Aksara Untuk Senja

Ririna Rew
Chapter #3

Chapter tanpa judul #3


Tiga bulan telah berlalu sejak badai petaka di perempatan kota itu meremukkan ketenangan keluarga Erlangga.

Sore itu, udara terasa sedikit menusuk kulit. Bima melintas di kawasan taman kota, dalam perjalanan pulang setelah melakukan kontrol rutin di rumah sakit.

Saat matanya menatap malas ke luar jendela, gerakan tubuhnya mendadak terkunci. Netranya menangkap sesosok familier yang beberapa bulan lalu sempat mengusik ketenangannya. Gadis itu sedang berada di sana, menyeberangi jalur zebra cross dengan langkah yang tampak tenang. Di tangan kanannya, sebuah tongkat penuntun yang masih baru bergerak mengetuk aspal.

Bima tertegun. Ia menyaksikan bagaimana gadis itu melintas dengan mantab di antara deru ratusan mobil dan motor yang saling berkejaran. Tidak ada raut ketakutan di wajahnya, seolah ia sama sekali tidak peduli andai maut tiba-tiba datang menjemput.

Seketika, tamparan keras kembali menghantam ulu hati Bima. Ia, yang selama ini gemetar ketakutan dan mengutuk dunia sejak divonis menderita gagal jantung stadium akhir, justru kalah berani dari seorang gadis yang berjalan melenggang santai tanpa bisa melihat bahaya apa pun yang sedang mengintainya.

Bima terus memaku pandangannya pada gadis itu hingga gadis itu berhenti tepat di bangku taman kota—bangku yang sama dengan tiga bulan lalu.

"Apa memang dia sudah terbiasa ke sini sendirian?" gumam Bima lirih pada kaca mobil yang tertutup.

Lampu lalu lintas di depan mereka berganti hijau. Pak Rahmat sudah bersiap menginjak pedal gas untuk melaju, ketika tiba-tiba suara Bima memecah keheningan kabin.

"Pak, putar balik. Saya mau ke taman."

"Tapi, Mas Bima... tadi Bapak pesan supaya Mas Bima langsung pulang dan segera istirahat," Pak Rahmat mencoba mengingatkan dengan nada sehalus mungkin.

"Aku tahu aku sakit, Pak. Nggak usah diperjelas," potong Bima cepat, nadanya mendadak berubah. "Tapi aku juga butuh udara. Bukan cuma duduk diam di dalam rumah seolah-olah aku ini manusia lumpuh."

Pak Rahmat seketika terdiam. Ia sama sekali tidak berniat menyinggung perasaan anak majikannya, namun karena ia sudah paham bahwa pemuda di kursi belakang ini memang menjadi sangat sensitif sejak divonis sakit.

"Baik, Mas. Saya akan tunggu di seberang jalan."

"Pak Rahmat pulang saja. Aku bisa pulang sendiri nanti pakai taksi. Aku butuh kebebasan, bukan pengawasan," ujar Bima tak ingin di debat.

Pria paruh baya itu tidak lagi membantah. Ia hanya mengangguk patuh, tidak ingin memancing emosi Bima yang bisa berakibat buruk pada dadanya yang ringkih. "Baik, Mas. Nanti kalau butuh apa-apa, tolong hubungi saya ya."

Bima tidak menjawab. Ia langsung turun dari mobil, menutup pintu dengan sedikit hentakan, lalu melangkah lebar menuju area taman.

Sore itu, taman kota tampak begitu hidup. Riuh tawa anak-anak kecil yang berlari ke sana kemari dengan ceria. Ada yang sibuk membawa bola plastik, ada yang berkejaran tanpa arah, dan beberapa lainnya asyik bermain ayunan. Namun, satu-satunya objek yang menjadi pusat gravitasi mata Bima hanyalah gadis itu.

"Senja..." gumam Bima, menyuarakan nama yang beberapa bulan lalu sempat ia curi dengar dari sambungan telepon. "Aku nggak nyangka bakal ketemu kamu lagi di sini."

Lihat selengkapnya