sempit yang terjepit di antara jajaran bangunan joglo di sisi kiri paviliun. Jalur itu gelap, berliku, dan mengarah jauh ke area halaman belakang yang luput dari jangkauan lampu. Ia sedang melakukan manuver pengepungan; memancing sosok bayangan berbaju putih itu masuk ke dalam jebakan ruang sempit di mana pengejar dan yang dikejar akan segera bertukar peran.

Langkah panjang Devries sengaja dipercepat, menciptakan ritme langkah yang menipu. Sepatu kulitnya menghantam jalan setapak berbatu dengan tekanan yang terukur, sengaja memancing sang penguntit untuk ikut memacu gerak. Di balik ketenangannya, detak jantung Devries mulai berdegup tak karuan—bukan karena takut, melainkan karena adrenalin dari pengejaran yang ganjil ini kian meningkat.

Namun, Wisma Saskara bukanlah medan tempur yang familier bagi sang pewaris Dietrich. Kelihaian Devries dalam mengecoh musuh di jalanan Batavia, seluk-beluk HBS, atau koridor NHH seolah tumpul di sini. Lorong-lorong kayu jati itu seakan bergeser di bawah cahaya bulan yang redup, menjebaknya dalam labirin arsitektur Jawa yang rumit. Dalam satu tikungan tajam di balik lumbung, Devries menyadari kesalahannya: ia justru kehilangan jejak sosok yang ia buru. Keheningan mendadak jatuh, berat dan pekat, hanya menyisakan suara peluh yang meluncur dari pelipisnya.

Di sisi lain kegelapan, dalam celah di antara tumpukan kayu, sepasang mata liar menatap punggung Devries yang terbuka. Menyadari lelaki asing itu tengah kehilangan arah, sang gadis—dengan napas yang ditekan hingga titik nadir—bergerak dalam paranoia yang memuncak. Jemari kurusnya meraba tanah, meraih sebilah balok kayu lapuk dengan paku-paku karatan yang mencuat di ujungnya.

Ia melangkah keluar dari bayangan, bergerak tanpa suara serupa asap. Balok itu diangkat tinggi-tinggi, siap menghantam tengkuk Devries dengan kekuatan impulsif yang tidak mengenal logika.

Namun, tepat sebelum serangan maut itu mendarat, sebuah tangan cekatan muncul dari balik tumpukan karung padi di lumbung pangan. Dengan gerakan yang terlatih oleh ketakutan selama bertahun-tahun, seorang pramusiwi paruh baya menyergap pergelangan tangan kurus gadis itu. Sebuah telapak tangan keriput bertekstur kasar segera membekam mulut sang gadis, meredam jeritan histeris yang nyaris pecah, lalu menyeret tubuh ringkih itu kembali ke dalam kegelapan pekat dari balik lumbung.

Devries berbalik dengan cepat saat mendengar gesekan karung yang halus, tangannya refleks bersiap di balik jas—tetapi yang ditemuinya hanyalah kesunyian kosong. Hanya ada aroma padi kering dan debu bercampur petrikor yang menari di udara. Ia berdiri mematung, menatap kegelapan lumbung dengan mata menyipit, tak menyadari bahwa hanya terpaut beberapa inci dari jangkauan pandangannya, sebuah rahasia besar tengah bernapas dengan sesak di bawah bekapan tangan pelayan tua yang gemetar.

“Apa yang Nona lakukan di sini? Hari sudah larut, Nona harus kembali ke kamar sekarang!” Bi Pariyem berbisik dengan nada tercekat. Wajahnya pucat pasi, matanya bergerak liar memantau bayangan di balik lumbung pangan. Panik merambati suaranya seperti api yang menjalar di tumpukan jerami.

“T-tapi, Bi Pariyem; S-siapa dia?!” suara gadis itu bergetar, setiap kata terputus oleh napas yang memburu dan tremor hebat di jemarinya. Paranoia masa lalu merayap naik, menjerat kesadarannya kembali ke usia dua belas tahun—saat dunia pertama kali hancur baginya. “B-bagaimana kalau penyusup itu berniat j-jahat padaku dan Ayara?”

Rambut hitamnya yang lurus tergerai kusut hingga sepinggang, menutupi separuh wajah dan menyapu matanya yang lebar oleh ketakutan. Dengan gaun tidur putih yang lusuh, ia memang tampak seperti manifestasi horor yang diceritakan penduduk desa; sesosok arwah penasaran yang terjebak di antara dua dunia.

“Beliau tamu Tuan Bupati, Nona. Tidak ada yang akan menyakiti Nona dan Ayara,” Bi Pariyem merangkul bahu ringkih itu, mencoba menyalurkan ketenangan yang ia sendiri tidak miliki. Pariyem lantas menarik paksa gadis itu agar menjauh dari celah kayu. “Ayara sudah aman di tempat persembunyiannya. Kita harus menyusulnya sekarang Nona, mari bergegas cepat sebelum seseorang menemukan kita juga!” alibi itu bekerja. sang Nona mengangguk dalam kepatuhan yang rapuh, dan keduanya segera melesat dalam senyap, hilang ditelan bayang-bayang joglo yang saling berhimpit.

Beberapa detik kemudian, ujung sepatu kulit Devries muncul di ambang lumbung. Ia mendekat dengan gerakan predator, sangat pelan, hingga suara gesekan kain jasnya pun tak terdengar. Namun, saat ia melongok ke balik tumpukan karung padi, ia hanya menemukan kekosongan yang mengecewakan. “Vervloekt[1]! Net niet[2],” geramnya lirih dengan kedua tangan terkepal.

Ia berkacak pinggang, menatap tanah merah tak berumput di bawah kakinya yang sedikit becek. Di sana, tertinggal jejak tapak kaki yang masih basah—dua pasang jejak yang mengarah ke bagian terdalam Wisma Saskara sebelum akhirnya menghilang di antara ubin selasar.

Devries mengedarkan pandangan ke sekeliling. Niat awalnya untuk mengecoh sang penguntit justru membawanya masuk terlalu dalam ke labirin yang tak ia kenali. Wisma Saskara ternyata lebih luas dan menyesatkan dari yang terlihat di depan. Di bawah temaram lampu minyak yang bergoyang ditiup angin, deretan bangunan joglo itu tampak serupa satu sama lain; sunyi, mencekam, dan angkuh. Seolah tiap jengkal kayu ukirannya sengaja dirancang untuk membingungkan pendatang, menjaga rahasia-rahasia terpendam agar tetap tak terjamah oleh mata luar yang terlalu tajam seperti miliknya.

Di tengah labirin joglo yang menyesatkan, fokus Devries terpecah; instingnya meyakini jikalau eksistensi sosok berpenampilan mistis itu pasti sudah pergi. Sementara itu, kengerian lain yang sempat menyinyalir merinding kembali dirasakannya begitu mendengar alunan gamelan yang merayap masuk ke celah-celah indra pendengarannya di tengah magrib. Bukannya merasa takut, rasa penasaran Devries justru tersulut. Langkahnya bergerak mantap menuju bagian terdalam mahligai Saskara, menembus batas pekarangan utama hingga tiba di tepi sebuah kolam cegar buatan. Di sana, sebuah sanggar megah berdiri, berpendar oleh cahaya lampu minyak yang meliuk-liuk tertiup angin.

Sepasang alis Devries terangkat. Segaris senyum samar muncul di sudut bibirnya—bukan senyum ramah, melainkan senyum seorang pemburu yang direstui takdir dalam keberuntungan yang mulus; dari yang semula hanya menaklukkan utusan spionase berkedok undangan diplomatis, hingga secara tidak sengaja menemukan sarang mangsanya bersembunyi.

Lihat selengkapnya