Lagu Puisi milik Jikustik mengalun lirih dari pemutar audio mobil, menyelinap di antara rongga sunyi yang memisahkan dua manusia di dalamnya. Di luar sana, jalanan sore sedang merayap bising. Di balik kemudi, Bumi Aksara membiarkan jemarinya mengetuk setir, mengikuti ketukan irama yang sudah ia hapal luar kepala.
Melodi itu telah menjelma menjadi karib paling setia yang menolak pergi. Berputar berulang kali, entah untuk ke berapa ratus kalinya, menggenapi sepuluh tahun perjalanan sunyi yang ia tempuh sendirian.
Di kursi penumpang, Erlangga Hartawan mengembuskan napas panjang. Desahan berat itu seketika memecah keheningan yang sejak tadi dibangun oleh musik.
"Sampai kapan kamu akan terus memutar lagu itu, Bumi?" keluh Erlangga, melemparkan tatapan jengah ke arah dasbor. "Papa bahkan sudah bisa mengeja liriknya sebelum bait pertama selesai dinyanyikan."
Bumi tidak menyahut. Ia memilih bergeming, membiarkan keheningan kembali menguasai kabin. Sepasang matanya tetap tertuju lurus pada hamparan aspal abu-abu yang membentang tanpa ujung di hadapan mereka.
Pria paruh baya itu akhirnya menoleh, memandangi putra sulungnya yang sore itu masih terbalut jas putih khas dokter. Ada gurat lelah yang samar di sudut mata Bumi, sewarna dengan langit senja yang mulai kehilangan cahayanya.
"Bumi, untuk saat ini hanya kamu yang Papa punya. Hanya kamu harapan Papa. Umur Papa sudah tidak muda lagi..."
"Papa tidak tua. Dan Papa akan selalu sehat," potong Bumi cepat.
Suaranya datar, dingin, nyaris tanpa riak. Bumi sudah sangat jenuh. Setiap hari, di waktu-waktu yang tidak terduga, ia selalu dihadapkan pada desakan yang sama. Sebuah tuntutan agar ia segera menyudahi kesendirian dan mencari pendamping hidup. Sang ayah tidak pernah tahu bahwa di balik jas putih yang tampak rapi dan berwibawa itu, sekeping hati milik Bumi telah lama mati rasa. Bagian retak itu membeku di suatu tempat, tertinggal di masa lalu sejak sepuluh tahun silam.
"Bumi, usia tiga puluh lima itu bukan lagi fajar bagi seorang lelaki," desak Erlangga lagi. Suaranya melembut, namun ada penekanan yang sarat akan beban di setiap suku katanya. "Jika kamu terus menutup diri dan menolak melepaskan apa yang sudah hilang, kamu hanya akan tenggelam dalam penyesalanmu sendiri."
"Nanti, jika sudah saatnya tiba, aku pasti akan menemukannya, Pa," jawab Bumi, berusaha keras memotong percakapan sebelum malam mereka berakhir dengan perdebatan.
Tepat pada detik itu, ketika laju roda mobil merayap pelan mendekati area perempatan jalan, netra Bumi menangkap sekelebat bayangan di tepi trotoar. Seorang gadis mengenakan gaun putih bersih tengah melangkah ragu, bersiap menyeberang jalan.
Bukan warna gaun itu yang membuat pasokan udara di paru-paru Bumi mendadak hilang. Melainkan kilas balik ingatan dari satu dekade lalu yang tiba-tiba datang menghantam isi kepalanya tanpa ampun. Siluet itu, cara angin sore memainkan ujung gaunnya... semuanya menjelma menjadi replika sempurna dari seseorang yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
"Jasmine...?" Bisikan itu lolos begitu saja dari belahan bibir Bumi. Matanya melebar, menatap tak percaya pada figur di seberang sana.
Rasa kebas yang bertahun-tahun merantai dadanya mendadak luruh, digantikan oleh debar ketakutan yang luar biasa. Bumi tersentak dari delusi singkatnya saat menyadari sebuah kenyataan pahit: gadis bergaun putih itu sama sekali tidak menyadari ada bahaya besar yang mengintai dari arah samping. Di tangan kanannya, sebuah tongkat lipat aluminium bergerak ke kiri dan ke kanan, meraba permukaan aspal yang salah. Gadis itu buta, dan ia terus melangkah maju menuju jalur maut.
Bumi bertindak di luar logika. Ia menginjak pedal rem sedalam mungkin, membiarkan gesekan kasar antara ban dan aspal memekik ngilu di telinga. Moncong mobilnya oleng, menghantam pembatas taman kota dengan keras. Dan, sebelum kendaraan itu benar-benar berhenti sempurna, Bumi sudah membuka lalu menghempaskan pintu mobil. Ia berlari secepat yang ia bisa, menerobos celah kendaraan yang berlalu lalang, dorongan yang membakar isi kepalanya: ia tidak boleh membiarkan "Jasmine" hilang untuk kedua kalinya.
Guncangan hebat akibat rem mendadak itu melemparkan tubuh Erlangga ke depan. Dahinya membentur keras permukaan airbag, meninggalkan rasa pening yang berputar-putar. Sambil meringis memegangi kepalanya, ia mencoba mendongak, tepat ketika sebuah suara hantaman yang mengerikan mengoyak udara perempatan.
Sebuah truk kontainer kehilangan kendali di jalur berlawanan. Kendaraan itu menyeret besi-besi tua, menghantam deretan mobil hingga memicu kecelakaan karambol yang masif. Dalam hitungan detik, ruang pandang Erlangga dipenuhi oleh kepulan asap hitam, debu jalanan, dan pecahan kaca yang beterbangan seperti hujan kristal yang kelam.