Seorang gadis bergaun putih melangkah tanpa arah, tersesat di bawah langit kota yang mulai meremang. Ia telah kehilangan satu-satunya jangkar yang selama ini menuntun dunianya yang gelap menuju jalan pulang. Tubuhnya masih bergetar hebat, sisa dari syok atas petaka yang nyaris merenggut nyawanya beberapa saat lalu. Kedua tangannya terangkat, meraba-raba udara hampa dengan jemari yang gemetar, mencoba mencari pegangan di tengah kekosongan.
Langkah kakinya yang ragu tak jarang harus membentur tiang jalan atau pot tanaman di trotoar. Rasa sakit di lututnya kalah oleh ketakutan yang kian mencekik dada.
"Ya Allah, bagaimana caranya aku bisa pulang? Bunda pasti menangis lagi seperti kemarin," gumam gadis itu. Suaranya bergetar, berbicara pada angin sore yang dingin seolah angin bisa mengantarkannya kembali ke rumah.
"Adakah seseorang di sini? Tolong saya..." panggilnya lirih. Kalimat itu mengambang terlalu pelan hingga mungkin hanya telinganya sendiri yang mampu mendengar keputusasaan itu.
Sementara itu, di sebuah bangku taman kota yang tak jauh dari sana, sesosok pemuda duduk dengan kedua tangan melipat di depan dada. Di matanya, sama sekali tidak ada riak empati. Untuk ukuran manusia normal yang melihat seorang gadis tunanetra kebingungan, ia terlampau dingin. Ia hanya menonton, menatap datar tanpa ada niat sedikit pun untuk beranjak dari duduknya.
"Untuk apa aku menyusahkan diri memikirkan orang lain yang masih punya masa depan? Toh, takdir sendiri tidak pernah berpihak padaku," gumam pemuda itu tak acuh. Bisikan sinis itu ditujukan untuk menertawakan nasibnya sendiri, meski sepasang matanya tetap tak lepas dari sang gadis yang terus berjalan limbung.
Hingga akhirnya, langkah kaki gadis bergaun putih itu membentur pembatas kayu. Itu adalah bangku taman yang sama, tempat di mana sang pemuda sedang memeluk kemarahannya pada dunia.
Gadis itu tidak tahu keberadaan si pemuda, namun kalimat yang lolos dari belahan bibirnya seketika membuat pemuda itu membeku di tempat.
"Alhamdulillah, akhirnya ketemu bangku juga. Aku tidak lagi berada di tengah jalan raya," desak gadis itu, bernapas lega seraya mengusap dadanya sendiri dengan penuh rasa syukur.
Pemuda itu tertegun. Ada sentilan tak kasat mata yang menghantam egonya. 'Dia... masih bisa mengucap syukur di dalam keterbatasan yang sekadar itu?' batinnya, kini memandangi gadis di sebelahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ia tetap diam, mengamati gerakan tangan sang gadis yang mulai meraba-raba ritsleting tas yang tersampir di pundak. Setelah beberapa saat mencari, gadis itu berhasil mengeluarkan sebuah ponsel.
Melihat benda di tangan gadis itu, pemuda tersebut menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis. "Bahkan di zaman sekarang, dia masih menggunakan ponsel kuno dengan tombol fisik," gumamnya pelan, sesaat melupakan fakta bahwa gadis yang duduk di sisinya itu memang membutuhkan tombol timbul untuk mengenali angka.
Tak lama setelah jemari gadis itu meraba dan menekan tombol pintas, suara di ujung telepon langsung terdengar. Volume suaranya cukup keras di tengah sunyinya sudut taman, menyuarakan kecemasan yang membubung tinggi.
"Senja! Kamu di mana? Ayah cari-cari dari tadi tidak ketemu!"
"Aku tidak tahu ini di mana, Yah," jawab gadis yang di panggil Senja itu, suaranya mulai tenang namun menyiratkan lelah. "Tongkat penuntunku hilang saat aku sampai di perempatan jalan kota tadi."
"Baiklah, Ayah mengerti. Diam di sana, jangan bergeser sedikit pun. Ayah akan mencari kamu sekarang."
Sambungan telepon itu terputus. Sudut taman kembali hening. Sang pemuda kini tahu, nama gadis bergaun putih itu adalah Senja. 'Nama yang indah,' batinnya sekilas, namun ia memilih kembali larut dalam dunianya sendiri. Tanpa berniat membuka obrolan atau menyapa Senja, ia menunduk, mulai menghitung mundur sisa waktu yang ia miliki dalam hidupnya.
Lamunannya pecah ketika ponsel di dalam saku celananya bergetar panjang. Sebuah pesan singkat masuk, mengusik ketenangannya. Ia segera membuka layarnya.
"Mas Bima, di mana? Biar saya jemput sekarang. Mas Bumi kecelakaan, tidak bisa menjemput Mas Bima."
Detik itu juga, ponsel di genggaman Bima jatuh, menghantam tanah. Kalimat dari Pak Rahmat—sopir pribadinya—terasa seperti gada berat yang memukul kesadarannya. Kakaknya kecelakaan. Tanpa memedulikan eksistensi Senja yang masih duduk termangu di sampingnya, Bima bangkit berdiri. Ia melangkah pergi begitu saja, berlari meninggalkan taman tanpa menoleh lagi.